Welcome to my Blog ^^

  • DOTA2

    Dota 2 is a free-to-play multiplayer online battle arena video game developed and published by Valve Corporation.

  • PARAGON, EPIC GAMES' NEW MOBA ON PLAYSTATION 4 AND PC, PUTS YOU IN THE ACTION WITH DIRECT THIRD-PERSON CONTROL AND DEEP STRATEGIC CHOICE. CHOOSE FROM AN EVER-EXPANDING ROSTER OF UNIQUE HEROES, EARN CARDS TO CUSTOMIZE YOUR ABILITIES, AND TEAM UP WITH YOUR FRIENDS ONLINE TO CLAIM VICTORY.

  • "GAME OF THE YEAR" - IGN

    FIGHT FOR THE FUTURE.

  • Papi4d2

    Bandar Togel terpercaya.

Monday, October 31, 2022

Ternyata, Pemakaman Korban Black Death Dilakukan Secara Hati-hati


 Pagebluk mengancam banyak jiwa dalam sejarah peradaban manusia, seperti Covid-19 saat ini dan Black Death pada pertengahan abad ke-14. Pada masa Black Death, pagebluk itu menewaskan sekitar 40--60 persen populasi di Eropa.

Akan tetapi, membuktikan kejadian Black Death bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, pagebluk  membunuh begitu cepat dan tak meninggalkan jejak pada kerangka. Situasi itu cuma terekam dalam catatan sejarah. Sedangkan berdasarkan bukti arkeologis hanya bisa teridentifikasi lewat jenazah yang dikubur secara massal dari penanggalan waktu kejadian.

Walau demikian, sebenarnya tak menutup kemungkinan bila sebagian besar korban pagebluk dikubur secara individual, meski masih sulit dikonfirmasi kebenarannya.

Terbatas pada masalah itu, para ilmuwan pun tak begitu saja menyerah sehingga dapat menemukan bukti proses pemakaman korban pagebluk di penghujkung abad pertengahan itu.

Para ilmuwan dari Department of Archaeology at Cambridge University, telah mengidentifikasi keberadaan Yersina Pestis, patogen penyebab Black Death. Penemuan itu berdasarkan penelitian terhadap DNA dari gigi beberapa jenazah di pemakaman umat paroki sekitar Cambridge dan Clopton, Inggris.

Studi ini juga menunjukkan bahwa beberapa korban Black Death di Cambridge memang menerima penguburan massal.

"Secara keseluruhan, dari total 197 individu yang diskrining, sepuluh sampel dinyatakan positif Y. pestis, ditambah tiga kemungkinan lainnya (kemungkinan positif tetapi tidak memiliki cukup data untuk memastikan keberadaan patogen)," tulis para ilmuwan European Journal of Archaeology, Kamis (17/06/2021).


"Delapan identifikasi positif dan dua sementara berasal dari pemakaman tunggal di pemakaman paroki normal dan tempat-tempat keagamaan, termasuk pemakaman paroki All Saints by the Castle, baik pemakaman dan rumah kapitel Biarawan Augustinian, dan paroki pedesaan Clopton."

Secara signifikan, diidentifikasi adanya Yersina Pestis pada beberapa jenazah umat paroki dari St Benedictus yang berdiri sekitar1000-1050. Mereka dikuburkan secara massal di parit besar di halaman gereja yang digali, dan diletakan secara hati-hati pada proses pemakamannya.

"Ada kemungkinan bahwa penguburan massal ini berhubungan dengan Maut Hitam karena kemungkinan terjadi sebelum awal/pertengahan 1350-an, tetapi kemungkinan terkait dengan wabah pada 1361–1362, 1369 dan 1374," tulis Craig Cessford dan tim.

Sedangkan di gereja All Saints by the Castle—gereja paroki yang didirkan sekitar 940-1150, ditemukan 49 kerangka dari kuburan sebagai sampel. 22 di antaranya tewas pada wabah kedua Black Death, dan mayoritas sekitarnya yang sudah meninggal terlebih dahulu sebelum wabah kedua.

Mereka menyimpulkan, selama pandemi kedua Black Death, jenazah orang yang meninggal karena pagebluk dikebumi dengan berbabgai cara. Sebagain pemakaman massal dilakukan secara khusus, dan sebagian besar dilakukan secara normal.

"Mungkin sekitar 2300–3500 orang meninggal karena wabah dalam beberapa bulan pada tahun 1349 di Cambridge dan dikuburkan di tujuh belas gereja paroki, sebuah biara, dua biara, dan empat biara, baik sebagai pemakaman individu maupun pemakaman massal," papar para ilmuwan.

