Welcome to my Blog ^^

  • DOTA2

    Dota 2 is a free-to-play multiplayer online battle arena video game developed and published by Valve Corporation.

  • PARAGON, EPIC GAMES' NEW MOBA ON PLAYSTATION 4 AND PC, PUTS YOU IN THE ACTION WITH DIRECT THIRD-PERSON CONTROL AND DEEP STRATEGIC CHOICE. CHOOSE FROM AN EVER-EXPANDING ROSTER OF UNIQUE HEROES, EARN CARDS TO CUSTOMIZE YOUR ABILITIES, AND TEAM UP WITH YOUR FRIENDS ONLINE TO CLAIM VICTORY.

  • "GAME OF THE YEAR" - IGN

    FIGHT FOR THE FUTURE.

  • Papi4d2

    Bandar Togel terpercaya.

Tuesday, August 30, 2022

Arkeolog Ungkap Isi Sarkofagus Misterius yang Dianggap Terkutuk


Para arkeolog di Mesir telah membuka sarkofagus tersembunyi berusia 2000 tahun dan mengungkap misteri di baliknya, meski ada ancaman kutukan kuno.

Mereka membongkar peti batu yang menyeramkan tersebut, beberapa hari setelah ditemukan. Di dalamnya, terdapat tiga mumi yang sudah membusuk akibat terendam air selokan yang berbau tengik.

Memiliki panjang sembilan kaki, peti mati dari granit hitam tersebut merupakan yang terbesar yang pernah ditemukan di Alexandria, Mesir.

Kutukan Firaun

Penemuan sarkofagus pada awal Juli ini sempat menimbulkan kehebohan di komunitas arkeologi. Para warga lokal memperingatkan mereka akan kutukan kuno jika nekat membukanya karena peti mati tersebut diduga berasal dari kerajaan.

Ada mitos yang berkembang bahwa ‘kutukan Firaun’ akan menghampiri siapa saja yang mengganggu mumi bangsawan Mesir Kuno.

Pembukaan peti mati Raja Tutankhamun pada 1922, diikuti dengan serangkaian kematian orang-orang yang terlibat dengan penemuan itu. Para arkeolog beserta keluarganya, meninggal karena penyakit menyeramkan atau kecelakaan aneh. Banyak orang mengatakan, kematian mereka bukan kebetulan, tapi karena kutukan.

Kematian paling misterius terjadi pada Lord Carnarvon, penyalur dana untuk proses penggalian yang juga hadir saat pembukaan peti Raja Tutankhamun. Ia meninggal empat bulan kemudian karena infeksi gigitan nyamuk.

Howard Carter, arkeolog yang membantu membuka peti, juga meninggal satu dekade kemudian. Lagi-lagi, banyak yang mengaitkan kematiannya dengan kutukan Firaun.

Para sejarawan menyimpulkan, ada 11 kematian dalam 10 tahun sejak pembukaan makam Tutankhamun. Hanya tersisa satu orang yang hidup hingga lanjut usia.

Belum terbukti

Mostafa Waziri, Sekretaris Jenderal Dewan Purbakala dan Barang Antik Mesir, mencoba meredam ketakutan yang muncul setelah penemuan terbaru ini.

“Sarkofagus sudah dibuka, namun kami tidak terkena kutukan apa pun,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketiga mumi itu bukan berasal dari keluarga kerajaan Ptolemaik atau Mesir Kuno seperti yang selama ini diperkirakan. Tidak ada topeng perak atau emas, patung-patung kecil, jimat, atau prasasti yang biasanya ditemukan pada peti mati bangsawan.

Shaban Abd Monem, spesialis mumi di Kementerian Barang Antik Mesir, mengatakan: “Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa kerangka ini milik tiga perwira tentara. Di salah satu tengkoraknya terdapat luka panah.”

Mumi-mumi dan peti mati tersebut, saat ini dipindahkan ke National Restoration Museum di Alexandria. Mereka akan diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi penyebab dan sejarah kematiannya.





 

Share:

NASA Ungkap Rencananya Lindungi Bumi dari Asteroid Mematikan


NASA telah mengungkapkan rencananya untuk melindungi Bumi dari asteroid yang bisa memusnahkan semua makhluk hidup.

Belum ada ancaman asteroid dalam waktu dekat. Namun, para ilmuwan khawatir mereka terlambat mengetahuinya. Oleh sebab itu, Gedung Putih AS meminta rencana yang lebih baik untuk memastikan kita aman dari asteroid.

Lindley Johnson, planetary defence officer NASA, mengatakan, peneliti telah menemukan 95% benda dekat Bumi berukuran satu kilometer (0,62 mil). Kini, pencariannya difokuskan pada 5%-nya serta batu-batu kecil yang juga bisa menimbulkan kerusakan.

NASA telah membuat daftar 18.310 objek luar angkasa dalam semua ukuran. Sekitar 800 objek memiliki ukuran 140 meter atau lebih besar.

Menurut Johnson, teleskop darat cukup baik untuk mengambil gambar asteroid yang membesar saat memasuki sistem tata surya dan menghampiri sisi malam Bumi. Yang sulit dideteksi adalah bebatuan yang telah melewati Matahari dan menuju keluar dari tata surya, menghampiri sisi Bumi yang mengalami waktu siang.

Itulah yang terjadi pada 2013 ketika asteroid berukuran 20 meter, tiba-tiba muncul dan meledak di Chelyabinsk, Russia – merusak ribuan bangunan dan melukai ratusan penduduk.

Menurut laporan yang dipublikasikan oleh National Science and Technology Council ini, korban bisa mencapai jutaan jika peristiwa tersebut melanda New York.

Asteroid yang ukurannya tiga kali lebih besar dari itu, juga pernah meledak di atas Tunguska, Rusia, pada 1908 – meratakan hutan seluas 770 mil persegi.

Seperti yang kita tahu, batu luar angkasa raksasa pernah menyapu bersih spesies dinosaurus ketika ia menghantam semenanjung Yukatan, Meksiko, 65 juta tahun lalu.

Johnson menekankan, butuh waktu bertahun-tahun untuk mencoba mematikan asteroid – termasuk beberapa tahun membangun pesawat luar angkasa. “Idealnya, kira-kira sepuluh tahun,” ujarnya.

Misi menyelamatkan Bumi dapat dilakukan dengan “memukul” asteroid atau komet menggunakan pesawat ruang angkasa robotik yang besar dan mampu bergerak cepat. Itu diharapkan bisa mengubah jalurnya.

Atau dalam kasus terburuk, kita bisa meluncurkan nuklir – bukan untuk meledakkan asteroid – tapi memanaskan permukaannya sehingga beberapa material terbuang dan jalurnya menyimpang.

Semua rencana itu melibatkan teknologi masa kini. “Namun, kami berencana menyelidiki teknologi lainnya – teknik yang bisa mengganggu dan mengubah arah asteroid,” kata Johnson.

Para peneliti berharap dapat mengetahui lebih banyak tentang asteroid dari dua misi yang sedang berjalan. Pesawat luar angkasa Osiris-Rex milik NASA, akan mencapai asteroid Bennu dalam tahun ini, dan membawa sampelnya pada 2023. Sementara Hyabusa 2 milik Jepang, sedang mendekati asteroid Ryugu, dan membawa sampelnya pada 2020.

Johnson mengatakan, lupakan rencana mengirim astronaut ke luar angkasa untuk menghentikan asteroid.  

“Cara tersebut bagus untuk menjadi ide cerita film. Namun, kami tidak pernah melihat teknik yang membutuhkan keterlibatan astronaut,” katanya.

Misi seperti ini berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan tahunan, dan itu akan sangat menyulitkan jika dilakukan manusia.


 

Share:

Sunday, August 28, 2022

Peneliti Temukan ‘Imigran Antarbintang’ Pertama di Sistem Tata Surya


Jika bisa melayang di atas bidang tata surya, Anda akan menyadari bahwa 99,9% objek berputar mengelilingi orbit matahari berlawanan dengan arah jarum jam. Ia digerakkan oleh debu dan gas yang melahirkan planet kita, asteroid, serta komet.

Namun, anehnya, dari total 779 ribu asteroid yang diketahui, 95 di antaranya bergerak melawan arus lalu lintas tata surya kita. Saat ini, dua peneliti membuat pernyataan yang kontroversial: salah satu dari asteroid ‘aneh’ tersebut – 2015 BZ509 – bergerak mundur dan searah jarum jam karena ia diadopsi dari sistem bintang lain.

“Saat mulai bekerja, kami tidak tahu bahwa itu adalah ruang antarbintang,” kata Fathi Namouni, astronom dari Côte d'Azur Observatory. Sebaliknya, Namouni dan Helena Morais, peneliti di Sao Paolo State University, awalnya mempelajari objek yang mengorbit matahari ke arah belakang, dengan harapan untuk mengungkap bagaimana sistem tata surya kita terbentuk -- seperti mencoba menyelesaikan misteri pembunuhan dengan meneliti bercak darah yang paling aneh di TKP.


Jika bisa melayang di atas bidang tata surya, Anda akan menyadari bahwa 99,9% objek berputar mengelilingi orbit matahari berlawanan dengan arah jarum jam. Ia digerakkan oleh debu dan gas yang melahirkan planet kita, asteroid, serta komet.

