Welcome to my Blog ^^

  • DOTA2

    Dota 2 is a free-to-play multiplayer online battle arena video game developed and published by Valve Corporation.

  • PARAGON, EPIC GAMES' NEW MOBA ON PLAYSTATION 4 AND PC, PUTS YOU IN THE ACTION WITH DIRECT THIRD-PERSON CONTROL AND DEEP STRATEGIC CHOICE. CHOOSE FROM AN EVER-EXPANDING ROSTER OF UNIQUE HEROES, EARN CARDS TO CUSTOMIZE YOUR ABILITIES, AND TEAM UP WITH YOUR FRIENDS ONLINE TO CLAIM VICTORY.

  • "GAME OF THE YEAR" - IGN

    FIGHT FOR THE FUTURE.

  • Papi4d2

    Bandar Togel terpercaya.

Monday, July 11, 2022

Sistem Sentralisasi Pertanian Menjadi Faktor Runtuhnya Peradaban Khmer


Lebih dari seribu tahun yang lalu, peradaban Khmer kuno menjadi kekuatan budaya dan politik yang  mendominasi sebagian besar Asia Tenggara.

Antara abad ke-9 dan ke-15, Kerajaan Khmer menciptakan beberapa arsitektur paling spektakuler dalam sejarah. Ini termasuk salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia: Angkor Wat. Kuil megah ini menjadi salah satu situs arkeologi paling terkenal di dunia, dikunjungi oleh jutaan turis setiap tahunnya.

Penyebab jatuhnya peradaban Khmer masih menjadi pertanyaan ahli sejarah. Banyak yang mengaitkannya dengan invasi Thailand pada 1431.

Namun sebuah penelitian memaparkan bahwa raja-raja Angkor Wat mungkin secara tidak sengaja menyebabkan jatuhnya kerajaan mereka sendiri.

Para peneliti percaya salah satu alasan utama runtuhnya peradaban Khmer adalah perubahan sistem pertanian dari mandiri menjadi sentralisasi.

Sistem pertanian terpusat ini dibangun oleh raja-raja untuk mendukung dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kerajaan membangun saluran yang panjangnya lebih dari 20 km dan lebar 40–60 m, waduk dan, ladang bertembok. Ini semua digunakan untuk lahan pertanian. Akhirnya, pembangunan ini mengubah sistem pertanian menjadi sentralisasi sehingga banyak masyarakat kehilangan lahannya.

Sentralisasi besar-besaran yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan justru menjadi awal kehancuran peradaban ini.


Peternakan sebelumnya dimiliki dan dijalankan oleh kelas menengah, memungkinkan mereka untuk mendukung komunitas lokal. Penguasa semakin mempersulit warga untuk memiliki tanah sehingga pertanian menjadi pekerjaan kaum elit dan akhirnya menjadi terpusat.

Pergeseran sistem pertanian sebenarnya lebih efisien dalam hal pemerataan pembagian hasil tani. Namun sistem ini kaku dan tidak mampu mengatasi perubahan dengan cepat. Salah satunya adalah kegagalan dalam pembagian hasil panen kepada warga saat musim hujan dan kemarau. Kegagalan ini menyebabkan kemerosotan kerajaan di mana masyarakat Khmer sangat bergantung pada pertanian.

Pertanian adalah tulang punggung masyarakat dan juga alasan utama para penguasa memupuk kekayaannya.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr Sarah Klassen dari Universitas British Columbia dan Damian Evans, seorang arkeologis dari École française d'Extrême-Orient menggunakan teknik pemindaian sinar laser 3D. Mereka memetakan tanah di sekitar Angkor untuk mengungkapkan denah kota selama masa kejayaan peradaban Khmer.

Peta yang dihasilkan mengungkapkan kedua area pendudukan padat dengan blok kota dan jalan-jalan, dan area dengan kepadatan lebih rendah dengan kuil komunitas yang tersebar. Kadang-kadang ditandai dengan sedikit lebih dari sebaran batu bata atau hanya kesan samar gundukan dengan parit di sekitarnya.

Para ilmuwan berfokus pada lokasi kuil yang baru ditemukan. Meski bukan merupakan kuil besar namun kuil menjadi pusat komunitas petani setempat.

Dilansir dari laman Sapiens, peneliti menemukan penurunan drastis dalam jumlah fondasi kuil baru di lanskap selama abad ke-11 dan 12. Ini bertepatan dengan saat dilakukan pembangunan proyek-proyek besar seperti Angkor Wat, rumah sakit, dan jaringan jalan yang luas.

Penjelasan mengapa jumlah kuil yang dibangun menurun ketika proyek-proyek besar sedang dilakukan oleh penguasa diungkapkan pada serangkaian prasasti. Ini berkaitan dengan kepemilikan tanah dan sengketa.


