Welcome to my Blog ^^

  • DOTA2

    Dota 2 is a free-to-play multiplayer online battle arena video game developed and published by Valve Corporation.

  • PARAGON, EPIC GAMES' NEW MOBA ON PLAYSTATION 4 AND PC, PUTS YOU IN THE ACTION WITH DIRECT THIRD-PERSON CONTROL AND DEEP STRATEGIC CHOICE. CHOOSE FROM AN EVER-EXPANDING ROSTER OF UNIQUE HEROES, EARN CARDS TO CUSTOMIZE YOUR ABILITIES, AND TEAM UP WITH YOUR FRIENDS ONLINE TO CLAIM VICTORY.

  • "GAME OF THE YEAR" - IGN

    FIGHT FOR THE FUTURE.

  • Papi4d2

    Bandar Togel terpercaya.

Monday, October 31, 2022

Ternyata, Pemakaman Korban Black Death Dilakukan Secara Hati-hati


 Pagebluk mengancam banyak jiwa dalam sejarah peradaban manusia, seperti Covid-19 saat ini dan Black Death pada pertengahan abad ke-14. Pada masa Black Death, pagebluk itu menewaskan sekitar 40--60 persen populasi di Eropa.

Akan tetapi, membuktikan kejadian Black Death bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, pagebluk  membunuh begitu cepat dan tak meninggalkan jejak pada kerangka. Situasi itu cuma terekam dalam catatan sejarah. Sedangkan berdasarkan bukti arkeologis hanya bisa teridentifikasi lewat jenazah yang dikubur secara massal dari penanggalan waktu kejadian.

Walau demikian, sebenarnya tak menutup kemungkinan bila sebagian besar korban pagebluk dikubur secara individual, meski masih sulit dikonfirmasi kebenarannya.

Terbatas pada masalah itu, para ilmuwan pun tak begitu saja menyerah sehingga dapat menemukan bukti proses pemakaman korban pagebluk di penghujkung abad pertengahan itu.

Para ilmuwan dari Department of Archaeology at Cambridge University, telah mengidentifikasi keberadaan Yersina Pestis, patogen penyebab Black Death. Penemuan itu berdasarkan penelitian terhadap DNA dari gigi beberapa jenazah di pemakaman umat paroki sekitar Cambridge dan Clopton, Inggris.

Studi ini juga menunjukkan bahwa beberapa korban Black Death di Cambridge memang menerima penguburan massal.

"Secara keseluruhan, dari total 197 individu yang diskrining, sepuluh sampel dinyatakan positif Y. pestis, ditambah tiga kemungkinan lainnya (kemungkinan positif tetapi tidak memiliki cukup data untuk memastikan keberadaan patogen)," tulis para ilmuwan European Journal of Archaeology, Kamis (17/06/2021).


"Delapan identifikasi positif dan dua sementara berasal dari pemakaman tunggal di pemakaman paroki normal dan tempat-tempat keagamaan, termasuk pemakaman paroki All Saints by the Castle, baik pemakaman dan rumah kapitel Biarawan Augustinian, dan paroki pedesaan Clopton."

Secara signifikan, diidentifikasi adanya Yersina Pestis pada beberapa jenazah umat paroki dari St Benedictus yang berdiri sekitar1000-1050. Mereka dikuburkan secara massal di parit besar di halaman gereja yang digali, dan diletakan secara hati-hati pada proses pemakamannya.

"Ada kemungkinan bahwa penguburan massal ini berhubungan dengan Maut Hitam karena kemungkinan terjadi sebelum awal/pertengahan 1350-an, tetapi kemungkinan terkait dengan wabah pada 1361–1362, 1369 dan 1374," tulis Craig Cessford dan tim.

Sedangkan di gereja All Saints by the Castle—gereja paroki yang didirkan sekitar 940-1150, ditemukan 49 kerangka dari kuburan sebagai sampel. 22 di antaranya tewas pada wabah kedua Black Death, dan mayoritas sekitarnya yang sudah meninggal terlebih dahulu sebelum wabah kedua.