Namun, anehnya, dari total 779 ribu asteroid yang diketahui, 95 di antaranya bergerak melawan arus lalu lintas tata surya kita. Saat ini, dua peneliti membuat pernyataan yang kontroversial: salah satu dari asteroid ‘aneh’ tersebut – 2015 BZ509 – bergerak mundur dan searah jarum jam karena ia diadopsi dari sistem bintang lain.

“Saat mulai bekerja, kami tidak tahu bahwa itu adalah ruang antarbintang,” kata Fathi Namouni, astronom dari Côte d'Azur Observatory. Sebaliknya, Namouni dan Helena Morais, peneliti di Sao Paolo State University, awalnya mempelajari objek yang mengorbit matahari ke arah belakang, dengan harapan untuk mengungkap bagaimana sistem tata surya kita terbentuk -- seperti mencoba menyelesaikan misteri pembunuhan dengan meneliti bercak darah yang paling aneh di TKP.

Baca juga: Bagaimana Para Astronaut Menjalankan Salat dan Puasa di Luar Angkasa?

Dalam studi yang dipublikasikan pada Monthly Notices of the Royal Astronomica; Society: Letters, Namouni dan Morais berpendapat, BZ509 bergabung dengan sistem tata surya kita ketika dalam masa pertumbuhan. Ia menetap di orbit yang belum stabil sehingga berjalan di barisJupiter yang juga mengelilingi matahari.

Pada kasus ini, menurut mereka. BZ509 bisa jadi merupakan sepupu dari asteroid antar bintang ‘Oumuamua’, yang terlihat di tata surya, tahun lalu.

Tidak ada yang menyangkal bahwa BZ509, merupakan salah satu batuan angkasa yang aneh.

Namouni dan Morais mulai memerhatikan asteroid itu bukan hanya karena ia mengitari matahari ke belakang, tapi juga karena orbitnya hampir tumpang tindih dengan milik Jupiter. BZ509 pun dikenal dengan objek luar angkasa pertama yang ‘bermain-main’ dengan planet terbesar di tata surya kita tersebut.

“Ini seperti truk yang berjalan di atas jalan bergelombang. Saat mengenai gundukan, objek terpental ke gundukan lain, dan akhirnya memantul kembali ke tempat semestinya,” kata Martin Connors, astronom dari Athabasca University yang tidak terlibat dalam penelitian.

Menggunakan simulasi komputer, pada 2017, Connor dan timnya menemukan bahwa orbit BZ509 tetap stabil selama jutaan tahun. Penemuan ini mengejutkan Namouni dan Morais karena studi mereka menyatakan bahwa orbit BZ509 hanya dapat bertahan sekitar 10 ribu tahun.

Untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai asteroid aneh tersebut, akhirnya Namouni dan Morais membangun model sistem tata surya dengan susunan terbaru. Mereka lalu menaburkan jutaan ‘klon’ BZ509 dan lebih sedikit asteroid pada orbit yang diamati.

Hasilnya, banyak dari klon tersebut yang akhirnya bertabrakan dengan matahari atau keluar dari sistem tata surya. Setengahnya bertahan hingga tujuh juta tahun. Kondisi 46 klon stabil saat hidup di tata surya dan 27 dari mereka sangat mirip dengan putaran BZ509 saat ini.

Dari pemodelan tersebut, Namouni dan Morais memperkirakan, asteroid antar bintang BZ509 mampu bertahan di orbit yang stabil selama 4,5 milyar tahun.

Namun, jika BZ509 sudah mengorbit matahari sejak tata surya baru terbentuk, bagaimana ia akhirnya bergerak berlawanan arah dengan objek lain? Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Namouni dan Morais mengatakan, itu pasti karena ia merupakan penyelundup dari antarbintang.

“BZ509 tidak mungkin merupakan puing-puing tata surya karena selama 4,5 milyar tahun, semua objek, planet, asteroid, dan komet di tata surya bergerak dengan arah yang sama,” kata Namouni.

Ia menambahkan, pemodelannya menunjukkan penjelasan yang paling mungkin: yakni bahwa asteroid tersebut ‘tertangkap’ oleh Jupiter saat melesat melalui tata surya dari ruang antarbintang. “Ini menjadikan BZ509 alien di tata surya kita,” tambahnya.

Saat ini, tim peneliti berharap bisa melangkah lebih jauh. Mereka berencana menerapkan simulasi mesin waktu ke orbit untuk mengetahui darimana BZ509 berasal.

Share:

Saturday, August 27, 2022

Benarkah Hantaman Pada Mars Ciptakan Adanya Phobos dan Deimos?


Selama ini kita tahu Mars memiliki dua bulan yang disebut Phobos dan Deimos. 
Asal usul dua bulan ini adalah misteri di kalangan ilmuwan selama beberapa dekade.

Teori sebelumnya menjelaskan bahwa Phobos dan Deimos adalah asteroid kecil yang terperangkap gravitasi Mars. Kini, sebuah penelitian baru yang terbit di jurnal Science Advances, Rabu (18/4/2018), menawarkan cerita lebih dramatis.

Peneliti menyebut Phobos dan Deimos muncul setelah benda luar angkasa besar menabrak planet merah ini. Dalam tabrakan itu meninggalkan puing-puing yang kemudian berkumpul membentuk dua bulan kecil yang mengorbit dekat permukaan Mars.

"Temuan kami adalah pertama yang konsisten mengidentifikasi kejadian hingga melahirkan dua bulan kecil di Mars," kata pemimpin penelitian Dr Robin Canup, astrofisikawan dari Southwest Research Institute, dilansir dari kompas.com

Sebagai catatan, ukuran Phobos dan Deimos sangat kecil jika dibandingkan bulan bumi. Masing-masing berukuran 7,5 mil dan 14 mil.

Dari ukuran dua bulan itu, tim mulai mempelajari jenis objek langit yang menyerang planet merah.

"Temuan penting kami adalah ukuran penabrak Mars. Kami memperkirakan, objek langit yang dulu menabrak Mars berukuran besar. Ukurannya sama seperti asteroid terbesar, Vesta dan Ceres," kata Canup.

Ia berkata, saat benda berukuran 300 sampai 600 mil menabrak Mars maka akan meninggalkan puing-puing yang akhirnya mengorbit di badan planet.

Puing-puing yang berada di bagian luar kemudian berkumpul membentuk Phobos dan Deimos, sementara puing-puing yang berada dekat dengan Mars berputar dan melebur ke dalam planet.

Model komputer canggih yang digunakan para ilmuwan untuk mensimulasikan pembentukan bulan Mars juga memungkinkan tim untuk menyimpulkan seperti apa dua bulan itu.

"Model ini memprediksi bahwa dua bulan Mars berasal dari material yang berasal di Mars, sehingga komposisi massal sebagian besar elemen mirip dengan Mars," ujarnya.

"Namun, pemanasan ejecta (partikel yang terlempar) dan kecepatan lepas yang rendah dari Mars menunjukkan bahwa uap air hilang. Ini menyiratkan bulan tersebut kering," imbuhnya.

Canup dan timnya yakin temuan mereka dapat dimanfaatkan untuk eskpedisi antariksa masa depan yang bertujuan menyelidiki Mars dan bulannya, misalnya misi Eksplorasi Bulan Mars Badan Antariksa Jepang (MMX).

Rencananya, misi MMX akan diluncurkan pada 2024. Mereka berencana mendarat di Phobos dan Deimos untuk mengumpulkan sampel sebelum dibawa pulang ke bumi lima tahun kemudian.

 

Share:

Friday, August 19, 2022

Teripang, Si Buruk Rupa dari Perairan Dangkal yang Bernilai Ekonomi Tinggi


Perairan Indonesia yang dikenal memiliki biota laut lengkap dan unik di dunia, ternyata menjadi habitat yang sangat nyaman bagi teripang.

Biota laut yang masuk dalam filum Echinodermata itu, bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, karena perairan Indonesia memiliki suhu yang sangat pas. Keunikan itu bisa terjadi, karena perairan Indonesia diapit dua samudera besar, Pasifik dan Hindia.

Meski bisa tumbuh subur dan ditemukan dengan mudah, teripang dewasa ini menjadi biota laut yang paling cepat dieksploitasi di Indonesia. Hal itu, terbukti dengan terus meningkatnya jumlah teripang yang diekspor ke berbagai negara di dunia. Dalam setahun, teripang bisa diekspor minimal dengan jumlah hingga 2 juta kilogram.

Menurut Peneliti dari Balai Bio Industri Laut Mataram Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muhammad Firdaus, dengan jumlah hingga mencapai 2 juta kilogram dalam setahun, nilai ekspor teripang sudah bernilai USD9.4 juta atau sekitar Rp128 miliar.

“Tetapi, walau bernilai besar, nilai teripang seharusnya bisa lebih besar lagi di pasar internasional. Saat ini, semua teripang yang diekspor ke berbagai negara itu tidak dalam bentuk yang sesuai dengan kehendak pasar,” ungkap dia di Jakarta, pekan lalu.

Firdaus menyebutkan, dalam mengekspor teripang, Indonesia melakukannya dalam bentuk hidup, segar, kering, ataupun olahan. Biota laut yang dikenal juga dengan sebutan timut laut (sea cucumber) itu, diprediksi akan menjadi komoditas unggulan di masa mendatang untuk dikirim ke negara lain, karena bernilai ekonomis tinggi.