Mereka mengungkapkan bahwa, di peradaban Khmer, tanah awalnya dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Memasuki abad ke-11, warga tingkat menengah tidak lagi dirujuk dalam konteks transaksi tanah atau fondasi kuil baru. Bahkan pada abad ke-12, warga dengan pangkat yang lebih tinggi hanya disebut sebagai pekerja kuil alih-alih pemilik tanah. Kepemilikan tanah makin terkonsentrasi ke tangan orang kaya kemudian raja.

Unit pertanian besar disponsori oleh kerajaan untuk memusatkan hasil pertanian. Pada puncak kekuasaannya di abad ke-13, masyarakat yang tinggal di daerah kecil membentuk pusat budaya.

Perpindahan ke sentralisasi bertepatan dengan penurunan ekonomi dan budaya yang berlangsung selama berabad-abad.

Sistem terpusat mungkin tidak mampu mengatasi populasi yang berkembang pesat, perubahan politik dan budaya dan cuaca ekstrem. Perubahan kepemilikan dan pengelolaan lahan, pertumbuhan pesat populasi warga non-penghasil beras di inti perkotaan menyebabkan kerajaan kesulitan untuk mengatasi masalah. Salah satunya adalah perubahan cuaca ekstrem yang turun memengaruhi panen.

Alih-alih meningkatkan kesejahteraan, sistem yang diciptakan oleh para raja malah menjadi awal kejatuhan peradaban Khmer.

Share:

Friday, July 8, 2022

Anubis, Julukan Fosil Paus Purba Mesir yang Bisa Berjalan di Darat


 Mesir tak selalu tentang Sungai Nil, kerajaan kuno ribuan tahun sebelum masehi, dan gurun yang tandus. Ratusan juta tahun yang lalu, sebagian dataran di negeri Firaun itu adalah bagian dari samudera prasejarah Tehthys.


Nationalgeographic.co.id - Mesir tak selalu tentang Sungai Nil, kerajaan kuno ribuan tahun sebelum masehi, dan gurun yang tandus. Ratusan juta tahun yang lalu, sebagian dataran di negeri Firaun itu adalah bagian dari samudera prasejarah Tehthys.


Iklan untuk Anda: Seluruh Indonesia kaget! Diabetes mudah diobati (lihat di sini)
Advertisement by
Sebelumnya National Geographic Indonesia 2010 lalu mengabarkan, bahwa banyak temuan fosil paus di Mesir. Para paleontolog pertama kali menemukannya sejak 1904, dan ternyata tersebar di Mesir, Moroko, Tunisia, hingga Yordania.

Di Samudera Tethys, genus paus purba itu adalah Basilosaurus, nama latin yang berarti "raja kadal", dan menjadi predator puncak di lingkungannya.


2008 lalu, para paleontolog yang dipimpin paleontolog vertebrata Egyptian Environmental Affairs Agency Mohamed Sameh Atar melakukan ekspedisi di kawasan Cekungan Fayum, daerah di tengah Mesir yang dikenal dengan banyak fosil biota laut dari zaman Eosen. Tetapi, beberapa terdapat fosil yang belum diidentifikasi.

Barulah, lewat penelitian terbaru Antar bergabung dalam penelitian yang mengidentifikasi temuannya itu sebagai paus akuatik dari 43 juta tahun yang lalu. Mereka memberikan nama latinnya sebagai Phiomitecus anubis, yang diadopsi dari nama dewa kematian Mesir kuno karena sifatnya yang mematikan.

Para peneliti mempublikasikan penelitiannya di Proceeding of the Royal Society B: Biological Sciences, Rabu (25/08/2021). Penelitian mereka berjudul A new protocetid whale offers clues to biogeography and feeding ecology in early cetacean evolution.



Paus purba itu ditemukan dengan panjang tiga meter, dan diyakini bisa berjalan di darat dan berenang di air. Paus ini diyakini buas karena memiliki otot rahang yang kuat yang memungkinkan untuk mudah mengunyah mangsa, seperti buaya dan mamalia kecil, hingga spesies paus kecil lainnya.

"Selama sekitar 10 juta tahun, nenek moyang paus berubah dari mamalia darat herbivora, mirip rusa, menjadi cetacea karnivora dan sepenuhnya akuatik," tulis penelitian yang dipimpin Abdullah Gohar. Dia adalah paleontolog di Mansoura University dan peneliti di Egyptian Environmental Affairs Agency.

"Protocetids adalah paus Eosen yang mewakili tahap semiakuatik yang unik dalam transformasi evolusioner yang dramatis itu."

Gohar dan tim menganalisis kumpulan fosil itu, seperti potongan tengkorak, rahang, gigi, tulang belakang, dan rusuknya. Mereka menemukan bahwa P. anubis yang teliti ini beratnya mencapai 600 kilogram, dan merupakan jenis paus paling awal di Afrika dibandingkan dengan kelompok paus semiakuatik protocetids lainnya.

P. anubis ini memiliki fitur yang paling primitif. Para peneliti memaparkan, ada fitur anatomi baru dan strategi makan yang baru diketahui. Misalnya, paus purba ini meemimiliki gigi seri dan taring yang berguna untuk menangkap, melemahkan.



