Sunday, January 30, 2022
Wednesday, January 26, 2022
Ilmuwan Menemukan Planet Misterius yang Sangat Hitam dan Gelap
Tuesday, January 25, 2022
Misteri Bangunan Hexagon di Saturnus, Mungkinkah Planet Itu Ada Penghuninya?
Monday, January 24, 2022
Kisah Bangsa Nisnas, Makhluk Pertama di Bumi yang Hidup Bersama Dinosaurus
Sunday, January 23, 2022
Kisah Penemuan Fosil yang Mengubah Sejarah Manusia
Saturday, January 22, 2022
Ahli Forensik Merekonstruksi Wajah Wanita Druid Kuno Berusia 2.000 Tahun
Thursday, January 20, 2022
Kerangka Sepasang Kekasih di Tiongkok: Bukti Pengorbanan Cinta
Cinta sehidup semati", sebuah ungkapan yang sering kita dengar dari cerita romansa yang sekilas terkesan hubungan percintaan yang abadi. Frasa itu bisa ditemukan dalam pengorbanan cinta ala Romeo dan Juliet yang dibuat William Shakespeare.
Bukan sekadar kisah fiksi belaka. Beberapa temuan arkeologis telah menemukan kerangka dua sejoli yang membawa cintanya hingga kepada kematian, dan mati bersama dalam pelukan. Seperti kerangka 'Sejoli Hasanlu' di Iran terkadang disebut sebagai ciuman terabadi, dan 'Sejoli dari Modena' di Italia yang keduanya berjenis kelamin pria.
Sedangkan yang terbaru, para arkeolog menemukan sisa kerangka dua kekasih yang terkubur bersama sejak 1.500 tahun silam. Mereka menemukan kuburan itu pada Juni 2020 di Xianbei, kawasan utara Tiongkok.
Kerangka kekasih itu adalah seorang pria dan wanita yang menggunakan cincin logam di jari manis kirinya. Para peneliti lewat makalah berjudul Eternal love locked in an embrace and sealed with a ring: A Xianbei couple's joint burial in North Wei era, China (386-534 CE) di International Journal of Osteoarchaeology memperkirakan, perempuan itu mengobarkan dirinya agar bisa dimakamkan bersama lakli-laki yang kemungkinan adalah suaminya.
Dugaan itu disebabkan penguburan laki-laki dan perempuan dalam satu liang adalah hal yang jarang di Tiongkok. Sedangkan kondisi kerangka ini saling terkunci dalam pelukan dengan kesan cinta yang berani. Para peneliti menulis, kerangka seperti ini adalah jenis yang pertama di negera itu, dan mungkin mencerminkan perubahan sikap budaya tentang cinta.
"Ini adalah [pasangan] pertama yang ditemukan dalam pelukan cinta, seperti itu, di mana saja kapan saja di Tiongkok," ujar pemimpin penelitian Qian Wang, dikutip dari Live Science. Dia adalah seorang profesor Department of Biomedical Sciences di Texas A&M College of Dentistry.
Karena terbilang unik kuburan pasangan itu, para arkeolog memutuskan untuk tidak menggali sisa-sisa kerangka itu sepenuhnya. Tim penelitian itu membiarkan mereka saling terjalin agar keduanya bisa dipajang di pameran museum di masa mendatang.
edangkan yang wanita, dia cukup sehat ketika meninggal. Tingginya sekitar 157,1 sentimeter, dengan masalah sedikit di gigi, seperti gigi berlubang, dan diperkirakan meninggal saat berusia antara 35 hingga 40 tahun.
Cincin yang digunakan di jari manisnya itu diperkirakan adanya pengaruh "oleh kebiasaan dari wilayah barat dan sekitarnya yang dibawa lewat Jalur Sutra ... dan asimilasi masyarakat Xianbei, yang mencerminkan intergrasi budaya Tiongkok dan Barat," ujar Wang
Areal pemakaman di Xianbei ini berisi sekitar 600 kuburan. Jika dilihat dari letak kawasannya, daerah ini berada di kekuasaan kelompok nomaden kuno di Tiongkok utara yang berasimilasi dengan budaya masa Dinasti Han, dan Wei Utara. Ciri budaya itu diungkap para arkeolog juga berkat barang keramik yang ditemukan di kuburan.
Jika ditilik dari budaya pada milenium pertama, ketika pasangan ini masih hidup, kemampuan untuk mengekspresikan dan mengejar cinta secara bebas di Tiongkok menjadi hal yang 'menonjol' secara budaya, tulis para peneliti.