“Teripang bernilai ekonomis tinggi karena itu adalah bahan pangan yang dipercaya memiliki berbagai manfaat kesehatan. Dan Indonesia telah lama dikenal salah satu produsen utama produk teripang utamanya dari hasil perikanan tangkap,” jelasnya.

Teripang sedang dikeringkan. (warungkita.net/Mongabay Indonesia)
Firdaus menjelaskan, dari 1.000 jenis lebih teripang yang ada di dunia, baru sekitar 35 jenis saja yang sudah diperdagangkan. Untuk di Indonesia, teripang yang bernilai ekonomi tinggi adalah teripang pasir (Holothuria scabra) yang harganya di pasar internasional berkisar USD15 hingga USD1.500 per kilogram. Oleh itu, biota laut tersebut termasuk salah satu yang dieksploitasi secara komersial di kawasan tropis.

Sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi di Indonesia, Firdaus mengatakan, teripang pasir dikenal juga dengan sebutan teripang gosok atau sandfish. Teripang jenis tersebut, biasanya diekspor dalam bentuk kering ke berbagai negara seperti Tiongkok, Taiwan, Korea, Hong Kong, Singapura, dan sejumlah negara di Eropa.

“Khusus di Eropa, kita mengirimnya dalam bentuk olahan siap masak,” jelasnya.

Perairan Dangkal

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI Dirhamsyah, pada kesempatan sama mengatakan, teripang sangat mudah ditemukan di perairan dangkal, terutama di wilayah perairan Indo-Pasifik. Kata dia, tempat hidup teripang adalah di perairan dangkal berupa ekosistem padang lamun dengan substrat pasir berlumpur.


Mengingat lokasi yang mudah ditemukan oleh nelayan dan juga karena bernilai ekonomi tinggi, teripang menjadi mudah dieksploitasi hingga diperdagangkan dengan volume yang besar. Kondisi itu, membuat spesies teripang terus mengalami praktik tangkapan berlebih (overfishing) dari waktu ke waktu.

“Teripang pasir diambil secara terus menerus dari alam tanpa memperhatikan umur dan ukuran, dari anakan muda sampai dewasa. Hal ini dilakukan untuk memenuhi tingginya permintaan pasar,” ungkap dia.

Dengan kemudahan lokasi untuk menangkap, Dirhamsyah menambahkan, eksploitasi semakin tidak terbendung dan kondisi itu diperparah dengan tidak adanya manajemen stok yang baik. Padahal, tanpa adanya manajemen stok, itu akan berdampak pada penurunan populasi teripang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang dikenal luas sebagai produsen teripang di dunia.

Ancaman yang dihadapi teripang, membuat the International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkannya sebagai satwa yang terancam (endangered). Menurut Dirhamsyah, untuk mencegah terjadinya penurunan dan kepunahan spesies teripang, diperlukan teknologi budidaya untuk mengembangkan komoditas tersebut.

“Itu sekaligus untuk mendukung upaya konservasi, usaha budidaya, dan sekaligus penyediaan bahan baku pangan,” tandas dia.

Sebelum penelitian yang dilakukan LIPI sekarang, penelitian teripang sebagai budidaya sudah dilakukan oleh P2O sejak 1994 melalui penemuan awal pengembangan tahap selanjutnya. Kemudian, pada 2011, Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI mulai melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan budidaya teripang pasir dalam skala komersial.

Hingga sekarang, BBIL telah menguasai teknik pemeliharaan dan pematangan gonad induk, teknik rangsang pijah dan pemijahan, teknik pemeliharaan larva, teknik budidaya pakan alami larva yang dilaksanakan di laboratorium, teknik pendederan anakan. Melalui penguasaan teknologi pembenihan, sejak 2015 panti benih BBIL LIPI sudah memproduksi benih secara massal.

Budidaya Gabungan

Peneliti BBIL LIPI Hendra Munandar memaparkan, di luar pembenihan, BBIL LIPI juga berupaya mengembangkan teknologi budididaya pembesaran untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan industri perikanan teripang terhadap stok alam. Teknologi pembesaran yang dilaksanakan mencakup budidaya di laut dengan sistem sea ranching dan budidaya tambak.

“Inovasi BBIL LIPI untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan adalah melalui pengembangan teknologi Budidaya TERBARU, yaitu teknologi budidaya dengan pendekatan multitrofik yang menggabungkan komoditas teripang pasir, bandeng dan rumput laut Gracilaria sp. (TERBARU) dalam satu tambak,” paparnya.

Seorang warga memperlihatkan teripang hasil panen buka ‘sasi” di Tanjung Vagita, di wilayah pesisir Kampung Folley, Distrik Misool Timur, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Tanjung Vagita merupakan salah satu wilayah yang menerapkan konservasi tradisional “sasi”. (Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia)
Menurut Hendra, budidaya TERBARU dilaksanakan dengan mempertimbangkan posisi masing-masing biota dalam ekosistem budidaya, dimana rumput laut Gracilaria sp. berperan sebagai produsen yang menyerap nutrisi yang berasal dari perairan, pupuk, dan sisa metabolisme biota dalam tambak. Setelah itu, rumput laut tersebut mengonversinya menjadi biomassa melalui proses fotosintesis.

Selain rumput laut, Hendra menyebutkan, budidaya TERBARU juga melibatkan bandeng yang berperan sebagai omnivora Pemakan partikel tersuspensi, fitoplankton, dan klekap. Kemudian, teripang pasir berperan sebagai pemakan detritus yang memanfaatkan bahan organik dalam tambak.

“Melalui metode ini, daur nutrisi dalam sistem budidaya menjadi lebih efisien, karena biaya pakan dan pengelolaan kualitas air dapat ditekan secara optimal yang akhirnya berdampak pada penurunan biaya produksi,” jelasnya.

Selain lebih ramah lingkungan, budidaya TERBARU juga memiliki produktivitas dan nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan budidaya masing-masing komoditas secara monokultur. Introduksi teripang pasir sebagai komoditas baru bernilai ekonomis tinggi, secara langsung meningkatkan nilai ekonomi sistem ini.

Estimasi produktivitas dan pendapatan per tahun untuk lahan tambak seluas satu hektar untuk budidaya TERBARU lebih jika tinggi dibandingkan dengan budidaya monokultur yaitu sebesar 17,5 persen (monokultur teripang), 422,2 persen (monokultur bandeng), dan 879,2 persen (monokultur Gracilaria sp.).

“Hasil penelitian juga sudah dimanfaatkan oleh berbagai stakeholder. Keberadaan teknologi budidaya teripang pasir diharapkan dapat menjaga keseimbangan populasi teripang pasir di alam, sekaligus tetap memenuhi kebutuhan pasar dan mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir,” pungkas Hendra.

Sementara, Peneliti P2O LIPI Tutik Murniasih menjelaskan, walau potensi ekonominya tinggi, bentuk dan rupa dari biota laut tersebut dinilai kurang menarik. Namun positifnya, saat ini masyarakat sudah semakin menyadari keberadaan biota tersebut yang dinilai baik untuk kesehatan.

”Masyarakat saat ini sudah sadar untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dari produk alami karena memiliki manfaat fisiologis dan mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit kronis,” jelas dia.

Tutik mencontohkan, teripang Stichopus vastus yang tergolong teripang murah, tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk obat dan makanan kesehatan yang bernilai ekonomi tinggi.

Menurut dia, teripang dapat diolah menjadi makanan kesehatan pendamping atau penambah program diet, nutrisi atau kondisi tubuh tertentu dan bukan merupakan pengganti makanan.

Salah satu bentuk pengembangan teripang yang dilakukan LIPI, kata Tutik, adalah formula suplemen teripang dengan dengan fisik warna putih keruh, berbau khas dan berbentuk kental.

Formulasi sediaan dalam bentuk cair, kata dia, mempunyai banyak keuntungan, yaitu kemudahan dalam penentuan dosis, kemudahan untuk ditelan, pertimbangan bioavailabilitas, dan kandungannya lebih mudah diserap tubuh.

Share:

Thursday, August 18, 2022

Ilmuwan Temukan 100 Spesies Ikan Langka di Jurang Australia

Lebih dari 100 spesies ikan langka ditangkap di jurang dingin nan dalam di Australia selama pelayaran ilmiah.

Para ilmuwan menghabiskan waktu sebulan di atas kapal untuk mengintai kehidupan di bawah permukaan menggunakan jaring, sonar, dan kamera laut dalam.

Lebih dari 42 ribu ikan dan invertebrata berhasil ditangkap. Beberapa di antaranya diduga spesies baru. Termasuk ikan blobfish, sepupu Mr. Blobby, yang terpilih menjadi hewan terjelek di dunia oleh Ugly Animal Preservation Society pada 2013. Mr. Blobby menjadi sensasi media sejak saat itu.

Blobby, yang berasal dari famili psychrolutidae, ditemukan di lepas pantai Selandia Baru pada 2003. Nama Blobby diambil dari ilmuwan yang menemukannya.


Ikan kadal, predator di laut dalam. (CSIRO/AFP/Asher FLATT) Selain blobfish, spesies lain yang ditemukan selama pelayaran adalah hiu pemotong dengan gigi runcing, ikan kadal yang menakutkan, dan ikan tripod.


Para ilmuwan bahkan menemukan ikan tak berwajah yang hanya pernah dilihat sekali di Papua Nugini pada 1873.