Paus ini juga bisa menahan mangsa yang lebih cepat seperti ikan, dan kinerjanya masih belum dipahami. Para peneliti meyakini, mangsa tersebut akan dipindahkan ke gigi pipi untuk dikunya menjadi potongan-potongan kecil dan ditelan.

"Fitur unik dari tengkorak dan mandibula menunjukkan kapasitas untuk pemrosesan mekanik oral yang lebih efisien daripada kondisi khas protocetid, sehingga memungkinkan gaya makan raptorialnya kuat," tulis Gohar dan tim.
Selain itu, otot-otot besar di kepalanya dapat memberi paus itu tenaga gigitan yang kuat, yang memungkinkannya untuk menangkap mangsa yang besar dalam gertakan dan gigitan.

"Kami menemukan betapa rahangnya yang begitu ganas, mematikan, dan kuat mampu merobek berbagai mangsa," kata Gohar, dikutip dari LiveScience.

Menurut Hesham Sallam, anggota lain dalam penelitian dari Mansoura University, paus purba ini menimbulkan pertanyaan seperti seperti apa ekosistem purba di Mesir, bagaimana asal-usulnya, dan bagaimana koeksistensinya paus purba bisa muncul di Mesir.
 

Share:

Thursday, July 7, 2022

Lambeosaurus, Si Moncong Bebek yang Hidup 90 Juta Tahun Lalu


Para arkeolog tengah disibukkan dalam risetnya mengungkap spesies dinosaurus berparuh bebek, Lambeosaurus atau genus Lambeosaurinae. Diperkirakan genus ini telah tersebar hampir di seluruh penjuru bumi, mulai dari Amerika Utara, Eropa, sampai ke Afrika. Berdasar rekonstruksi dari fosil-fosil yang ditemukan, genus ini memiliki bentuk paruh yang menyerupai bebek, ada pula yang memiliki jambul di kepalanya dan ada juga yang tidak (genus Lambeosaurinae Hadrosauridae).

Temuan fosil pertama kali ditemukan oleh Lawrence Lambe di Alberta, Kanada, pada 1902. Namun, temuan Lambe belum memadai untuk mengungkap spesies baru karena jumlah sedikitnya temuan fosil. Dua puluh tahun kemudian, William Parks berupaya mengumpulkan temuan fosil dan data yang lebih lengkap, serta menamainya dengan Lambeosaurinae. Hal tersebut dilakukannya sebagai penghormatan kepada Lambe yang telah menemukan fosil Lambeosaurinae pertama kali. 

Nicholas R. Longrich dan timnya menulis pada Jurnal Internasional Elsevier yang berjudul The first duckbill dinosaur (Hadrosauridae: Lambeosaurinae) from Africa and the role of oceanic dispersal in dinosaur biogeography pada  2021 tentang penemuan fosil Lambeosaurinae di Afrika. "Lambeosaurus hidup sekitar 90 juta tahun lalu, banyak ditemukan wilayah Afrika dan Amerika Latin yang merupakan wilayah tropis".

Ia menegaskan dalam tulisannya, beberapa fosil Lambeosaurus telah ditemukan di Maroko. "Temuan fosil bagian rahang yang diduga milik Lambeosaurus di bawa ke Marrakech Museum of Natural History di bawah naungan Universitas Cadi Ayyad setelah dilakukan penggalian di wilayah Marrakesh" Tambahnya.

Dinosaurus berparuh bebek lainnya ditemukan di wilayah Eropa. Adynomosaurus salah satu dari genus dinosaurus berparuh bebek, diperkirakan merupakan spesies termuda diantara genus Lambeosaurinae. Ia hidup di akhir era kapur sekitar 60 juta tahun lalu.


Prieto-Márquez beserta timnya menulis pada jurnal internasional Elsevier berjudul Adynomosaurus arcanus, a new lambeosaurine dinosaur from the Late Cretaceous Ibero-Armorican Island of the European Archipelago yang dipublikasi pada 2018, tentang penemuan fosil Adynomosaurus. "Fosil Adynomosaurus ditemukan di Katalunya, Spanyol" tulisnya. Hanya saja tak banyak data yang dikumpulkan untuk dapat merekonstruksi tubuh Adynomosaurus, karena beberapa bagian tulang masih dalam tahap pencarian.

Paleontologist dari Hokkaido, Ryuji Takasaki bersama dengan timnya menelusuri kawasan Alaska, untuk menemukan keberadaan Lambei atau Lambeosaurinae. "Bagian dari tengkorak dinosaurus lambeosaurine dari Liscomb Bonebed, yang hidup berkisar 71-68 juta tahun lalu, ditemukan di Lereng Utara Alaska" tulisnya dalam jurnal Scientific Reports berjudul The First Definite Lambeosaurine Bone From the Liscomb Bonebed of the Upper Cretaceous Prince Creek Formation, Alaska, UnitedStates pada 2019.