Ada banyak kisah cinta fiksi hingga catatan sejarah tentang orang-orang yang mengorbankan nyawanya sendiri demi cinta. Wang berpendapat bahwa sang wanita mengejar cinta dan mati dengan bunuh diri demi penerimaan cinta yang belum tersampaikan.
"Pertunjukkan unik dari rasa cinta manusia dalam kuburan, menawarkan pandangan langka perjalanan menuju cinta, kehidupan, kematian, dan kehidupan setelah kematian," Wang berpendapat.
Namun keadaan yang menyebabkan sepasang kekasih ini masihlah misteri yang belum dipecahkan para peneliti.
Para arkeolog juga menemukan dua pasangan lain yang terkbur bersama di areal sekitar. Namun, pasangan lain ini tidak berpelukan dengan erat, dan para wanita tidak mengenakan cincin, terang Wang.
Yang jelas, siapa pun yang menguburkan pasangan itu pasti melakukannya dengan hati-hati. Sebab tubuh pria itu melengkung ke arah wanita, dan lengan kirinya terletak di bawah tubuh si wanita. Lengan kanan pria itu juga memeluknya, dengan tangan yang bertumpu di pinggang.
Tubuh wanita itu ditempatkan dalam posisi untuk dipeluk. Kepalanya menghadap sedikit ke bawah, yang diperkirakan wajahnya bisa bersandar di bahu pria, dan lengan yang memeluk tubuh pria.
Para peneliti menyajikan perkiraan lainnya bagaimana pasangan itu bisa berakhir di liang yang sama. Sepasang kekasih ini tidak meninggal pada saat yang sama karena kekerasan, penyakit atau keracunan, sebab belum ada bukti yang kuat terkait itu.
Kemungkinan lainnya adalah wanita yang lebih meninggal lebih dulu, dan sang suami mengorbankan dirinya sendiri. Namun pendapat itu adalah kemungkinan kecil, karena wanita tersebut tampaknya memiliki kesehatan yang lebih baik dari pasangannya, ujar Wang.
Dianggap Titisan Dewa, Genghis Khan Punya Misi Surga untuk Mendominasi
Friday, January 14, 2022
Legenda Olitiau
Olitiau adalah makhluk cryptid berwujud kelelawar atau reptil terbang raksasa yang dihipotesiskan ada di Afrika Tengah.
Kata Olitiau kemungkinan berasal dari perpaduan kata Ipulo "Ole" dan "Ntya", sebuah nama untuk tarian topeng seremonial yang digunakan untuk mewakili setan.
Nama itu bisa digunakan oleh penduduk asli Ipulo untuk menyebut setan secara umum, bukan untuk makhluk itu sendiri.
Olitiau dikatakan memiliki sayap selebar 6 - 12 kaki (1,8 sampai 3,6 meter). Tubuh mereka diduga berwarna hitam, dan sayap mereka digambarkan berwarna seperti coklat tua atau merah.
Rahang bawah mereka dikatakan memiliki gigi berukuran 2 inci, gigi bergerigi dengan jarak yang sama antara masing-masing gigi.
Ketika berburu hammer-headed fruit bat di Kamerun Selatan, Ivan T. Sanderson mengklaim bahwa Olitiau menukik ke arahnya dan ke pendamping perburuannya, Gerald Russell, di sepanjang sungai pegunungan pada tahun 1932.
Dia menyebutnya sebagai "kakek dari semua kelelawar".
Insiden yang dialami Sanderson sering digunakan sebagai contoh dari penampakan Kongamato.
Beberapa penjelasan untuk Olitiau telah diusulkan, dan terdaftar sebagai berikut :
Hammer-headed bats (kelelawar berkepala palu)
Kelelawar tersebut memiliki lebar sayap terbesar dari semua kelelawar di Afrika, yaitu sampai satu meter. Sangat mungkin bila Hammer-headed bat dilihat secara dekat dalam waktu sekejap, bisa tampak berukuran lebih besar.
Pterosaurus hidup
Meski Sanderson bersikeras bahwa apa yang dilihatnya adalah kelelawar, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa pterosaurus memiliki rambut atau struktur seperti rambut yang dikenal sebagai pycnofibers (salah satu flamen yang menyusun rambut pterosaurus).
Spesies kelelawar besar tidak diketahui
Karl Shuker mengikuti pernyataan Sanderson dalam menyarankan binatang tersebut mungkin termasuk "subordo" (suborder) dari microchiroptera.
| Microchiroptera |
Kemungkinan lain menduga bahwa Olitiau adalah anggota spesies kelelawar besar yang telah diketahui, namun mengalami pertumbuhan abnormal, sehingga memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari ukuran rata-rata spesiesnya.