Mereka menyimpulkan, selama pandemi kedua Black Death, jenazah orang yang meninggal karena pagebluk dikebumi dengan berbabgai cara. Sebagain pemakaman massal dilakukan secara khusus, dan sebagian besar dilakukan secara normal.

"Mungkin sekitar 2300–3500 orang meninggal karena wabah dalam beberapa bulan pada tahun 1349 di Cambridge dan dikuburkan di tujuh belas gereja paroki, sebuah biara, dua biara, dan empat biara, baik sebagai pemakaman individu maupun pemakaman massal," papar para ilmuwan.

Dalam pemakaman massal, terang para ilmuwan, setidaknya ada lima orang di dalamnya. Ini menandakan bahwa komunitas masyarakat kewalahan dan tidak mampu mngatasi melalui pengubural normal. Tetapi mereka masih memperlakukan mayat sebanyak mungkin dengan rasa hormat.

Baik rohaniawan maupun kaum awam yang tewas akibat Black Death, dikeburukan dengan cara biasa, termasuk biarawan berstatus tinggi. Kadang-kadang, mereka dikebumikan di jantung arsitektur lembaga komunitas.

Hal ini menunjukkan kepedulian lembaga dengan menandai status mereka yang membutuhkan usaha yang berat, maupun pada korban pagebluk maupun tidak. Orang yang meninggal karena pagebluk, dikebumikan di tempat lain di biara, sesuai dengan status mereka.

Cressford dalam rilismengatakan, "Pekerjaan kami menunjukkan kalau sekarang [adalah saat yang] memungkin untuk mengidentifikasi individu yang meninggal karena wabah dan menerima penguburan individu."

"Ini sangat meningkatkan pemahaman kita tentang wabah dan menunjukkan bahwa bahkan di masa yang sangat traumatis, selama pandemi masa lalu, orang berusaha sangat keras untuk menguburnya dengan sangat hati-hati."
Share:

Sunday, October 30, 2022

Arkeolog Menemukan 'Kota Emas Luxor yang Hilang', Pompeii Versi Mesir


Baru-baru ini pemerintah Mesir mengumumkan sebuah penemuan arkeologi yang luar biasa. Mereka menyatakan telah menemukan "kota emas Luxor yang hilang".
Tingkat keawetan pada "kota hilang" yang ditemukan ini telah membuat para peneliti terkesan. Kota ini seperti baru ditinggalkan kemarin sore.

"Tidak ada keraguan tentang itu; ini benar-benar penemuan yang fenomenal," ujar Salima Ikram, arkeolog yang memimpin unit Egyptology di American University di Kairo, seperti diberitakan National Geographic. Menurutnya, ini seperti temuan Kota Pompeii versi Mesir.

Situs kota ini berasal dari era firaun dinasti ke-18 Amenhotep III, yang memerintah antara sekitar 1386 dan 1353 Sebelum Masehi. Amenhotep III memimpin era kekayaan, kekuasaan, dan kemewahan yang luar biasa pada masanya. Kekuasaan Amenhotep III berakhir ketika ia meninggal, dan yang menggantikannya sebagai firaun atau raja Mesir kuno adalah putranya yang bernama Akhenaten.

Namun beberapa tahun setelah kematian Amenhotep III, Akhenaten yang memerintah dari sekitar 1353–1336 Sebelum Masehi itu malah meninggakan segala kekayaan dan kemewahan yang telah diperjuangkan ayahnya itu. Selama 17 tahun pemerintahannya, ia menjungkirbalikkan budaya Mesir, meninggalkan semua panteon (kumpulan dewa) tradisional Mesir kecuali satu, dewa matahari Aten. Ia bahkan mengganti namanya dari Amenhotep IV menjadi Akhenaten, yang artinya “mengabdi pada Aten”.