Dalam pemakaman massal, terang para ilmuwan, setidaknya ada lima orang di dalamnya. Ini menandakan bahwa komunitas masyarakat kewalahan dan tidak mampu mngatasi melalui pengubural normal. Tetapi mereka masih memperlakukan mayat sebanyak mungkin dengan rasa hormat.

Baik rohaniawan maupun kaum awam yang tewas akibat Black Death, dikeburukan dengan cara biasa, termasuk biarawan berstatus tinggi. Kadang-kadang, mereka dikebumikan di jantung arsitektur lembaga komunitas.

Hal ini menunjukkan kepedulian lembaga dengan menandai status mereka yang membutuhkan usaha yang berat, maupun pada korban pagebluk maupun tidak. Orang yang meninggal karena pagebluk, dikebumikan di tempat lain di biara, sesuai dengan status mereka.

Cressford dalam rilismengatakan, "Pekerjaan kami menunjukkan kalau sekarang [adalah saat yang] memungkin untuk mengidentifikasi individu yang meninggal karena wabah dan menerima penguburan individu."

"Ini sangat meningkatkan pemahaman kita tentang wabah dan menunjukkan bahwa bahkan di masa yang sangat traumatis, selama pandemi masa lalu, orang berusaha sangat keras untuk menguburnya dengan sangat hati-hati."
Share:

Sunday, October 30, 2022

Arkeolog Menemukan 'Kota Emas Luxor yang Hilang', Pompeii Versi Mesir


Baru-baru ini pemerintah Mesir mengumumkan sebuah penemuan arkeologi yang luar biasa. Mereka menyatakan telah menemukan "kota emas Luxor yang hilang".
Tingkat keawetan pada "kota hilang" yang ditemukan ini telah membuat para peneliti terkesan. Kota ini seperti baru ditinggalkan kemarin sore.

"Tidak ada keraguan tentang itu; ini benar-benar penemuan yang fenomenal," ujar Salima Ikram, arkeolog yang memimpin unit Egyptology di American University di Kairo, seperti diberitakan National Geographic. Menurutnya, ini seperti temuan Kota Pompeii versi Mesir.

Situs kota ini berasal dari era firaun dinasti ke-18 Amenhotep III, yang memerintah antara sekitar 1386 dan 1353 Sebelum Masehi. Amenhotep III memimpin era kekayaan, kekuasaan, dan kemewahan yang luar biasa pada masanya. Kekuasaan Amenhotep III berakhir ketika ia meninggal, dan yang menggantikannya sebagai firaun atau raja Mesir kuno adalah putranya yang bernama Akhenaten.

Namun beberapa tahun setelah kematian Amenhotep III, Akhenaten yang memerintah dari sekitar 1353–1336 Sebelum Masehi itu malah meninggakan segala kekayaan dan kemewahan yang telah diperjuangkan ayahnya itu. Selama 17 tahun pemerintahannya, ia menjungkirbalikkan budaya Mesir, meninggalkan semua panteon (kumpulan dewa) tradisional Mesir kecuali satu, dewa matahari Aten. Ia bahkan mengganti namanya dari Amenhotep IV menjadi Akhenaten, yang artinya “mengabdi pada Aten”.

Firaun sesat itu tidak berhenti di situ. Akhenaten memindahkan kursi kerajaannya dari Thebes (kini Luxor) ke utara ke kota yang benar-benar baru yang dia sebut Akhetaten (kini Amarna) dan mengawasi revolusi artistik yang secara singkat mengubah seni Mesir dari kaku dan seragam menjadi penuh animasi dan detail.

Kota yang memperlihatkan kemewahan pada masa Firaun Amenhotep III itulah yang pada 2021 ini diumumkan telah ditemukan di Mesir.

Situs "kota hilang" yang berusia lebih dari 3.000 tahun ini meyimpan kuil kamar mayat Amenhotep III di sebelah utara yang dibangun abad 14 Sebelum Masehi. Ada juga Medinet Habu, kuil kamar mayat yang dibangun hampir dua abad kemudian untuk Ramses III, di sebelah selatan situs ini.

Para arkeolog juga menemukan sesuatu yang sangat berbeda dari situs kota ini: dinding-dinding bata lumpur berliku-liku setinggi sembilan kaki dan tumpukan artefak kuno dari era Amenhotep III.