Share:

Wednesday, July 6, 2022

Menyelami Danau Indah dan Bertemu Suku Ainu dari Timur Hokkaido


Pengalaman berwisata yang berkesan dapat dirasakan saat merambah Jepang. Negeri Matahari Terbit ini menjadi tempat yang penuh dengan pesona  teknologi, budaya, dan keindahan alam.

Keberadaan kereta super cepat, mesin penjual otomatis, hingga inovasi hotel kapsul yang futuristik dapat membuat siapa pun yang mengunjungi Jepang merasa seperti hidup di masa depan.

Di sisi lain, Jepang juga memiliki keindahan alam dan budaya tradisional dari masa lampau. Taman Nasional Jepang memiliki slogan merk, yaitu "Ada kisah di alam itu, Stories to Experience—National Parks of Japan—" yang menceritakan orang-orang yang hidup di tengah alam, gaya hidup, dan budaya.

Wisatawan bisa melihat keindahan dari perpaduan modern dan tradisional tersebut di Hokkaido, bagian paling utara Jepang.

Hokkaido elok dengan pemandangan alam yang terjaga. Di sana, terdapat pemukiman suku Ainu, masyarakat adat Jepang, yang tersebar di berbagai tempat.

Berbeda dengan yang sering dikatakan dalam rekomendasi destinasi wisata mainstream, Hokkaido tak cuma indah di musim dingin. Setiap musim memberi corak tersendiri pada alam Hokkaido.

Taman nasional juga dapat menjadi tujuan bagi pejalan yang ingin memperoleh pengalaman lengkap mengagumi alam dan kekayaan budaya Hokkaido.

Dari 34 taman nasional yang ada di Jepang, enam diantaranya terletak di pulau ini. Salah satu yang wajib untuk dikunjungi adalah Taman Nasional Akan-Mashu

Taman Nasional Akan-Mashu terletak di timur Hokkaido. Untuk menuju ke lokasinya, dibutuhkan sekitar 1,5 jam perjalanan menggunakan pesawat dari Bandara Internasional Haneda dengan tujuan akhir Bandara Kushiro atau Memanbetsu.

Selanjutnya, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menggunakan Bus Akan yang langsung atau Bus Abashiri via stasiun Abashiri menuju pemberhentian akhir di Akanko Onsen. Namun, pengunjung juga dapat pergi menggunakan kereta JR Line dengan pemberhentian akhir di Stasiun Kawayu-Onsen.

Meski rute yang ditempuh bus dan kereta berbeda, semua perjalanan akan membawa pengunjung melihat keindahan lanskap alam dari timur Hokkaido ini.

Keistimewaan Taman Nasional Akan-Mashu pun dapat dirasakan saat menyusuri tiga danau kalderanya, yakni Danau Mashu, Kussharo, dan Akan yang sebening kristal dan mengunjungi pemukiman suku Ainu.

Melihat pesona danau para dewa

Jika memilih pemberhentian terakhir di Stasiun Kawayu-Onsen, Danau Mashu bisa menjadi pilihan destinasi pertama. Untuk mencapai danau tersebut dari stasiun hanya perlu waktu sekitar 30 menit saja menggunakan mobil atau bus.

Danau Mashu terkenal akan airnya yang sebening kristal. Kejernihan airnya membuat Anda dapat melihat hingga ke dasar danau. Hal tersebut membuat Danau Mashu menjadi salah satu danau terjernih di dunia.

Bahkan, danau ini memancarkan warna biru yang sangat terang dan indah sehingga penduduk lokal menyebutnya Biru Mashu (Mashu Blue).



Sementara, orang-orang Ainu menyebut danau ini dengan sebutan Kamuito atau danau para dewa. Hal ini disebabkan oleh letaknya yang berdekatan dengan Gunung Mashu yang juga disebut sebagai gunung para dewa.

Untuk melihat penampakan Danau Mashu dari sudut panorama yang lebih luas, pengunjung dapat mengunjungi beberapa observatory deck yang tersebar di tepian danau dengan mobil van.

Saat musim dingin, pengunjung dapat menyaksikan fenomena es berwarna pink yang langka dari spot tersebut di pagi hari. Dari observatory deck di Danau Mashu, keindahan pemandangan langit penuh bintang dapat dilihat pada malam hari.

Menikmati aktivitas di alam terbuka di Danau Kussharo

Melanjutkan perjalanan selama 30 menit dari Danau Mashu, pejalan dapat menemukan Danau Kussharo yang merupakan danau terbesar di Taman Nasional Akan-Mashu.

Di tepian danau ini, pengunjung dapat mendaki bukit untuk mencapai Tsubetsu Pass Observatory. Dari sana, pemandangan lautan awan yang menakjubkan dapat dinikmati terutama saat pagi hari di musim panas hingga musim gugur.

Keindahan puncak Gunung Meakan dan Oakan juga dapat dinikmati dari observatory deck tersebut. Keduanya merupakan gunung beraktif yang masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Akan-Mashu.