Ikan tanpa wajah. (CSIRO/AFP/Asher FLATT)

Para ilmuwan berencana berkumpul di Hobart, Tasmania, untuk meneliti ikan-ikan ini lebih dekat. Martin Gomon, ahli ikan dari Museum Victoria, mengatakan, pertemuan di Hobart akan menjadi upaya sistematis pertama untuk meneliti kehidupan laut dalam.

“Penemuan ini memberikan pandangan mengenai bagaimana kehidupan fauna di laut dalam saling berhubungan. Dan bagi para ilmuwan, menambah potongan lain pada teka-teki mengenai apa yang mempengaruhi evolusi di laut dalam,” paparnya.

Hidup di kedalaman seperti itu memberikan tekanan yang bisa mematikan. Tidak ada cahaya, suhu beku dan sedikit makanan. Itulah mengapa spesies di laut dalam memiliki cara unik untuk bertahan hidup.

Karena makanan sangat langka, mereka biasanya bertubuh kecil dan bergerak lambat. Beberapa ada yang seperti jelly dan menghabiskan waktunya hanya dengan mengambang. Ada juga yang memiliki taring dan duri di tubuhnya. Mereka hanya berbaring di dasar laut sambil menunggu mangsa datang.

Pelayaran ilmiah tersebut merupakan kolaborasi internasional yang dipimpin oleh peneliti dari Museum Victoria. Ini pertama kalinya para ilmuwan mensurvei kedalaman laut Australia.

Alastair Graham, manajer Australian National Fish Collection, mengatakan, habitat di sana merupakan yang terbesar dan paling dalam di Bumi. Meliputi sepertiga wilayah Australia. “Namun, sayangnya, belum tereksplor semuanya,” kata Graham. 





Share:

Wednesday, August 17, 2022

Fosil Dinosaurus Raksasa Mesir Ungkap Hubungan Kuno Afrika dan Eropa


Afrika dulunya dihuni oleh spesies dinosaurus unik yang besar. Tapi ilmuwan hanya tahu sedikit tentang bagaimana keadaan mereka, apa yang terjadi pada mereka, dan bagaimana kaitannya dengan dinosaurus yang ditemukan di Asia.

Itulah sebabnya, penemuan fosil baru yang spektakuler di Mesir menjadi buah bibir di kalangan para ahli paleontologi .

Tim ahli paleontologi di Mesir menemukan fragmen-fragmen fosil dari spesies baru dinosaurus yang hidup sekitar 80 juta tahun silam. Fosil yang mencakup elemen tengkorak tersebut ditemukan di dekat Oase Dakhla di Gurun Barat Mesir.

Disebut Mansourasaurus shahinae, hewan kuno itu merupakan jenis titanosaurus, kelompok dinosaurus sauropoda yang berleher panjang dan pemakan tumbuh-tumbuhan. Berdasarkan fosil yang ditemukan, para ilmuwan memperkirakan dinosaurus ini berukuran panjang 8-10 meter ketika masih hidup.

Ahli paleontologi dari Mansoura University, Hesham Sallam, bersama rekan-rekannya menentukan bahwa fosil tersebut termasuk dalam genus dan spesies baru titanosaurus. Mereka kemudian menulis hasil penelitian tersebut dalam  jurnal 
Nature Ecology & Evolution.

Kerangka M. shahinae menjadi temuan penting karena sejauh ini merupakan spesimen dinosaurus paling lengkap yang berasal dari akhir Periode Kapur di Afrika.  Selain elemen tengkorak, fosil itu juga terdiri dari rahang bawah, tulang leher sekaligus tulang belakang, rusuk, sebagian besar bahu dan lengan, sebagian kaki belakang, dan potongan pelat dermal.

“Ini seperti harta karun—fosil dinosaurus yang terawetkan dengan baik dari akhir era dinosaurus di Afrika—yang telah dicari sejak lama oleh para ahli paleontologi,” ujar rekan penulis studi, Matt Lamanna, dari Carnegie Museum of Natural History.

Selama tahun-tahun awal era dinosaurus, sepanjang era Trias dan Jura, semua benua di Bumi masih tergabung sebagai benua super Pangaea. Namun, di Zaman Kapur, Pangaea mulai terpecah menjadi beberapa benua.

Secara historis, belum jelas seberapa baik Afrika terhubung dengan benua di belahan selatan dan Eropa selama periode ini. Selain itu, belum diketahui sampai sejauh mana kekerabatan fauna Afrika mungkin telah terputus dengan tetangga mereka dan berevolusi di jalur yang terpisah.

M. shahinae, sebagai satu dari sedikit dinosaurus afrika yang diketahui dari periode ini, membantu pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Dinosaurus ini membantu kita menjawab pertanyaan-pertanyaan lama tentang catatan fosil dan paleobiologi Afrika—hewan apa yang tinggal di sana, dan spesies apa yang berkerabat paling dekat?” ujar rekan penulis studi, Eric Gorscak, dari Field Museum.

Dengan menganalisis fitur-fitur pada kerangka fosil, para ahli paleontologi menentukan bahwa Mansourasaurus shahinae lebih erat kaitannya dengan dinosaurus dari Eropa dan Asia dibanding dinosaurus yang ditemukan jauh di selatan Afrika atau di Amerika Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya beberapa dinosaurus dapat bergerak di antara Afrika dan Eropa menjelang detik-detik kepunahannya.

“Dinosaurus-dinosaurus terakhir di Afrika tidak sepenuhnya terisolasi, bertentangan dengan perkiraan beberapa ilmuwan di masa lalu. Mereka masih terhubung ke Eropa,” pungkas Gorscak.

Share:

Tuesday, August 16, 2022

Untuk Pertama Kalinya Dalam 100 Tahun, Serigala Ditemukan di Belgia Utara



Seekor serigala liar ditemukan di Belgia bagian Utara untuk pertama kalinya selama lebih dari satu abad.

Negara ini diketahui sebagai satu-satunya wilayah di Eropa yang tidak pernah dikunjungi oleh serigala. Perburuan dan industrialisasi menjadi penyebab utama lenyapnya serigala dari Eropa Barat sejak awal abad ke-20.

Berdasarkan Konvensi Bern pada 1979, status serigala tidak lagi menjadi musuh manusia, tapi sebagai spesies dilindungi. Serigala menjadi “elemen mendasar dari warisan alam di Eropa”.

Di beberapa negara, seperti Rumania dan Polandia, yang terdapat banyak serigala, orang-orang beradaptasi dengan serangan hewan buas tersebut terhadap domba. Mereka menganggapnya seperti sebuah kecelakaan – ibarat kawanan domba yang sedang sial dan masuk ke dalam jurang.

Namun, di zona baru kolonisasi serigala -- seperti Prancis serta beberapa wilayah di Italia dan Spanyol – terjadi ketegangan besar antara petani yang tidak senang dengan kemunculan serigala.

Serigala yang ditemukan di Belgia bagian Utara pada awal Januari ini, memiliki pelacak elektronik di lehernya. Diduga ia berasal dari pemukiman di Jerman.

Menurut salah satu kelompok peduli lingkungan, hewan yang sama juga terlihat di Belanda sekitar Natal lalu.

“Akhir-akhir ini, serigala tinggal di sekitar Beringen dan pangkalan militer Leopoldsburg. Ia telah menempuh jarak 500 kilometer dalam sepuluh hari,” papar kelompok tersebut.

Sebelumnya, pada 2011, kamera tersembunyi berhasil menangkap gambar mirip serigala di wilayah Ardennes, Belgium Selatan. Namun, karena tidak ada jejak DNA dan kemunculan lebih lanjut, hal itu tidak bisa dibuktikan.

Beberapa kelompok pendukung keanekaragaman hayati menyambut baik kabar terbaru serigala yang terdeteksi di Belgia ini. Mereka meminta pemerintah untuk menerapkan strategi yang mendorong kembalinya spesies tersebut ke Belgia secara permanen. Tentunya dengan kompensasi kepada petani yang ternaknya diserang. 

Share:

Bakteri dari Antartika Ini Bisa Menjadi Kunci untuk Menemukan Alien


Untuk bertahan hidup, manusia setidaknya membutuhkan makanan, minuman, sinar matahari, dan oksigen.

Namun, tampaknya syarat-syarat itu tak berlaku bagi mikroba yang hidup di
Antartika
. Mereka dapat bertahan hidup hanya dengan mengandalkan energi dari atmosfer, dan mungkin bisa dijadikan petunjuk dalam mengetahui kehidupan alien.

Temuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 6 Desember 2017 ini berawal pada tahun 2014 saat tim peneliti dari institusi di seluruh Australia dan Selandia Baru ke pantai Antartika timur. Di sana, mereka mengumpulkan sampel tanah dari dua lokasi bebas es.

Keinginan para peneliti cukup sederhana. Mereka ingin tahu bagaimana kehidupan mikrokopis bertahan dalam lingkungan yang ekstrem. Pasalnya, suhu beku, paparan radiasi UV tinggi, serta karbon, nitrogen, dan air yang terbatas bukanlah tempat hidup yang menyenangkan.

Hampir dua lusin mikroba didapatkan, dan dua bakteri di antaranya belum pernah ditemukan sebelumnya, yakni WPS-2 dan AD3.

"Mereka berada dalam kelimpahan yang sangat tinggi yang tidak pernah diamati sebelumnya," kata Belinda Ferrari, yang memimpin laboratorium mikrobiologi sel tunggal di Universitas New South Wales, seperti dilansir Newsweek pada Sabtu (9/12/2017).