Firaun sesat itu tidak berhenti di situ. Akhenaten memindahkan kursi kerajaannya dari Thebes (kini Luxor) ke utara ke kota yang benar-benar baru yang dia sebut Akhetaten (kini Amarna) dan mengawasi revolusi artistik yang secara singkat mengubah seni Mesir dari kaku dan seragam menjadi penuh animasi dan detail.

Kota yang memperlihatkan kemewahan pada masa Firaun Amenhotep III itulah yang pada 2021 ini diumumkan telah ditemukan di Mesir.

Situs "kota hilang" yang berusia lebih dari 3.000 tahun ini meyimpan kuil kamar mayat Amenhotep III di sebelah utara yang dibangun abad 14 Sebelum Masehi. Ada juga Medinet Habu, kuil kamar mayat yang dibangun hampir dua abad kemudian untuk Ramses III, di sebelah selatan situs ini.

Para arkeolog juga menemukan sesuatu yang sangat berbeda dari situs kota ini: dinding-dinding bata lumpur berliku-liku setinggi sembilan kaki dan tumpukan artefak kuno dari era Amenhotep III.

Struktur bangunan di situs kota ini menyimpan pula barang-barang keperluan sehari-hari. Banyak di antara benda-benda yang ditemukan ini terkait dengan produksi artistik dan industri yang mendukung ibu kota firaun tersebut.

Ada rumah tempat para pekerja mungkin pernah tinggal, toko roti dan dapur, barang-barang yang berkaitan dengan produksi logam dan kaca, bangunan yang tampaknya berkaitan dengan administrasi, dan bahkan pemakaman yang dipenuhi dengan kuburan batu.

Meskipun ukuran kota ini belum ditentukan, asal tahun kota ini dapat diketahui dengan jelas berkat hieroglif pada berbagai benda yang ditemukan. Sebuah bejana berisi dua galon daging rebus bertuliskan tahun 37 —masa pemerintahan Amenhotep III. Scarab, batu bata, bejana, benda yang ditemukan dan lainnya juga memiliki segel atau tanda kerajaan Amenhotep III.

"Kota hilang ini merupakan penemuan arkeologi terpenting setelah makam Tutankhamun," ujar Betsy Bryan, profesor seni dan arkeologi Mesir di Johns Hopkins University.

Bryan, yang tidak terlibat dalam penggalian, mengunjungi situs tersebut pada hari ketika para arkeolog menemukan langit-langit tanah liat kecil yang dicap dengan hieroglif bertuliskan 'Aten ditemukan hidup di atas kebenaran.' "Itu adalah julukan Akhenaten," kata Bryan. Meskipun langit-langit itu bertuliskan nama Akhenaten, Bryan mengatakan kota itu adalah bagian dari kompleks istana Amenhotep II, ayah Akhenaten.

Begitu Akhenaten berkuasa dan mengubah lokasi istana barunya, dia meninggalkan kota ayahnya itu.

Kehilangan kota itu ternyatan menjadi keuntungan arkeologi modern saat ini. “Luar biasa indah,” kata Ikram.

Ikram membayangkan berjalan melalui jalan-jalan di kota yang masih cukup utuh itu, dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi di mana, katanya, dia mengharapkan seorang Mesir kuno datang di tikungan kapan saja. "Ini menakjubkan," ucapnya.

Kota itu tampaknya telah digunakan kembali oleh Tutankhamun, yang menyingkirkan Akhetaten selama masa pemerintahannya. Namun akhirnya ia juga mendirikan ibu kota baru di Memphis. Ay, yang kemudian mewarisi takhta Tutankhamun saat menikah dengan janda Tut tersebut, tampaknya juga telah menggunakannya.

Empat lapisan permukiman yang berbeda di situs tersebut menunjukkan era penggunaannya hingga era Bizantium Koptik dari abad ketiga hingga ketujuh Masehi. Kemudian, barulah kota itu dibiarkan terkubur dalam padang pasir sampai akhirnya ditemukan kembali baru-baru ini.