Musim gugur dan panas di Danau Kussharo tak kalah menyenangkan. Aktivitas seperti bersepeda, memancing, dan berkemah menjadi aktivitas populer yang bisa dilakukan di sekitar danau ini.

Tak hanya itu, pengunjung dapat menjajal menyusuri hulu sungai Kushiro selama 60 menit menggunakan kano. Sungai ini merupakan satu-satunya sungai yang mengalir dari Danau Kussharo.

Airnya yang begitu jernih akan membawa pengunjung menyaksikan keindahan ekosistem sungai.

Saat musim dingin tiba, Danau Kussharo akan dipenuhi oleh angsa whooper yang bermigrasi dari Siberia.

Pengunjung dapat menikmati pemandangan danau indah sambil berendam di onsen—sumber air panas—yang tersedia di sekitar danau.


Menjelajahi Danau Akan dan bertemu dengan suku Ainu

Selain melihat keindahan alam di Danau Mashu dan Kussharo, pengunjung dapat pengalaman keseruan aktivitas di tepi Danau Akan. Lokasinya terletak di bagian barat Taman Nasional Akan-Mashu.

Pengunjung dapat menempuh perjalanan menggunakan Bus Akan langsung dari Bandara Kushiro atau menyewa mobil dari Kawayu-Onsen. Waktu perjalanan yang ditempuh sekitar 1 jam.

Danau Akan merupakan rumah bagi tumbuhan ganggang langka berbentuk bulat yang disebut marimo. Ganggang langka tersebut telah hidup selama berabad-abad dan tumbuh hingga seukuran bola sepak.

Di sekitar danau ini, Pejalan dapat menyusuri jalan setapak dengan pepohonan yang tumbuh di sana. Selama perjalanan, pengunjung dapat menemukan banyak kubah lumpur panas yang menyemburkan gas vulkanik yang disebut Bokke.

Selain itu, pengunjung dapat menyusuri keindahan Danau Akan menggunakan kano. Perjalanan ini akan membawa pengunjung melihat lansekap hutan dan bertemu dengan spesies langka seperti elang ekor putih hingga elang osprey.

Menikmati keindahan hutan di tepi Danau Akan juga dapat dilakukan dengan tur sepeda bersama pemandu. Tur sepeda ini akan mengantar pengunjung melihat pohon katsura berusia 800 tahun.

Pada musim dingin, pengunjung juga dapat bersepeda di atas Danau Akan yang beku sambil menikmati lansekap musim dingin yang indah.

Perjalanan mengitari Danau Akan tidak akan lengkap tanpa berhenti di Akan Ainu Kotan, pemukiman di Akankohan yang dihuni oleh suku Ainu asli.

Tempat ini dipenuhi oleh toko-toko suvenir yang menjajakan kerajinan kayu artistik dan sulaman tradisional khas Ainu, serta restoran yang menyajikan masakan khas suku Ainu.

Share:

Monday, July 4, 2022

Mengunjungi Bangunan Zionis yang Jadi Markas Power Rangers Lewat GMaps


Pernah nonton serial televisi Mighty Morphin Power Rangers? Serial tersebut menceritakan tentang lima pahlawan super yang membasmi kejahatan di bumi. Dalam kesehariannya, kelima superhero tersebut kerap menyambangi markas mereka yang disebut Command Center.

Bentuk Command Center ini adalah berupa gedung megah yang terletak di gurun atau padang pasir. Banyak yang mengira markas Power Rangers ini hanyalah sebuah bangunan yang semata-mata dibangun dan digunakan untuk kepentingan produksi serial TV ini. Hal ini tak lain karena gedung tersebut memiliki tampilan dan desain yang unik.

Namun, siapa sangka bangunan tersebut ternyata asli, bukan dibangun untuk semata keperluan syuting. Dan yang paling menarik, sebagainana dilansir Kompas.com yang mengutip WKDQ, kini bangunan itu bisa dikunjungi secara virtual melalui Google Maps.

Di dunia nyata, Command Center milik Power Rangers ini bernama "House of the Book" yang berada di American Jewish University of Los Angeles, California, Amerika Serikat. Bangunan tersebut merupakan perpustakaan dan gedung pertemuan kampus yang dibangun pada 1973, sekitar 20 tahun sebelum serial TV Power Rangers mengudara. Arsitek yang merancangnya adalah Sidney Eisenshtat.


Apabila melihat sejumlah gambar 360 derajat yang ada di Google Maps, desain bangunan ini memang identik dengan markas Power Rangers. Di bagian tengahnya terlihat bagian bangunan berbentuk tabung yang menjulang tinggi. Dalam serial TV Mighty Morphin Power Rangers, bagian bangunan yang atasnya membulat ini biasa dipakai untuk kanal teleportasi dan berbagai hal canggih lainnya.

Bagian dalam dari bagian tengah bangunan yang lonjong ini sendiri kemungkinan merupakan tempat di mana Zordon muncul. Meski belum bisa dipastikan, cahaya yang menyertai Zordon sendiri memang terlihat berbentuk tabung dan sesuai dengan desain interior ruangan.