(Sumber : wikipedia, cryptidz.wikia)
Wednesday, January 12, 2022
Legenda Kura-kura Danau Hoàn Kiếm
Selama bertahun-tahun, beberapa orang telah melaporkan adanya penampakan kura-kura raksasa yang terlihat di Danau Hoàn Kiếm yang terletak di Hanoi, Vietnam. Namun, masyarakat setempat lebih percaya, jika binatang ini tidak lebih dari sekedar mitos dan legenda setempat, yang telah diceritakan secara turun-temurun.
Danau Hoàn Kiếm atau dalam bahasa Vietnam memiliki arti "Danau kembalinya pedang" adalah sebuah danau yang terletak di pusat Hanoi, ibukota Vietnam.
Kedalaman rata-rata di danau ini sekitar 3,9 kaki (1,2 meter) dengan kedalaman maksimal 6,6 kaki (2 meter).
Danau ini terkenal dengan Legenda tentang seekor kura-kura raksasa yang hidup di sekitar danau, dan pertemuan kura-kura itu dengan Raja Lê Lợi.
Sebuah bangunan bernama Turtle Tower (Tháp Rùa) dapat terlihat berdiri kokoh di pulau kecil yang berada tengah danau.
Menurut sebuah legenda yang berasal dari abad ke-15, atau lebih tepatnya pada awal 1428. Seorang Raja bernama Lê Lợi, atau yang juga dikenal sebagai Lê Thái Tổ, konon telah mengalahkan penjajah dari Cina dengan bantuan sebuah pedang sihir atau pedang ajaib Thuận Thiên (Heaven's Will) yang diberikan kepadanya oleh para dewa.
Setelah kemenangan tersebut, dia akhirnya menjadi raja. Satu tahun setelah naik tahta, Raja Lê Lợi sedang berada di sebuah kapal naga yang berlayar mengelilingi danau Hồ Lục Thủy (Green Water Lake), tepat berada di depan istananya.
| Patung Raja Lê Lợi sedang memegang pedang Heaven's Will bersama dengan seekor kura-kura di sisinya |
Ketika mereka berada di tengah danau, seekor kura-kura raksasa dengan cangkang emas (Kim Qui) muncul dari bawah permukaan air. Lê Lợi memerintahkan kapten untuk melambatkan kapal, dan pada saat yang sama, pedang sihir yang berada di ikat pinggangnya bergerak dengan sendiri.
Kura-kura raksasa itu lalu mendekat ke arah kapal yang dinaiki raja, dan dengan suara manusia, ia meminta sang raja untuk mengembalikan pedang ajaib itu kepada tuannya, Long Vương (Raja Naga) yang konon hidup di bawah air.
Lê Lợi akhirnya mengetahui bahwa pedang itu hanya dipinjamkan kepadanya untuk menjalankan tugasnya, tapi sekarang harus dikembalikan kepada pemilik aslinya. Lê Lợi lalu mengeluarkan pedang dari sarungnya dan melemparkannya ke arah-kura itu.
Dengan cepat kura-kura itu membuka mulutnya dan menyambar pedang itu dengan giginya. Ia lalu turun ke dalam air dengan pedang yang berkilau di mulutnya, dan dalam waktu lama, cahaya yang berkedip-kedip dapat terlihat di kedalaman danau yang keruh.
Sejak saat itu, orang-orang memberi danau itu dengan nama Hồ Gươm (Danau Pedang) atau Hồ Hoàn Kiếm (Danau Pedang Kembali).
| Ilustrasi pertemuan Raja Lê Lợi dengan Kura-kura emas (Kim Qui) |
Cerita ini telah diturunkan dari generasi ke generasi dan dicatat dalam buku sejarah, buku sekolah, maupun dalam pertunjukan teater boneka di Hanoi, yang menceritakan tentang perjumpaan raja Lê Lợi dengan kura-kura legendaris di Danau Hoàn Kiếm.
Tidak ada bukti nyata tentang keberadaan kura-kura raksasa di danau ini, sampai tanggal 2 Juni 1967, ketika perusahaan makanan Hanoi berhasil menangkap seekor kura-kura raksasa yang berasal dari danau.
Binatang tersebut memiliki berat sekitar 200 kg dengan panjang sekitar 2 meter. Awalnya mereka akan menjual daging binatang tersebut, namun Komite rakyat Hanoi beserta walikotanya, menghentikan usaha penjualan tersebut.
Sayangnya, kura-kura itu akhirnya mati karena luka yang diakibatkan oleh jaring nelayan dan kabarnya kura-kura tersebut dipukul dengan linggis, agar bisa ditangkap dengan mudah.