Tetapi mengapa kota itu ditinggalkan selama masa pemerintahan singkat Akhenaten? "Saya tidak tahu apakah kita akan semakin dekat untuk menjawab pertanyaan itu melalui temuan kota ini," kata Bryan. “Yang akan kita dapatkan adalah semakin banyak informasi tentang Amenhotep III, Akhenaten, dan keluarganya. Ini masih awal, tapi saya pikir kita akan melihat lebih banyak dan lebih banyak hubungannya."

Share:

Saturday, October 29, 2022

Arkeolog dan Petani Temukan Peradaban Turki Zaman Besi dan Perunggu


Zaman besi dan zaman perunggu adalah era peradaban manusia kunoadiperkirakan sekitar abad kedelapan hingga ketiga sebelum masehi. Banyak dari kisah-kisah tersebut yang umumnya ditemukan di kawasan Indo-Eropa dan Timur Tengah.

Namun siapa sangka, penemuan arkeologi tak sengaja baru-baru ini mengungkapkan bahwa ada kerajaan misterius yang luput dari catatan sejarah kita.

Di Turki, peninggalan peradaban kuno ribuan tahun lamanya tersebut terkuak oleh para arkeolog yang dibantu petani lokal. yang tak sengaja menemukan batu besar prasasti dari penggalian kanal. Penemuan tidak sengaja oleh petani ini berada di Türkmenkarahüyük, Provinsi Konya, Turki pada akhir musim panas 2019.


Kelompok penelitian dari Oriental Institute University of Chicago dan sejumlah institusi lainnya menilai bahwa penemuan dari petani tersebut adalah prasasti peninggalan dari zaman besi dan perunggu.

Berdasarkan laporan penemuan, para arkeolog menerjemahkan prasasti tersebut. Isinya menceritakan tentang penaklukan Frigia, kerajaan yang diperintah oleh Raja Midas dalam mitologi Yunani kuno yang  dikatakan memiliki sentuhan emas.

Pada tulisan prasasti yang ditemukan tersebut, menggambarkan kemenangan seorang raja yang mengalahkan Frigia, Hartapu. Mengenai Raja Hartapu masih menjadi tanda tanya bagi para arkeolog mengenai siapa, dan kerajaan apa yang dikuasainya. Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Luwian salah satu bahasa tertua di Indo-Eropa.

Berdasarkan prasasti raksasa tersebut, para arkeolog menduga lokasi inilah ibu kota kerajaan yang dipimpin Hartapu.

“Kami tidak tahu tentang kerajaan ini. Dalam sekejap, kami mendapatkan informasi baru yang mendalam tentang Zaman Besi Timur Tengah,” kata James Osborne, dari University of Chicago.

Berdasarkan publikasi para arkeolog di situs University of Chicago, bahwa kedepannya para arkeolog akan kembali kepada situs ini pada tahun 2020 ini. Penelitian tersebut untuk menganalisa peninggalan Türkmenkarahüyük yang diduga terdapat kerajaan yang hilang dalam sejarah.

"Kemungkinan di dalam gundukan ini ada istana, monumen, dan permukiman kuno," kata Osborne. 

"Prasasti ini adalah penemuan yang luar biasa. Sangat beruntung. Tapi ini baru hanya permulaan," tutupnya.

Share:

Friday, October 28, 2022

Kapal Berusia 400 Tahun Ditemukan di Laut Baltik dalam Keadaan Hampir Utuh


 Para penyelam dari Finlandia tanpa sengaja menemukan kapal berusia 400 tahun di Laut Baltik.

Dilansir dari Euronews, itu ditemukan 85 meter di bawah permukaan laut dalam keadaan baik. Hanya ada kerusakan kecil di dek, tiang dan haluannya—disebabkan oleh tabrakan dengan pukat ikan.

Secara keseluruhan, lambung kapal hampir utuh, hanya beberapa papan yang hilang.

Kapal ‘Fluit’ milik Belanda ini pernah mendominasi perdagangan Baltik antara akhir abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18. Namun, ia jarang ditemukan.