Karena merupakan perpustakaan, bagian dalam bangunan ini juga disertai dengan sejumlah ruangan yang diisi dengan aneka rak dan buku. Sementara itu, ruangan utama yang mungkin dipakai untuk menampilkan Zordon dan ruang kendali yang dinakhodai Alpha 5 di serial TV Power Rangers, tampak terlihat kosong melompong di bangunan versi aslinya.

Nah, bagi Anda yang penasaran melihat markas Power Rangers ini, Anda bisa mengunjungi area House of the Book di Google Maps melalui tautan berikut. Anda bisa juga menemukannya sendiri dengan mengetikkan kata House of the Book dalam kotak pencarian Google Maps.

Perlu dicatat, tempat ini termasuk dalam kompleks kampus. Jadi, Google Street View pun tidak bisa melihat setiap sudut bangunan ini secara detail. Artinya, hanya ada beberapa gambar saja yang bisa Anda lihat secara 360 derajat sebagaimana yang terlihat dalam foto-foto di atas

Riwayat House of the Book

Dikutip dari Atlas Obscura, House of the Book yang sempat jadi markas Power Rangers ini merupakan bagian dari kompleks bangunan zionis. Terpengaruh oleh gerakan zionis, pada tahun 1947 Shlomo Bardin mendirikan Brandeis-Bardin Institute, sebuah retret Yahudi yang terletak di Simi Valley, California, Amerika Serikat.

Institut tersebut berada di atas lahan seluas 2.200 hektare dan telah berperan sebagai batu loncatan bagi beberapa tokoh agung dalam komunitas Yahudi, menghasilkan banyak rabi yang dihormati, dan merupakan gerbang awal dari gerakan American Israeli Folk Dance. Bergabung dengan University of Judaism pada tahun 2007 sehingga menjadi American Jewish University, kampus ini dianggap sebagai salah satu pusat budaya Yahudi paling inovatif di AS.

Bagian-bagian dari kampus yang luas ini meliputi taman organik, alun-alun seni pertunjukan, desa permukiman, dan jalur petualangan dengan Tembok Carolina (Carolina Wall) setinggi 50 kaki. Nah, salah satu elemen yang paling luar biasa dari kompleks kampus ini adalah House of the Book.

House of the Book dirancang untuk Brandeis-Bardin Institute pada tahun 1973 oleh arsitek Sidney Eisenshtat. Bangunan tersebut merupakan aula terbesar di kampus itu. Gedung berbentuk silinder yang futuristik itu berfungsi sebagai aula pertunjukan dan telah diterangi cahaya bulan sebagai lokasi produksi beberapa film fiksi ilmiah, antara lain Star Trek VI: The Undiscovered Country.

The House of the Book juga berfungsi sebagai markas ikonik Power Rangers selama awal tahun 90-an ketika para superhero tersebut tampil dalam serial Mighty Morphin Power Rangers. Meski dulu bangunan itu pernah jadi markas Power Rangers, jangan berharap Alpha 5 bakal menyambut Anda saat Anda berkunjung ke sana, ya.

Share:

Saturday, July 2, 2022

Ada Sisa Rempah di Mediterania Kuno, Arkeolog Ungkap Asalnya


Desember lalu, para arkeolog mengumumkan penemuan mereka yang membuktikan pada zaman perunggu dan besi, masyarakat Israel kuno mengonsumsi rempah eksotis yang diimpor dari Asia. Temuan ini dipublikasikan oleh Ashley Scott arkeolog Max Planck Institute for the Science of Human History, dan timnya di sejumlah situs Megiddo dan Tel Erani.

Mereka, dalam laporannya yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, mengidentifikasi protein dari beberapa fosil gigi yang ditemukan di situs tersebut. Mereka menilai bahwa mulut manusia hingga akhir hayatnya penuh dengan bakteri yang seiring zaman memembatu.

“Itu memungkinkan kami mengetahui jjak apa yang dimakan seseorang,” ujar Phillip Stockhammer, salah satu arkeolog yang terlibat. “Siapa pun yang tidak melakukan kebersihan gigi, tentunaya akan memberi tahu kami, para arkeolog soal apa yang telah mereka makan ribuan tahun lalu dari sekarang."

Dari temuan tersebut, mereka menemukan setidaknya terdiri dari 19 protein makanan dari sejenis sereal, minyak sayur, buah-buahan, dan rempah-rempah pada ruas gigi.

“Potensi besar dari metode penelitian ini untuk mengetahui makanan pada jejak arkeologis. Penghitungan pada gigi adalah sumber informasi yang sangat berharga tentang kehidupan masyarakat kuno,” terang Ashley Scott.

Temuan ini menguatkan analisa temuan arkeologis sebelumnya, menemukan beragam makanan yang diangkut di Timur Tengah di masa yang sama dari belahan dunia lainnya. Seperti Punt yang diperkirakan di sekitar Ethiophia, makanan dan rempah eksotis dari Asia Timur yang diduga melewati Asia Selatan.