Tubuhnya diawetkan dan dipajang di tempat suci (Ngoc Son Temple). Sampai saat itu, tidak ada yang tahu pasti apakah kura-kura lain dari spesies tersebut masih hidup di sekitar danau.
Pada tanggal 24 Maret 1998, seorang kameramen amatir berhasil menangkap kura-kura di danau dalam bentuk video, dan meyakinkan orang-orang bahwa makhluk mitos itu masih bertahan hidup di dasar danau.
Video tersebut langsung ditayangkan di televisi Vietnam, stasiun televisi itu juga mengklaim bahwa telah terjadi penampakan kedua pada tanggal 5 April.
Sebelum penampakan tersebut, kura-kura ini hanya dianggap sebagai makhluk mitos atau legenda setempat dan diklasifikasikan sebagai makhluk cryptid.
Meskipun penampakan dari beberapa saksi mata mengatakan ada lebih dari dua kura-kura yang tinggal di danau, seorang ahli biologi di Universitas Nasional Hanoi, Profesor Hà Đình Đức mengatakan : "Hanya ada satu kura- kura yang tinggal di danau".
Dia telah meneliti kura-kura ini sejak tahun 1991, dengan mengumpulkan lebih dari 300 foto kura-kura Danau Hoàn Kiếm dan juga mendengarkan banyak cerita tentang kura-kura ini.
Hewan yang dulunya dianggap hanya makhluk mitos dan legenda, perlahan keberadaanya mulai diakui oleh masyarakat setempat.
Profesor Hà Đình Đức mengatakan : "Hewan Hoan Kiem adalah penyu air tawar terbesar di dunia, berukuran panjang 2 meter dengan berat bisa mencapai 200 kilogram."
Kura-kura ini sudah menjadi bagian dari budaya dan sejarah Hanoi, bahkan hewan ini disebut sebagai Cụ Rùa, yang berarti kakek buyut kura-kura. Bagi banyak orang, kura-kura ini adalah makhluk suci, dan banyak juga orang yang memotretnya, lalu menyimpan di altar untuk disembah.
"Saya membandingkannya dengan penyu air tawar lainnya di tempat lain di dunia dan saya melihat perbedaan yang nyata. Saya berharap studi lebih lanjut akan menunjukan bahwa ini adalah spesies baru."
"Saya percaya kura-kura yang tinggal di danau ini adalah hewan yang mengambil pedang Raja Lê Lợi, karena spesies ini bisa hidup selama 500 tahun, bahkan sampai 700 tahun."
Menurut Đức, salah satu teori tentang asal usul penyu ini adalah bahwa Raja Lê Lợi sendiri membawa hewan tersebut dari provinsi Thanh Hóa untuk melepaskan mereka di Danau Hoàn Kiếm.
Dia juga menjelaskan jika kura-kura yang tinggal di danau Hoàn Kiếm bisa dikenali dengan titik putih dikepalanya.
Kura-kura ini dikabarkan sangat berkaitan erat dengan spesies Trionychidae (penyu bercangkang lunak) dan Rafetus Swinhoei (kura-kura bercangkang lunak yang langka).
| Trionychidae |
| Rafetus Swinhoei |
Seorang mantan guru sekolah, yang kemudian menjadi seorang fotografer amatir bernama Ngo, mengatakan : "Foto saya menunjukan bahwa tidak hanya ada satu kura-kura di danau", menurutnya di danau tersebut sebenarnya hidup lima ekor kura-kura.
Dia juga mulai memperhatikan hewan ini saat pertama kali melihat penampakannya pada tahun 2002, dan mengoleksi lebih dari 300 foto reptil. Salah satu foto favoritnya adalah ketika orang-orang datang mengunjungi Danau Hoàn Kiếm dan secara mengejutkan, kura-kura tersebut muncul untuk menyambut mereka.
Walaupun memiliki pendapat yang berbeda, keduanya mengaku mencintai dan menghormati kura-kura tersebut. Seorang ahli biologi penyu terkenal, Peter Pritchard percaya bahwa spesimen yang tersisa tidak lebih dari lima ekor saja.
Alasannya adalah karena Danau Hoàn Kiếm berukuran kecil dan dangkal, berukuran 200 meter dengan panjang 600 meter dan hanya memiliki kedalaman 2 meter saja. Selain itu, danau ini juga sangat tercemar dan terancam oleh adanya perbaikan kota disekitarnya.
Meskipun hewan ini dapat hidup di bawah air tanpa batas, dan sesekali muncul di permukaan untuk mengirup udara segar, tetap saja kelangsungan hidup hewan ini sangat terancam.