Kapal tersebut tidak memiliki senjata tetapi mampu membawa banyak beban. Fitur teknisnya sudah canggih untuk ukuran saat itu, memungkinkan kapal dioperasikan oleh jumlah awak yang lebih kecil daripada biasanya.

The Badewanne Diving Team, sekelompok relawan penyelam di Finlandia, ‘tersandung’ kapal Fluit ketika sedang mencari bangkai kapal peninggalan Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

“Penemuan kapal Fluit menawarkan kesempatan unik untuk menyelidiki perkembangan jenis kapal yang berlayar di seluruh dunia dan bagaimana itu menjadi dasar globalisasi modern,” ungkap Dr Niklas Eriksson, arkeolog maritim dari University of Stockholm, dikutip dari Euronews. 

Bangkai kayu hanya dapat bertahan di beberapa tempat di dunia. Salinitas rendah di Laut Baltik, dikombinasikan dengan kegelapan mutlak dan suhu yang sangat rendah sepanjang tahun, telah melindungi kapal 'Fluit' ini dari kehancuran akibat proses pembusukan kimiawi, biokimia dan biologis. Hal itu juga menjaga kapal dari organisme penghancur kayu seperti cacing kapal.
Share:

Thursday, October 27, 2022

Lokasi Tambang Berusia 12 Ribu Tahun Ditemukan di Gua Bawah Laut


 Gua bawah laut di Semenanjung Yukatan, Meksiko, dipenuhi oleh labirin peninggalan arkeologis yang luas. Mungkin belum pernah ditemukan di tempat lain di Bumi.

Terawetkan di gua-gua yang penuh air, cenote (lubang pembuangan alami di Meksiko) menyimpan harta karun mengenai rahasia suku Maya. Selain itu, penemuan artefak kuno ini juga mengungkap kisah prasejarah yang lebih kuno.

Dalam sebuah studi, para ilmuwan melaporkan bahwa mereka telah menemukan tambang terbesar di Amerika yang berasal dari 12 ribu tahun lalu.

“Gua bawah laut ini seperti kapsul waktu,” ujar Ed Reinhardt, penyelam berpengalaman sekaligus ahli mikropaleontologi dari McMaster University.

“Ada bukti jelas tentang penambangan oker yang dilakukan ribuan tahun lalu,” imbuhnya.

Pada penyelaman di tahun 2017, Reindhart dan rekan penelitinya mengeksplor gua di garis pantai Quintana Roo. Gua-gua di wilayah tersebut dikenal menyimpan kerangka prang-orang kuno yang menempati wilayah tersebut ribuan tahun lalu. Yakni ketika level permukaan laut masih rendah sehingga gua-gua itu masih kering dan mudah diakses.

Mengenai mengapa individu kuno memasuku labirin yang berbahaya masih belum jelas. Namun, penemuan terbaru ini mengungkapkan hal baru.

“Lanskap gua telah berubah secara nyata. Manusia purba mungkin mengambuil banyak oker dari sana dan harus menyalakan api untuk menerangi labirin tersebut,” papar Fred Devos, penyelam dan arkeolog dari Research Centre of the Quintana Roo Aquifer System (CINDAQ) di Meksiko.

Di dalam gua, tim menemukan beragam bukti kegiatan penambangan purba, termasuk alat penggalian, ekstraksi oker, penanda navigasi, dan perapian kuno.

Para peneliti mengungkap bukti penambangan di tiga sistem gue yang terendam dari 12 eibu hingga 10 ribu tahun lalu.

Situs bernama La Mina, Camilo Mina dan Monkey Dust mungkin menjadi contoh penambangan oker tertua yang ada di Amerika. Namun, menurut peneliti, gua yang baru ditemukan ini mungkin berusia lebih lama, mengingat ada bukti kerangka yang berusia 12.800 tahun.

Untuk beberapa alasan, penambang di situs ini berhenti mengekstrak oker sekitar 10 ribu tahun lalu. Untuk penyebabnya, peneliti belum mengetahuinya dengan jelas. Pasalnya, gua masih bisa diakses kala itu.