"Jadi, itulah sebabnya kami memutuskan melakukan genomik untuk mendapatkan wawasan tentang apa yang bakteri ini lakukan," lanjutnya.

Rupanya, WPS-2 dan AD3 bertahan hidup dengan mengekstrak energi dan karbon dari hidrogen, karbon monoksida, dan karbon dioksida di udara.

Melalui hasil penelitian ini, para peneliti berharap dapat membuka kemungkinan lain untuk mencari alien.

Sebab, kondisi di Antartika serupa dengan bulan dan eksoplanet tertentu. Selain Antartika, kemiripan dengan planet lain dapat dijumpai pada gunung berapi di Hawaii atau rawa di Ethiopia.

"Pertanyaan besarnya adalah bagaimana mikroba bisa bertahan bila ada sedikit air, tanahnya sangat rendah karbon organik, dan kapasitasnya sangat kecil untuk menghasilkan energi dari matahari melalui fotosintesis selama kegelapan musim dingin," kata Ferrari.

Dia melanjutkan, kami menemukan bahwa mikroba Antartika telah mengembangkan mekanisme untuk hidup di udara.

Kedua mikroba itu punya gen kunci yang memungkinkan mereka punya “afinitas” tinggi terhadap hidrogen dan karbon monoksida. Secara fisiologi, mereka dapat menyedot apa pun jejak gas yang dibutuhkan di udara dan dengan cepat mengubahnya menjadi energi.

Dengan adanya kedua mikroba ini, para peneliti berkata bahwa meskipun fokus kita kini tertuju pada Mars, bulan penuh es seperti Enceladus dan Europa yang kondisinya mirip dengan Antartika layak untuk dijadikan alternatif dalam mencari alien.

Share:

Sunday, August 14, 2022

Salju Tabir Surya di Planet Kepler-13Ab


Seandainya sistem Kepler-13Ab ini bisa dikunjungi, tentu akan unik sekali. Planet Kepler-13Ab yang ditemukan pada tahun 2011 ini mengitari bintang Kepler-13A yang merupakan bintang bertiga. Dua diantaranya yakni Kepler-13A dan Kepler-13B merupakan bintang kelas A yang lebih panas dan lebih masif dari Matahari sedangkan planet ketiga yakni Kepler-13C merupakan bintang katai K yang lebih kecil dan lebih redup dari Matahari. Artinya bintangnya juga lebih dingin.

Planet Kepler-13Ab

Di sistem bintang bertiga inilah, Wahana Kepler berhasil menemukan sebuah planet Jupiter panas yang mengitari bintang Kepler-13A pada jarak 0,0342 AU atau hanya ~ 5 juta km dari bintang induknya. Bandingkan dengan Merkurius yang jaraknya 57,9 juta km. Akibatnya, planet ini memiliki periode yang juga pendek. Kepler-13Ab hanya butuh kurang dari 2 hari (1,76 hari) untuk mengitari bintang induknya.

Jarak yang dekat dengan bintang juga menyebabkan planet Kepler-13Ab terkunci gravitasinya dengan sang bintang induk. Artinya, salah satu sisi planet akan selalu berhadapan dengan bintang dan selalu siang. Dan sisi lainnya akan selalu malam.

Bisa dibayangkan betapa panasnya bintang ini. Bintang Kepler-13A yang berada 1729 tahun cahaya dari Bumi, diketahui memiliki temperatur 7650 K. Ditambah jarak yang luar biasa dekat, tak pelak eksoplanet Kepler-13Ab juga memiliki temperatur yang tak kalah panas, yakni 2750 K.

Ilustrasi planet Kepler-13Ab yang mengitari sistem bintang bertiga Kepler-13. Tampak bintang Kepler-13A yang jadi bintang induk dan 2 bintang lainnya di kejauhan. (NASA, ESA, & G. Bacon (STScI))
Seandainya kita ingin mencari planet batuan yang bisa menopang kehidupan, maka harapan terbaik adalah menemukan planet mirip Bumi pada jarak 2,7 – 4,13 AU yang merupakan area laik huni bintang ini. Tapi, sejak 2011 sampai sekarang, planet Kepler-13Ab jadi satu-satunya planet yang ditemukan di sistem bintang bertiga ini.

Penemuan eksoplanet di bintang lain memang menarik. Harapan untuk menemukan planet serupa Bumi jelas menjadi tantangan tersendiri. tapi pencarian itu tidak bisa berhenti hanya pada penemuan beragam palnet. Untuk mengetahui kondisi sebuah planet, selain faktor bintang kita perlu mengetahui kondisi planet itu sendiri.

Salah satu yang harus dipelajari adalah atmosfer planet. Mempelajari atmosfer exoplanet memang tidak mudah karena kita tidak bisa melihat langsung planet tersebut.  Planet Kepler-13Ab jadi incaran untuk dipelajari para astronom dari Penn State University yang dipimpin oleh Prof. Thomas Beatty karena planet ini merupakan salah stau planet terpanas. Pengamatan yang dilakukan Beatty dan tim memperlihatkan kalau sisi siang Kepler-13Ab memiliki temperatur ~3000 K.

Salju Tabir Surya

Untuk mempelajari atmosfer planet Kepler-13b, para astronom melakukan pengamatan 2 peristiwa transit dari Kepler-13Ab, saat ia melintas di depan bintang dan saat planet ini menghilang dari pengamat. Dari pengamatan inilah para astronom bisa mengetahui kondisi atmosfer di Kepler-13Ab dan untuk pertama kalinya berhasil menemukan bukti proses perangkap dingin di planet.

Yang ditemukan memang menarik/ Ada salju titanium oksida (TiO) di planet Kepler-13Ab.

Titanium Oksida atau titania di Bumi biasanya digunakan sebagai bahan pembuat cat, krim tabir surya, atau pewarna makanan.

Salju titanium oksida atau salju tabir surya ini ditemukan turun di area malam abadi di planet Kepler-13Ab. Uniknya, tabir surya yang ada di area malam ini tidak tampak di area siang yang selalu menerima cahaya bintang. Jadi, kalau ada penjelajah yang singgah, sebaiknya kumpulkan tabir surya di sisi malam untuk digunakan di sisi siang.

Para astronom yang mengamati Kepler-13Ab ini memang bukan mencari tabir surya di planet asing. Yang mereka lakukan adalah mempelajari atmosfer dan menemukan atmosfer yang semakin dingin seiring bertambahnya ketinggian. Ini adalah kondisi atmosfer yang normal tapi tidak normal untuk planet – planet Jupiter panas.

Pada planet Jupiter panas, seharusnya terjadi pembalikan temperatur sehingga semakin tinggi atmosfer, temperatur juga semakin meningkat. Agar terjadi pembalikan temperatur, butuh molekul gas penyerap yang kuat yang bisa meningkatkan opasitas thermal untuk mencegah pendinginan pada atmosfer. Molekul gas yang jadi pemicu pembalikan temperatur ini adalah titanium oksida dan vanadium oksida. Kedua molekul ini akan jadi gas pada temperatur minimum 1800 K.

Singkatnya, pada planet Jupiter panas, titanium oksida berfungsi untuk menyerap cahaya dan memancarkannya kembali sebagai panas. Karena itu, semakin tinggi atmosfer maka temperaturnys akan semakin hangat.

Hasil pengamatan para astronom juga memperlihatkan tidak ada bukti kuat yang menjadi petunjuk terjadinya pembalikan temperatur pada planet Jupiter panas yang sisi siangnya lebih dingin dari 2500 K.

Jika tidak ada pembalikan temperatur yang bisa diamati pada sisi siang, maka artinya gas titanium oksida yang pada umumnya ditemukan di planet Jupiter panas sudah tidak ada lagi di atmosfer. Dengan demikian, tidak ada gas yang bisa menghalangi terjadinya pendinginan.

Misteri Hilangnya Pembentuk Tabir Surya

Tapi, bagaimana titanium oksida aka si bahan tabir surya menghilang ini yang jadi pertanyaan. Akibatnya, temperatur atmosfer jadi semakin dingin seiring bertambahnya ketinggian.

Diperkirakan titanium oksida menghilang dari sisi siang akibat disapu angin kencang yang membawa gas tersebut ke area sekitarnya. Akibatnya, titanium oksida berkondensasi menjadi serpihan kristal yang membentuk awan.

Planet Kepler-13Ab diketahui juga memiliki gaya tarik yang sangat kuat. Gravitasinya enam kali lebih besar dari Jupiter atau ~ 148,7 m/det2. Kalau dibandingkan dengan Bumi, gravitasi planet Kepler-13Ab itu ~15 kali lebih kuat. Gaya tarik yang sedemikian besar menyebabkan gas titanium oksida di atmosfer teratas ditarik turun dan terperangkap di lapisan atmosfer terendah.

Proses ini dikenal sebagai perangkap dingin atau proses memerangkap dingin. Teori perangkap dingin sudah dikemukakan para astronom sebelumnya. Menurut teori perangkap dinign, presipitasi atau pengendapan bisa terjadi pada planet masif yang panas dan punya gravitasi yang kuat.

Meskipun salju tabir surya ini turun di planet Kepler-13Ab, salju tersebut tidak turun terlalu jauh karena molekul ini disapu kembali ke area yang lebih panas dan pada akhirnya menguap jadi gas.