Stockhammer menjelaskan, terdapat dua protein lain yang dianggapnya luar biasa. Di Megiddo, ditemukan protein kunyit dan kedelai, sedangkan protein pisang juga ditemukan di Tel Erani. Ia beranggapan bahwa kedatangan makanan-makanan tersebut berasal dari Asia Tenggara, dan mencapai Timur Tengah lewat Asia Selatan sejak milenium ke-5 SM.

Selaras dengan pernyataan Stockhammer, sebelumnya terdapat penelitian dengan hasil yang sama melalui pendekatan ilmu mikro dan makro botani yang dilakukan oleh arkeolog Dafna Langgut dari Tel Aviv University. Namun mengenai bagaimana proses perdagangan dan penggunaannya masih misteri.

Pada penelitian lain mengenai rempah dan buah-buahan dari Asia Tenggara, terutama cengkeh dari Indonesia juga terdapat pada mumifikasi Firaun Ramses II. Temuan ini berasarkan laporan arkeolog Giorgio Buccelati dan Marilyn Kelly Buccellati dari UCLA Coetsen Institute of Archeology.

Sedangkan menurut Ayelet Gilboa arkeolog dari University of Haifa, dalam penelitian lain yang dipublikasikan di Britannica, ia memperkirakan bahwa rempah-rempah dari Asia juga tiba di Yunani pada zaman besi berdasarkan dokumentasi yang dipaparkan sejarawan masa Yunani kuno, Herodotus. Gilboa menduga, perdagangannya mencapai Yunani berasal dari Levant (kini Lebanon, Suriah, Israel dan Palestina) melalui jalur darat dan laut.

Diperkirakan rempah-rempah ini dibawa melalui rute perdagangan Asia Selatan ke Timur Tengah, yang keberadaannya diperkirakan sudah ada di dataran Mesopotamia sekitar 1720 SM.

“Analisis kami dengan demikian memberikan informasi penting mengenai penyebaran buah dan rempah di seluruh dunia,” klaim Stockhammer. “Faktanya, kita sekarang dapat memahami dampak globalisasi selama millennium ke-2 SM pada masakan Mediterania Timur.”

“Masakan Mediterania ditandai dengan pertukaran antar budaya sejak awal,” tutupnya.

#MerapahRempah

Share:

Hashshashin, Pembunuh Terampil Sekte Muslim Rahasia Persia dan Suriah


Seorang tentara salib Italia, Condrad of Montferrat, sedang mempersiapkan penobatannya sebagai raja Yerusalem di Tyre pada April 1192. Saat menyusuri jalan sempit kota, ia diserang oleh dua pria yang menyamar sebagai biarawan. Kedua orang itu membawanya pada kematian.

Meskipun para sejarawan masih berspekulasi mengenai siapa yang memerintahkan penyerangan tersebut, tidak ada keraguan mengenai identitas para pembunuhnya.

Mereka bukan biarawan, melainkan anggota sekte muslim rahasia yang terletak di pegunungan Persia dan Suriah.

Agen-agen ini mengkhususkan diri dalam pembunuhan terarah dan spionase--menyusupi barisan musuh  saat akan menyerangnya. Mereka sering kali menggunakan pisau dan rela mati demi misi. 

Mereka terkenal dengan sebutan hashashin atau yang lebih dikenal oleh tentara salib Eropa dengan sebutan assassin. 

Dalam National Geographic dikatakan, mungkin orang Eropa pertama yang tahu tentang hashashin ialah seorang rabi Spanyol, Benjamin dari Tudela, yang melakukan perjalanan melalui Suriah pada tahun 1167.

Dia menceritakan tentang seorang pemimpin misterius, Pak Tua Gunung, yang memimpin sekte prajurit yang tinggal di gunung tersembunyi benteng.

Pada 1092 para Assassin melakukan pembunuhan penting: yakni wazir Nizam al-Mulk, seorang anggota yang kuat dari Kesultanan Seljuk.

Catatan mengatakan bahwa seorang hashashin menyamar sebagai seorang mistik sufi dan menikamnya. Tak lama kemudian, sultan Seljuk, Malik Shah, juga terbunuh.

Catatan mengatakan bahwa seorang hashashin menyamar sebagai seorang mistik sufi dan menikamnya. Tak lama kemudian, sultan Seljuk, Malik Shah, juga terbunuh.

Para sejarawan percaya bahwa pembunuhan sultan ini mungkin dilakukan oleh sekte lain. Meskipun demikian, pembunuhan tersebut memiliki efek domino, dan Seljuk mengalami kekacauan.

Serangkaian serangan hashashin diikuti oleh para penguasa, jenderal, gubernur, dan ulama. Hashashin sepertinya ada di mana-mana.

Musuh mereka mulai mengambil tindakan ekstra untuk melindungi diri mereka sendiri: mempekerjakan pengawal dan mengenakan surat berantai di bawah pakaian mereka.