Yang pasti, diperlukan keberanian yang sangat besar untuk menggali ratusan meter ke labirin gua hanya dengan sebuah obor. Fakta bahwa mereka rela berjuang di dalam kegelapan seperti itu, memberi tahu kita betapa pentingnya pigmen oker dalam ritual dan adat Palaeoindian kuno. Mereka rela mempertaruhkan hidup demi mendapatkannya.

 

Share:

Wednesday, October 26, 2022

Perubahan Iklim Mengubah Predator di Arktika Menjadi Kanibal

Saat suhu di wilayah garis lintang utara terus menghangat, itu mengubah fisiologis dan perilaku salah satu predator invertebrata Arktika yang paling melimpah, yakni laba-laba serigala.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan pada Journal of Animal Ecology, dengan banyaknya jumlah populasi laba-laba serigala, maka terganggunya siklus hidup mereka dapat memberikan dampak luas pada tundra. Saat Arktika memanas, laba-laba serigala semakin besar, bereproduksi lebih sering, dan memiliki ‘selera baru’ pada spesiesnya sendiri.

“Data lapangan dan eksperimen kami menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah laba-laba serigala, maka semakin tinggi kemungkinan mereka menjadi kanibal,” kata Amanda Koltz, peneliti utama studi ini dalam sebuah pernyataan.

“Ini mungkin cerminan dari meningkatnya persaingan di antara laba-laba untuk mendapatkan sumber daya,” imbuhnya.

Laba-laba serigala (Pardosa lapponica) merupakan ectothermic atau yang lebih dikenal sebagai hewan berdarah dingin. Spesies ini mengatur suhu tubuh eksternal sebagai respons dari lingkungan sekitarnya—membuat mereka lebih mungkin mengalami perubahan fisiologis saat menanggapi suhu yang memanas.

Sebagai contoh, beberapa laba-laba di Arktika jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini terjadi karena musim panas yang lebih panjang dan hangat. Saat suhu di Arktika menghangat, ukuran laba-laba bertambah dan reproduksi pun meningkat.

Para peneliti di Washington University mengumpulkan laba—laba serigala dari dua situs di Arktika Alaska, di mana setiap indvidu memiliki ukuran tubuh bervariasi secara alami. Koleksi spesimen ini kemudian dibandingkan dengan apa yang telah dikumpulkan sebelumnya melalui percobaan mesocosm—yakni menempatkan spesies pada lingkungan terturup yang telah meniru habitat asli mereka. Para ilmuwan berhasil memanipulasi dan mengontrol kondisi lingkungan untuk memahami bagaiman kepadatan populasi yang tinggi mengubah kebiasaan makan para serigala.

Ketika peneliti melacak aliran nutrisi melalui jaring makanan dengan analisis isotop stabil, hasilnya menunjukkan bahwa laba-laba betina cenderung memakan spesies makan sendiri.

“Laba-laba serigala eksperimental yang berada di kepadatan populasi tinggi, mengalami perubahan pola makan yang serupa dengan laba-laba serigala di lapangan di  mana ukuran tubuh betina lebih besar. Kompetisi dan kanibalisme di antara laba-laba serigala menjadi yang paling tinggi,” kata Koltz.

Laba-laba serigala di lintang selatan juga telah menunjukkan perilaku serupa, tapi belum diketahui bagaimana itu memengaruhi populasi alami mereka. Salah satu teori mengungkapkan bahwa perubahan perilaku ini dapat membantu mengatur populasi dan mengurangi kompetisi dalam jangka pendek (laba-laba serigala yang makan spesiesnya sendiri cenderung memiliki rentang hidup lebih pendek).