Hasil pengamatan Kepler-13Ab ini meberi informasi pada astronom bagaimana kondensat dan awan terbentuk di planet Jupiter panas dan bagaimana pengaruh gravitasi pada komposisi atmosfer planet.

Jadi, berminat singgah untuk mengumpulkan tabir surya dalam penjelajahan jarak jauh di alam semesta?

Share:

Menuju Nadi Tanah Suci Satun


Masifnya jajaran pilar itu menyokong terbentuknya ruang gua terbesar ketiga yang pernah ditemukan di Thailand. Dari gugusan ornamen inilah ia memperoleh namanya "Phu pha phet" yang berarti kilauan berlian. Tim Mapagama (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Gadjah Mada) mengeksplorasi sejumlah keelokan kerajaan bawah tanah di empat distrik Provinsi Satun, yaitu Ngu Distrik, La Ngu, Manang dan Khuan Ka Long.
Share:

Saturday, August 13, 2022

Fosil Serangga Baru Aneh: Bermata Melotot, Mulut dan Kaki Memanjang

 Hemiptera adalah ordo besar serangga (sebagai serangga sejati) memiliki mulut yang beradaptasi dengan penusuk dan pengisap. Biasanya mempunyai dua pasang sayap, mengalami metamorfosis tidak sempurna, dan termasuk sebagai banyak hama penting.

Karena keragaman famili hemiptera, serangga sejati dapat ditemukan di hampir semua habitat, termasuk di dalam dan sekitar air. Keanekaragaman serangga sejati yang lebih besar akan ditemukan di perairan dangkal yang hangat yang memiliki banyak vegetasi dan air yang bergerak lambat atau tenang. Serangga sejati mengalami metamorfosis tidak sempurna karena mereka tidak memiliki tahap kepompong. Ini melibatkan 3 tahap kehidupan yaitu telur, nimfa, dan dewasa.

Sementara serangga prasejarah yang terbungkus dalam damar tentu saja sangat menarik. Mereka biasanya tidak terlihat jauh berbeda dari serangga masa kini. Namun, yang baru ditemukan ini sangatlah aneh sehingga ditempatkan dalam keluarga uniknya sendiri.

Belum lama ini, penampilan fosil serangga dengan mata melotot, mulut dan kaki memanjang yang mengeluarkan resin ditemukan. Fosil ini diidentifikasi oleh penelitian Oregon State University sangat berbeda dari apa pun yang hidup saat ini. Sehingga perlu ditempatkan di keluarganya sendiri yang sudah punah.

George Poinar Jr., profesor emeritus di Oregon State University College of Science, pemimpin studi tentang penemuan tersebut menamai serangga dalam fosil sebagai Palaeotanyrhina exophthalma. Makalah yang membahas temuannya ini sudah diterbitkan dalam jurnal BioOne Complete pada 15 Juli dengan judul "Palaeotanyrhina exophthalma gen. et sp. nov. (Palaeotanyrhinidae fam. nov.) (Reduvioidea: Hemiptera) in mid-Cretaceous Burmese amber."

Fosil tersebut terbungkus dalam damar berusia 100 juta tahun dari Burma. Serangga P. exophthalma adalah anggota dari ordo Hemiptera "serangga sejati", kata Poinar.

"Ini adalah predator kecil yang menggunakan matanya yang menonjol untuk mencari mangsa serangga," tutur Poinar, pakar internasional dalam menggunakan bentuk kehidupan tumbuhan dan hewan yang diawetkan dalam damar untuk mempelajari biologi dan ekologi masa lalu.

Lebih dari 80.000 spesies termasuk jangkrik, kutu daun, wereng, kutu busuk, dan kutu pelindung terdiri dari ordo Hemiptera. Kata Yunani kuno yang berarti setengah bersayap. Ukuran serangga ini sebenarnya sangat bervariasi, dari sekecil 1 milimeter hingga 15 sentimeter. Akan tetapi mereka semua memiliki susunan mulut pengisap yang serupa.

Palaeotanyrhina exophthalma memiliki panjang tubuh lebih dari 5 milimeter. Ini berbagi beberapa fitur dengan anggota superfamili Reduvoidea. Yang mencakup serangga pembunuh dan serangga berciuman, tetapi labiumnya yang panjang (mulut bawah), bentuk kepala dan urat sayap depannya mendiskualifikasi dari penempatan di keluarga Reduvoidea modern mana pun, kata Poinar.

Karena itu, dia menempatkannya ke keluarga baru yang sudah punah yaitu Palaeotanyrhinidae.

"Matanya memberikan pandangan 360 derajat yang jelas dari habitatnya sehingga bisa melihat mangsa yang mungkin muncul dari sisi manapun," jelas Poinar.

Itu mengingatkan Poinar pada ungkapan, "Bung Besar mengawasi Anda," dari novel George Orwell "1984" di mana kamera keamanan mengikuti setiap gerakan individu.

Fitur aneh lainnya pada fosil ini adalah selubung memanjang pada segmen kaki terakhir tarsus depan, tambahnya.

"Selongsong itu diisi dengan zat resin," kata Poinar. "Zat lengket diproduksi oleh kelenjar kulit dan membantu serangga menangkap mangsa secara potensial."

Péter Kóbor dari Institut Perlindungan Tanaman di Pusat Penelitian Pertanian di Budapest juga ikut bekerja sama dalam penelitian ini. Seperti yang dilakukan Alex E. Brown dari Berkeley, California.
Share:

Ikan Mungil dan Transparan ini Bisa Menyelamatkan Hidup Manusia


Untuk makhluk yang panjangnya kurang dari satu setengah inci, ikan zebra (Danio rerio) terlihat besar dalam penelitian biomedis.

Ikan zebra adalah penelitian yang bagus untuk sesama vertebrata, juga manusia. Karena keduanya memiliki banyak kesamaan: otak, jantung, hati, ginjal. Sekuens genom telah menunjukkan bahwa 84% gen yang menyebabkan penyakit pada manusia, juga ditemukan pada ikan zebra.

Semenjak ahli sel biologi University of Queensland, Ben Hogan mulai mempelajari ikan zebra pada tahun 2001, penggunaan ikan zebra di laboratorium telah melonjak, katanya. Keuntungan menggunakan ikan tersebut terlihat jelas. Karena embrio bentuknya transparan dan berkembang di luar tubuh sang induk, para ilmuwan dapat memanipulasi gen untuk memodelkan penyakit manusia dan mengamati perubahan penyakit pada hewan hidup secara langsung–sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di laboratorium hewan lain, semisal tikus.

Meskipun ikan zebra dewasa memiliki garis-garis di tubuhnya, ikan muda yang cukup tembus pandang sehingga para ilmuwan dapat mempelajari sistem vaskular dan sistem lainnya dengan memperkenalkan fluoresensi, atau terpancarnya sinar oleh suatu zat yang telah menyerap sinar atau radiasi elektromagnet lainnya.

Pada otak ikan zebra, Hogan telah menemukan "sel penyapu" tak terduga yang dapat membersihkan sampah. Jika sel-sel semacam itu ada pada manusia dan bisa dikendalikan, sel-sel tersebut mungkin berguna untuk melawan demensia dan stroke, katanya.

Menjalankan eksperimen berulang-ulang membutuhkan banyak subjek tes, dan harus dilakukan pada ikan zebra. Di alam liar, terbitnya matahari memicu kawin; Di laboratorium Hogan, dipacu saat lampu dinyalakan, dan saat pembatas tangki yang memisahkan antara jantan dan betina, diangkat. Tarian kawin oleh jantan membuat betina terangsang dan bertelur–sebanyak 300 butir telur. Lalu jantan membuahinya dengan melepaskan spermanya di dalam air. Pembiakan mingguan tersebut mereka lakukan untuk memastikan persediaan embrio.

Sejauh ini penelitian ikan zebra telah menghasilkan wawasan tentang kanker, diabetes, penyakit otot, dan banyak lagi. Elizabeth Burke, seorang peneliti di National Institutes of Health, memprediksi bahwa "perenang kecil bergaris ini memiliki potensi besar untuk memajukan penelitian medis di masa depan."

Fakta lain iklan zebra: Embrio ikan zebra menyerap obat-obatan yang ditambahkan ke dalam air. Mereka telah berhasil melakukannya dengan sukses dan menemukan obat baru yang mungkin digunakan pada beberapa obat kanker yang diuji coba pada ikan zebra, dan kini telah memasuki uji klinis.

Share:

Friday, August 12, 2022

Mayat Tak Dikenal dan Bangkai Pesawat Ditemukan di Pegunungan Alpen


Puing-puing kecelakaan pesawat bersejarah dan sisa-sisa jasad dua manusia telah tersingkap berkat gletser yang mencair di Pegunungan Alpen Swiss. Penyelidikan dan pembersihan kini sedang berlangsung di sana.

Bagian-bagian pesawat yang ditemukan itu tampaknya milik pesawat ringan yang jatuh di pegunungan lebih dari 50 tahun yang lalu. Kronologinya, Layanan Investigasi Keamanan Swiss diberitahu oleh Angkatan Udara bahwa bagian-bagian pesawat telah ditemukan di Gletser Aletsch pada 4 Agustus, menurut penegak hukum Swiss setempat. Gletser Aletsch adalah gletser terbesar di Pegunungan Alpen Eropa, di kanton Swiss Valais.