Share:

Friday, July 1, 2022

Arkeolog Temukan Monumen Neolitik Berusia 4.500 Tahun Dekat Stonehenge


 Sebuah lingkaran selebar dua kilometer dengan lubang-lubang pra-sejarah berdiameter lebih dari 10 meter dan kedalaman lima meter ditemukan di dekat Stonehenge, Inggris. 

Mengutip BBC Indonesia, lubang-lubang tersebut diperkirakan dibuat pada zaman Neolitik dan digali pada lebih dari 4.500 tahun yang lalu.

Menurut para ahli, 20 lubang tersebut setidaknya dipakai sebagai pembatas area sakral yang terkoneksi dengan Stonehenge.


Peneliti dari Universitas St Andrews, Dr Richard Bates, mengatakan bahwa masyarakat di masa lalu lebih rumit dari yang kita bayangkan. Hal ini diteliti melalui deteksi jarak jauh dan pengambilan sampel.

"Praktik-praktik yang canggih jelas menunjukan bahwa masyarakat dulu sangat selaras dengan kejadian-kejadian alam, yang cakupannya tidak bisa dicapai di dunia moderen," kata Bates di laman BBC Indonesia (22 Juni 2020).

Selain itu, sedimen-sedimen yang telah diuji dari lubang-lubang tersebut menemukan kesan baru akan arsip informasi lingkungan yang kaya. 

Penemuan ini memungkinkan para arkeolog untuk menulis narasi detail tentang lanskap Stonehenge dalam 4.000 tahun terakhir.

Selama ini, Durrington Wals merupakan kunci untuk pencarian cerita lanskap Stonehenge. Itulah mengapa penemuan ini menakjubkan, ungkap Dr Nick Snashall, arkeolog dari Lembaga Nasional Tempat-Tempat Bersejarah atau Keindahan Alam Inggris, khusus bagi Situs Peninggalan Sejarah Dunia Stonehenge.

"Penemuan yang menakjubkan ini menawarkan petunjuk tentang hidup dan keyakinan nenek moyang Neolitik kita," ucap Snashall di BBC Indonesia.




 

Share:

Bagaimana Manusia Selamat Dari Letusan Gunung Berapi Toba Purba?


Para arkeologi melaporkan bahwa beberapa Homo sapiens yang hidup di Afrika bisa selamat karena mengembangkan strategi sosial, simbolis, dan ekonomi yang canggih.

Dengan strategi tersebut, Homo sapiens melanjutkan ekspansinya dan menghuni benua Asia 60 ribu tahun lalu, dalam satu gelombang melalui garis pantai Samudera Hindia.

Meski banyak perdebatan mengenai waktu penyebaran manusia pasca atau pravulkanisme Toba, tapi teori ini diungkapkan berdasarkan laporan catatan stratigrafi kuno yang ditemukan di situs Dhaba di Lembah Son, bagian utara India.

Studi
arkeologi terbaru pun mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa populasi manusia berkembang di India 80 ribu tahun lalu dan mereka selamat dari salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam dua juta tahun terakhir.

Dari situs tersebut, ditemukan juga alat-alat yang berhubungan dengan waktu terjadinya letusan Toba. Bukti tersebut menurut para arkeolog menjadi bukti kuat mengenai kehadiran masa Paleolitikum Tengah di India, sebelum dan setelah letusan tersebut.

J.N Pal, pemimpin penelitian dari Allahabad University, menulis: “Meskipun abu vulkanik Toba pertama kali diidentifikasi di Lembah Son pada tahun 1980-an, tapi sampai sekarang kami tidak memiliki bukti arkeologis yang berkaitan hingga situs Dhaba menjawab celah kronologis besar tersebut.”

Dari studi tersebut, diketahui bahwa perkakas yang ditemukan identik dengan yang digunakan oleh Homo Sapiens di Afrika pada rentang waktu yang sama. 

Chris Clarkson, peneliti dari University of Queensland yang juga terlibat dalam studi mengatakan: “Fakta bahwa perkakas ini tidak hilang pada saat letusan besar Toba atau mengalami perubahan dramatis, menunjukkan bahwa ada populasi manusia yang selamat dari bencana tersebut dan terus menciptakan alat-alat untuk memodifikasi lingkungan mereka.“

Clarkson dan ilmuwan lain dalam penelitian tersebut menduga, letusan besar Toba tidak terlalu mengakibatkan pendinginan global hingga menciptakan periode Zaman Es baru.

Bukti arkeologis terbaru ini juga membuktikan bahwa manusia purba dapat beradaptasi menghadapi perubahan lingkungan.

Share:
Click to learn more...
close
close
Vivian.Pimtha. Powered by Blogger.

Find Us On Facebook

Random Posts

Social Share

Flickr

Sponsor

Agen Togel Online Image may contain: outdoor

Recent Comments

Contributors

Popular Posts

Popular Posts

Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya

Unordered List

Pages

Theme Support