Apa yang terjadi di Arktika, tidak hanya bertahan di sana, menurut para peneliti. “Hasil dari studi ini menjadi pengingat bahwa perubahan ukuran tubuh invertebrata akibat perubahan iklim dapat memberikan konsekuensi ekologis, termasuk pergeseran pola makan, kompetisi, dan struktur populasi,” pungkas Koltz.
Share:

Tuesday, October 25, 2022

Penemuan-penemuan Arkeologis di Natuna yang Perlu Anda Ketahui


Konflik antara Indonesia dengan Tiongkok soal Natuna masih menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan. 
Namun, tahukah Anda bahwa banyak penemuan arkeologi di Natuna yang sangat menarik untuk diketahui dan dipelajari.

Mari simak penemuan arkeologi apa saja yang berhasil ditemukan di Natuna berdasarkan studi dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dari 2011 hingga 2016:

Beliung dan tembikar

Beliung banyak ditemukan di Situs Ceruk Batu Sindhu. Kebanyakan beliung tersebut terbuat dari batu lempung yang keras dan halus. Jenis-jenis beliung tersebut sama seperti yang bisa ditemukan di kawasan Asia Tenggara-Timur dan Pasifik.

Lalu untuk tembikar, mereka memiliki corak yang beragam. Ada yang memiliki tatap bercap atau berukit (paddle mark)--sebuah corak Melayu yang juga banyak ditemukan di daratan Asia Tenggara. Ada juga tembikar berhias geometris pola tumpal yang diisi dengan garis-garis, yang merupakan corak yang populer di Sahuyn (Vietnam) dan Kalanay (Filipina). 

Keramik impor

Ini merupakan temuan paling dominan yang dijumpai di situs-situs arkeologi Natuna sekaligus kunci dalam menyingkap peran Natuna tempo dulu dalam aktivitas perniagaan maritim dan global.

Analisa peneliti menunjukkan keramik yang beragam asal, mulai dari keramik zaman Lima Dinasti (abad ke-9) sampai dengan Dinasti Qing (abad ke-20) dari China, keramik buatan Vietnam dan Thailand antara abad ke-14 sampai 16, ada pula buatan Jepang dan Eropa antara abad ke-19 sampai 20.

Peneliti memprediksi bahwa keramik-keramik ini termasuk jenis barang komoditas dagang yang dibawa dalam kapal-kapal pelayaran jarak jauh.
 
Kuburan dan jasad manusia

Total ada delapan individu yang ditemukan. Satu terletak di Situs Sepempang dan tujuh di Situs Tanjung.

Posisi kuburnya membujur ke arah barat laut - tenggara dengan posisi kepala yang miring menghadap barat daya.

Dikatakan bahwa merekalah orang-orang Natuna kuno yang hidup satu zaman dengan keramik yang ditemukan. Terdapat pula keramik serta perhiasan lain yang terkubur bersama jasad tersebut.

Keranda kubur dan perahu

Penduduk Natuna menyebutnya Benkok atau Benggong. Bentuknya menyerupai sebuah perahu lesung.

Penemuannya terletak antara lain di Situs Sepempang, Batu Bayan, dan Cemaga. Keranda yang ditemukan ukurannya pun beragam, ada yang memiliki panjang 194 cm dengan lebar 40 cm, ada pula yang panjang 210 cm dengan lebar 50 cm.

Yang menarik dari penemuan ini adalah keranda juga ditemukan di berbagai daerah di Vietnam antara lain di Hai Phong, Hanoi, dan Ha Nam dengan karakteristik keranda yang sama. 
Hal ini menunjukkan bahwa ada entitas budaya yang sama yang sejak lama saling berinteraksi di perairan tersebut.

Itulah empat penemuan arkeologis di Natuna yang menarik untuk diketahui dan dipelajari.
Share:
Click to learn more...
close
close

Blog Archive

Vivian.Pimtha. Powered by Blogger.

Find Us On Facebook

Random Posts

Social Share

Flickr

Headline

Sponsor

Agen Togel Online Image may contain: outdoor

Recent Comments

Contributors

Popular Posts

Popular Posts

Blog Archive

Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya

Unordered List

Pages

Theme Support