Penyelidikan mereka berhasil menemukan bahwa bagian-bagian itu berasal dari puing-puing Piper Cherokee dengan registrasi HB-OYL. Pesawat itu jatuh di sekitar lokasi ini pada 30 Juni 1968.

Di dalam pesawat itu ada seorang guru, seorang kepala petugas medis, dan seorang anak laki-laki dari Zürich. Mayat-mayat ditemukan pada saat itu, tetapi puing-puing pesawat itu tidak ditemukan karena kondisi pegunungan yang tak kenal ampun.

Namun, hal-hal berubah di daerah tersebut. Karena suhu pemanasan yang terkait dengan perubahan iklim, banyak gletser Pegunungan Alpen mencair dan surut sehingga memunculkan beberapa kejutan suram dari masa lalu.

"Pada saat kecelakaan, lebih dari 50 tahun yang lalu, sarana teknis untuk memulihkan puing-puing pesawat di medan yang sulit terbatas. Karena mencairnya gletser, terutama di musim panas, ada kemungkinan potongan atau puing-puing lainnya terlepas dari es," kata Polisi Cantonal Valais dalam sebuah pernyataan seperti dilansir IFLScience.

Hanya beberapa minggu yang lalu pada akhir Juli, dua pendaki Prancis menemukan tulang belulang manusia saat mendaki gletser Chessjen di kanton selatan Valais. Ini adalah wilayah yang sama di mana kecelakaan pesawat ditemukan.

"Saya sedikit mual," kata Luc Lechanoine, salah satu pendaki gunung yang menemukan mayat itu, kepada Blick, surat kabar Swiss.

"Kami tidak tahu berapa lama orang ini berada di sana. Pakaiannya berwarna neon dan bergaya tahun 80-an," tutunya. Ia juga menambahkan bahwa tubuh itu telah termumifikasikan dan sedikit rusak, "tetapi masih lengkap."

Seminggu sebelum penemuan di gletser Chessjen ini, mayat lain ditemukan di gletser Stockji dekat resor ski Zermatt, menurut media Swiss.

Identitas kedua korban itu tidaklah jelas, tetapi pihak berwenang setempat sibuk menyelidiki kasus tersebut. Mereka berharap dapat mengidentifikasi orang-orang tersebut menggunakan benda-benda yang ditemukan di tempat kejadian dan, jika mungkin, bukti DNA.

Pegunungan Alpen Eropa bukan satu-satunya bagian dunia di mana perubahan iklim mengungkapkan peninggalan masa lalu yang mengerikan. Baru-baru ini, Danau Mead yang dilanda kekeringan di dekat Las Vegas telah mengungkapkan empat set jenazah manusia yang sebelumnya tenggelam di bawah permukaan air.

Share:

Mumi Berlapis Tembaga dari Peradaban Arktika Kuno Ditemukan dalam Lapisan Es


Gubernur dari distrik Yamalo-Nenets, Rusia, baru saja mengumumkan penemuan dua mumi dewasa dan anak-anak berlapis tembaga di dalam permafrost (es permanen) di situs arkeologi Zeleny Yar. Ujung terpencil Siberia, tepatnya sedikit di luar kota Salekhard.

Kedua mumi tersebut ditemukan terbungkus bahan tekstil tebal, bulu hewan, dan kulit kayu. Lalu, tubuh mumi dewasa dilapisi dengan plat tembaga, sedangkan tubuh mumi bayi ditutupi dengan potongan-potongan tembaga.

Para peneliti menduga bahwa tembaga yang memiliki kemampuan antimikroba digunakan oleh peradaban Arktika kuno untuk mengawetkan tubuh mumi. Namun, kedua tubuh tersebut juga terawetkan secara alami oleh es di sekelilingnya.

Terletak di ujung terpencil Siberia dan sedikit di luar Kota Salekhard, tempat ditemukannya kedua mumi tersebut berada di lingkaran kutub utara dan berdiri di persisir lautan Kara, Samudera Arktika. Kota Salekhard sendiri selalu diselimuti oleh angin dingin dan rata-rata suhu tahunannya sekitar -5,72 derajat celcius.

Berdasarkan pengukuran tim peneliti, mumi dewasa memiliki tinggi sekitar 170 sentimeter. Sementara itu, mumi bayi diperkirakan berusia enam bulan atau kurang. Keduanya akan menjalani pengujian genetik, forensik, dan analisis sejarah.

Namun, para peneliti masih belum membuka pembungkus mumi. Antropolog Evgenia Svyatova dari Pusat Perlindungan dan penggunaan Monumen Sejarah dan Budaya, menjelaskan dalam siaran pers bahwa tim peneliti khawatir tindakan tersebut dapat memperburuk keadaan jaringan tubuh mumi.

Walaupun usia pasti dari kedua mumi belum diketahui, tetapi tempat penemuan tersebut diketahui paling aktif pada abad ke-13 di Zaman Pertengahan.

Kedua mumi juga bukan yang pertama kali ditemukan di Zeleny Yar sejak dimulainya penggalian pada tahun 1997. Di antara tahun 2013 dan 2017 saja, tim peneliti telah menemukan 47 kuburan.

Baca juga: Laba-laba Berusia 100 Juta Tahun Ditemukan Dalam Sebuah Ambar

Akan tetapi, asal-usul para mumi masih menjadi misteri. Salah satu petunjuk yang dimiliki oleh para peneliti adalah sebuah mangkuk perunggu dari abad ke-10 yang berasal dari Persia, sebuah kekaisaran kuno yang terletak 5.950 kilometer dari Iran modern.

Share:

Makam Putri Mesir Ditemukan dalam Piramida Berusia 3800 Tahun


Para arkeolog yang sedang mempelajari piramid berusia 3800 tahun di area Dashur, Mesir dikejutkan dengan penemuan kamar makam yang mungkin menjadi rumah peristirahatan terakhir seorang putri Mesir.

Dalam kamar tersebut, para arkeolog menemukan sebuah kotak kayu dengan tulisan hieorglyphs (aksara Mesir kuno) “Hatshepset”. Walaupun mirip dengan nama Firaun Hatshepsut, tetapi para peneliti berkata bahwa pemilik kamar merupakan orang yang berbeda.

Menurut Kementerian Barang Antik Mesir, katu tersebut seharusnya berisi guci kanopik yang menyimpan organ-organ dalam mumi. Sayangnya, guci tersebut telah hilang dan arkeolog hanya menemukan balutan mumi di dalam kotak tersebut.

Bukti yang tersisa hanya tulisan “Hatshepset” yang mungkin nama putri Firaun Ameny Qemau yang namanya juga tertulis pada bata putih di dalam piramida tersebut.

Dilansir dari LiveScience 11 Mei 2017, profesor ilmu Mesir di Brown University, James Allen, dan peneliti di University of Bristol, Aidan Dodson memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai penemuan ini.

“Ini adalah kotak untuk guci kanopik. Tulisannya pun sangat umum ditemukan pada kotak-kotak dari Periode Pertengahan Kedua (1640 SM hingga 1540 SM) dan berada pada sisi kotak yang menghadap Timur,” ujar Allen.

Mentranslasikan tulisan tersebut, Allen berkata bahwa kalimat pertama mengatakan, Neith (dewi yang bertugas menjaga guci), ulurkan tanganmu untuk Duamutef (dewa untuk guci kanopik yang berisi organ perut) yang berada di dalammu.

Sementara itu, tulisan yang berada di sisi kiri atas mengatakan, “Dihormati dengan Neith, putri raja Hatshepset”, dan yang di sisi kanan atas mengatakan, “Dihormati dengan Duamutef, putri raja Hatshepset.”

Allen mengatakan, aku menduga bahwa Hatshepset adalah putri Ameny Qemau yang dikuburkan dalam piramida ayahnya.

Dodson pun berpendapat sama. Dia mengatakan, kotak kanopik ini pasti milik seorang putri raja, tetapi aku kesulitan membaca namanya karena tidak ada indikasi mengenai keturunannya.

“Piramida ini bukan tipe yang biasanya digunakan untuk seorang putri. Oleh karena itu, piramida ini pasti dibangun untuk seorang raja, tetapi kemudian digunakan untuk penguburannya (putri),” ujarnya menambahkan.

Ameny Qemau sendiri sudah memiliki piramida pribadi di daerah Dashur. Piramida Ameny Qemau tersebut ditemukan pada tahun 1957 dan berada sekitar 600 meter dari piramida yang kini disebut-sebut sebagai milik putri Hatshepset.

Mengenai hal ini, Dodson mengatakan, adanya tulisan ‘Ameny Qemau’ bisa jadi karena dia (Ameny Qemau) merebut piramid milik raja sebelumnya untuk salah satu putrinya. Sebab, tidak ada alasan untuk membangun dua piramida bagi dirinya sendiri.

Kini, kelompok peneliti dari Kementerian Barang Antik Mesir sedang menggali piramida tersebut. Mereka baru saja menemukan sisa sarkofagus di dalam kamar makam. Mereka mengatakan, selagi penggalian berlanjut, penemuan baru mungkin sedang menunggu.

Share:

Thursday, August 11, 2022

7 Kehebatan Hagfish


Ikan yang serupa belut ini memililki  kemampuan bertahan diri yang masyhur (menyerang predator dengan lendir), penyerangan yang menakjubkan (membuat simpul tubuhnya sendiri), dan tubuh yang aneh (memiliki mata yang tidak berfungsi dan sejumlah jantung).