Pada musim semi tahun 2011, pemerintah kota mulai mencoba menangkap kura-kura raksasa di Danau Hoàn Kiếm, Penangkapan tersebut dibantu sebuah operasi yang melibatkan anggota militer Vietnam.
Pada tanggal 9 Februari, seorang pemilik peternakan penyu setempat dipilih untuk menyiapkan jaring yang sesuai untuk menangkap hewan suci tersebut.
Usaha pertama yang mereka lakukan pada tanggal 8 Maret ternyata gagal, karena kura-kura itu berhasil lolos dengan cara membuat lubang pada jaring yang mencoba menangkapnya. Mereka mengatakan "ulit untuk menangkap kura-kura bercangkang lunak yang berukuran sangat besar."
Pada 11 Februari 2011, ketika kura-kura ini muncul ke permukaan air dan berdiam diri di tepi danau, hewan ini terlihat memiliki luka di bagian tubuhnya.
3 Maret 2011, luka yang ada pada tubuh kura-kura ini semakin parah dan kondisi kesehatannya terlihat memburuk. Setelah mengetahui hal ini, pada keesokan harinya sebuah tangki khusus dibuat untuk perawatan kura-kura ini.
Pada 3 April 2011, kura-kura tersebut berhasil ditangkap dan untuk sementara dipindahkan ke sebuah tangki khusus yang dibangun di pulau kecil yang berada di tengah danau, agar hewan tersebut mendapat perawatan medis.
Setelah dilakukan penelitian melalui tes DNA, mereka mengkonfirmasi bahwa kura-kura di danau Hoàn Kiếm ini adalah spesies baru dan mereka menamainya dengan nama ilmiah Rafetus Vietnamensis.
Pada bulan Juli 2011, setelah mendapatkan perawatan medis, kura-kura seberat 169 kilogram ini dikembalikan kembali ke danau Hoàn Kiếm.
Selama berada di tangki khusus, hewan ini mendapat perawatan pada bagian yang mengalami luka-luka dan juga diberi makan yang teratur, itulah sebabnya sebelum dikembalikan kembali ke danau, kondisi dari kura-kura ini terlihat membaik dan juga ukurannya semakin bertambah besar.
Kura-kura ini terlihat kembali pada 30 desember 2014.
| Kura-kura penghuni Danau Hoàn Kiếm bersama Profesor Hà Đình Đức |
Foto di bawah ini bisa disebut sebagai salah satu foto terakhir yang memperlihatkan kura-kura Danau Hoàn Kiếm ketika berada di dekat Turtle Tower.
Foto ini diambil pada tanggal 21 Desember tahun 2015.
Kura-kura yang dikenal sebagai Cụ Rùa (Kake buyut kura-kura) ini dilaporkan mati pada tanggal 19 Januari 2016.
Seorang penduduk lokal melihat tubuh kura-kura itu mengambang di danau dan langsung melaporkannya ke pihak berwenang.
Berat dari kura-kura tersebut mencapai sekitar 200 kilogram dan dikabarkan berusia lebih dari 100 tahun. Menurut info yang beredar, tubuh dari kura-kura tersebut disimpan di sebuah kuil yang terletak di sekitar danau.
Tim McCormack, dari program penyu Asia, mengatakan : "Ini adalah pukulan besar untuk kehilangan kura-kura yang mungkin spesies paling langka di planet ini."
"Ini jelas binatang purba, saya dengan mudah mengatakan usianya pasti lebih dari 100 tahun." Ujarnya.
Sebuah surat kabar di Thanh Nien, mengatakan : "Ini adalah berita buruk bagi banyak orang di Hanoi."
Setelah kematian kura-kura legendaris ini, kini hanya tersisa 3 spesimen dari kura-kura raksasa Yangtze yang diketahui masih hidup di bumi.
Dua berada di kebun binatang Suzhou di China, dan satu lagi berada di danau Dong Mo, Vietnam.
| Kedua kura-kura yang berada di kebun binatang ini berusia lebih dari 100 tahun. Jika ahli biologi tidak dapat segera mengembang biakan spesies ini, dikhawatirkan spesies ini akan punah. | |
| Kura-kura spesies Rafetus Swinhoei yang masih bertahan di danau Dong Mo,Vietnam |
Para ilmuwan mencoba menyelamatkan spesies kura-kura raksasa Yangtze dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengawinkan mereka dengan kura-kura lain, dan jika cara ini tidak berhasil, mereka akan berusaha mencari kura-kura lain yang bersembunyi di alam liar, agar spesies dari kura-kura ini tidak mengalami kepunahan.













