Hampir 80 persen dari spesies penghuni laut dalam bertentakel tersebar di seluruh dunia, sebagian besar memangsa invertebrata kecil dan mencari bangkai di atas dasar laut, jelas Douglas Fudge, seorang biolog dari Chapman University, California.

Baru-baru ini, nelayan di Bio Bio, Chili, terkejut saat menangkap hagfish, yang segera diletakkan di atas batu untuk melihatnya lebih dekat.

“Kami tidak pernah melihat yang seperti ini,” ujar Lissette Hermosilla, bagian dari kelompok nelayan itu. “Kami akan mengamati pergerakkannya sampai hewan ini kembali ke laut, melata seperti ular. Saya mereasa lega hewan ini dapat kembali ke habitat aslinya.”

Berikut adalah 7 alasan mengapa hagfish layak untuk kita hormati.

Mereka Penuh Lendir Hantu gempal dari film Ghostbusters tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hagfish, yang jika merasa terancam atau terganggu, akan meludahkan lendir dengan kadar 4 cangkir dalam satu detik.

Lendir yang dikeluarkan itu mengandung mucus dan fibers, yang akan menyumbat insang segala predator yang berani memakannya, jelas Fudge.

Hewan Ini Bagaikan Houdini

Seekor hagfish - biasanya sepanjang 30 cm - dapat menyempil melalui sela-sela  kecil, sekecil setengah lebar tubuhnya.

Ini dikarenakan kulit ikan ini sangat longgar terlepas dari tubuhnya, yang berarti kulitnya dapat menampung volume darah dalam jumlah besar.

“Saat darah diremas ke belakang, volume berlebih tersebut dapat menampung tanpa meningkatnya tekanan di belakang," ujar Fudge.

Mereka Gigih

Pada 2013, Daniela Silvia Pace dan rekan-rekannya mengamati seekor lumba-lumba moncong botol di Laut Tyrrhenian dekat Italia dengan apa yang nampak seperti parasit yang tersangkut di lubang pernafasannya. Pengamatan lebih dekat mengungkap bahwa parasit tersebut adalah hagfish.

Tidak diketahui bagaimana cara ikan berlendir tersebut dapat berada di sana, namun mungkin saja lumba-lumba tadi bertemu dengan hagfish saat menyentuhkan kepalanya ke dalam pasir di dasar samudera, sebuah strategi berburu, jelas Pace, presiden dari organisasi non-profit Oceanomare Delphis Onlus dan seorang biolog dari Sapienza University di Roma.

Hagfish dapat bertahan diri dengan menggenggam pada apapun yang dapat digenggam - dalam kasus ini, lubang pernafasan si lumba-lumba. Hewan purba ini tidak memiliki rahang, namun hanya piringan gigi, yang nampaknya cara bagaimana hagfish tadi menempelkan diri di dalam lubang pernafasan si lumba-lumba tadi.

Lumba-lumba tadi masih dapat bernafas, namun mamalia ini menunjukkan tanda-tanda tertekan, menetap di permukaan dan enggan untuk menyelam seperti anggota keluarganya yang lain, ujar Pace. Sebulan kemudian, Ia melihat lumba-lumba yang sama sehat dan tanpa hagfish menempel.

“Kami sangat senang melihat hewan ini mampu bertahan setelah mengalami peristiwa tadi,"Ujar Pace.

Mereka Membuat Simpul dengan Tubuhnya Sendiri

Hagfish adalah satu-satunya hewan yang memiliki tengkorak tanpa memiliki tulang belakang. Mereka memiliki tulang belakang yang memberikan fleksibilitas menakjubkan.

Misalnya, jika seekor predator mendekati mereka, hewan ini akan menggeliat dari genggaman predator tadi dengan mengikat dirinya sendiri.

Dengan cara serupa, jika hagfish sedang mengoyak daging dari bangkai yang gemuk, mereka akan menggunakan simpul tubuhnya sebagai pengungkit, ujar Fudje. Dalam situasi langka, hagfish terjebak dalam lendirnya sendiri, sebuah simpul akan membantu mereka untuk melepaskan diri.

Mereka Penuh Gaya

Benang lendir hagfish hampir sekuat dan seringan sutra yang dibuat laba-laba, yang sedang diteliti untuk diadaptasi menjadi bahan sandang selama bertahun-tahun.

Gen yang membuat hagfish mampu menghasilkan benang lebih kecil dari gen yang ada di benang sutera milik laba-laba, jadi secara teori, mungkin saja memasukkan gen tersebut ke dalam bakterium dan menghasilkan gulungan-gulungan sutera hagfish seperti saat ini kita menggunakan nylon.

Mereka Terkadang Hidup di Tubuh Bangkai

“Saat ada bangkai jatuh tenggelam ke dalam dasar samudera, biasanya hagfish yang tiba lebih dahulu,” ujar Fudge. “Hal yang mereka lakukan membedakan mereka dengan hewan lainnya.”

Makhluk tersebut membenamkan dirinya di dalam tubuh bangkai. Namely, the slithery creatures burrow their entire bodies into the carcass. Jika seekor hagfish terlalu rakus memakan bangkai tersebut hingga menggendut, kemungkinan hewan ini terpaksa hidup di dalam tubuh bangkai hingga proses pencernaan selesai, jelas Fudge.

Jantung Hagfish Berdetak Tanpa Oksigen

Bangkai yang membusuk “bukanlah tempat yang baik untuk hewan yang membutuhkan oksigen,” kata Fudge. Hal ini memungkinkan hewan tersebut hidup di kondisi yang ekstrem. Misalnya, tiga jantungnya dapat berdetak berjam-jam tanpa oksigen, kemungkinan digerakkan oleh lemak di tubuhnya, menurut riset yang dilakukan oleh Todd Gillis.

Masih banyak yang dapat dipelajari mengenai hewan misterius ini - terlalu banyak hingga Fudge mendedikasikan karirnya untuk mempelajari hewan tersebut.

"Rencana awalnya adalah untuk meneliti cumi-cumi,” kata Fudge, “namun hagfish tetap jadi yang paling menarik.”

Share:

Histioteuthis heteropsis,Cumi Aneh Penghuni Laut Dalam

 


Dari hewan bermata seukuran bola basket hingga hewan yang mampu memendarkan cahaya (bioluminescence), laut dalam menyimpan kehidupan penuh misteri makhluk-makhluk berbentuk aneh yang jarang terungkap.

Hewan-hewan laut dalam tersebut telah mengembangkan karakteristik agar mampu bertahan hidup di lingkungan laut yang dingin serta habitatnya yang tanpa cahaya. 

Seperti halnya  Histioteuthis heteropsis. Hewan dengan mata besar sebelah itu masih menjadi teka-teki bagi bagi para peneliti sejak ditemukan sekitar 100 tahun yang lalu. 

Cumi ini memiliki ciri fisik yang terbilang cukup aneh. H heteropsis lahir dengan kondisi mata yang berbeda, satu berukuran kecil, sedangkan mata yang lain dapat tumbuh lebih besar, menggembung, dan berwarna kuning. Bahkan ukurannya bisa mencapai dua kali ukuran mata satunya.

Untuk mengetahui fungsi mata tersebut, tim peneliti dari Universitas Duke, Carolina Utara, mengamati video bawah air yang dikumpulkan oleh Monterey Bay Aquarium Research Institute selama 30 tahun terakhir.

Hasil pengamatan menunjukkan, hewan tersebut menggunakan mata yang besar untuk menatap ke atas, mencari bayangan mangsanya. Sementara mata kecilnya beradaptasi untuk melihat ke bawah, memindai perairan gelap di bagian lautan yang disebut sebagai zona senja.

Peneliti juga menemukan fakta bahwa spesies ini berenang dengan posisi terbalik. Kepala di bawah dan ekor di atas. 

Mata besar cumi sebelah kiri konsisten mengarah ke atas, sedangkan mata kecilnya menatap ke bawah, menguatkan dugaan peneliti bahwa mata besar cumi digunakan untuk mencari bayangan mangsa yang berenang di bagian atas. Sementara mata kecil memindai biolominescence yang ada di bawahnya. 

"Laut dalam merupakan laboratorium alami untuk mempelajari mata karena jenis mata yang Anda butuhkan untuk melihat pendaran cahaya berbeda dengan mata yang kamu butuhkan untuk melihat cahaya normal," kata Professor Sonke Johnsen, peneliti senior dari Universitas Duke, seperti dikutip  Livescience pada Senin (13/2/2017).

Adaptasi visual semacam itu membantu H heteropsis bertahan hidup di zona senja, sebuah wilayah dengan kedalaman sekitar 200 hingga 1.000 meter di bawah permukaan air.

Sinar matahari sangat sedikit mencapai daerah ini sehingga membuat zona senja temaram dengan warna biru monokromatik. 

Banyak hewan telah beradaptasi dengan tempat ini dengan mengembangkan kemampuan tubuhnya untuk bisa bersinar atau bioluminescence.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Philosophical Transactions B pada Senin, 13 Januari 2017 lalu.

Share:
Click to learn more...
close
close

Blog Archive

Vivian.Pimtha. Powered by Blogger.

Find Us On Facebook

Random Posts

Social Share

Flickr

Sponsor

Agen Togel Online Image may contain: outdoor

Recent Comments

Contributors

Popular Posts

Popular Posts

Blog Archive

Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya

Unordered List

Pages

Theme Support