Struktur bangunan di situs kota ini menyimpan pula barang-barang keperluan sehari-hari. Banyak di antara benda-benda yang ditemukan ini terkait dengan produksi artistik dan industri yang mendukung ibu kota firaun tersebut.

Ada rumah tempat para pekerja mungkin pernah tinggal, toko roti dan dapur, barang-barang yang berkaitan dengan produksi logam dan kaca, bangunan yang tampaknya berkaitan dengan administrasi, dan bahkan pemakaman yang dipenuhi dengan kuburan batu.

Meskipun ukuran kota ini belum ditentukan, asal tahun kota ini dapat diketahui dengan jelas berkat hieroglif pada berbagai benda yang ditemukan. Sebuah bejana berisi dua galon daging rebus bertuliskan tahun 37 —masa pemerintahan Amenhotep III. Scarab, batu bata, bejana, benda yang ditemukan dan lainnya juga memiliki segel atau tanda kerajaan Amenhotep III.

"Kota hilang ini merupakan penemuan arkeologi terpenting setelah makam Tutankhamun," ujar Betsy Bryan, profesor seni dan arkeologi Mesir di Johns Hopkins University.

Bryan, yang tidak terlibat dalam penggalian, mengunjungi situs tersebut pada hari ketika para arkeolog menemukan langit-langit tanah liat kecil yang dicap dengan hieroglif bertuliskan 'Aten ditemukan hidup di atas kebenaran.' "Itu adalah julukan Akhenaten," kata Bryan. Meskipun langit-langit itu bertuliskan nama Akhenaten, Bryan mengatakan kota itu adalah bagian dari kompleks istana Amenhotep II, ayah Akhenaten.

Begitu Akhenaten berkuasa dan mengubah lokasi istana barunya, dia meninggalkan kota ayahnya itu.

Kehilangan kota itu ternyatan menjadi keuntungan arkeologi modern saat ini. “Luar biasa indah,” kata Ikram.

Ikram membayangkan berjalan melalui jalan-jalan di kota yang masih cukup utuh itu, dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi di mana, katanya, dia mengharapkan seorang Mesir kuno datang di tikungan kapan saja. "Ini menakjubkan," ucapnya.

Kota itu tampaknya telah digunakan kembali oleh Tutankhamun, yang menyingkirkan Akhetaten selama masa pemerintahannya. Namun akhirnya ia juga mendirikan ibu kota baru di Memphis. Ay, yang kemudian mewarisi takhta Tutankhamun saat menikah dengan janda Tut tersebut, tampaknya juga telah menggunakannya.

Empat lapisan permukiman yang berbeda di situs tersebut menunjukkan era penggunaannya hingga era Bizantium Koptik dari abad ketiga hingga ketujuh Masehi. Kemudian, barulah kota itu dibiarkan terkubur dalam padang pasir sampai akhirnya ditemukan kembali baru-baru ini.

Tetapi mengapa kota itu ditinggalkan selama masa pemerintahan singkat Akhenaten? "Saya tidak tahu apakah kita akan semakin dekat untuk menjawab pertanyaan itu melalui temuan kota ini," kata Bryan. “Yang akan kita dapatkan adalah semakin banyak informasi tentang Amenhotep III, Akhenaten, dan keluarganya. Ini masih awal, tapi saya pikir kita akan melihat lebih banyak dan lebih banyak hubungannya."

Share:

Saturday, October 29, 2022

Arkeolog dan Petani Temukan Peradaban Turki Zaman Besi dan Perunggu


Zaman besi dan zaman perunggu adalah era peradaban manusia kunoadiperkirakan sekitar abad kedelapan hingga ketiga sebelum masehi. Banyak dari kisah-kisah tersebut yang umumnya ditemukan di kawasan Indo-Eropa dan Timur Tengah.

Namun siapa sangka, penemuan arkeologi tak sengaja baru-baru ini mengungkapkan bahwa ada kerajaan misterius yang luput dari catatan sejarah kita.

Di Turki, peninggalan peradaban kuno ribuan tahun lamanya tersebut terkuak oleh para arkeolog yang dibantu petani lokal. yang tak sengaja menemukan batu besar prasasti dari penggalian kanal. Penemuan tidak sengaja oleh petani ini berada di Türkmenkarahüyük, Provinsi Konya, Turki pada akhir musim panas 2019.


Kelompok penelitian dari Oriental Institute University of Chicago dan sejumlah institusi lainnya menilai bahwa penemuan dari petani tersebut adalah prasasti peninggalan dari zaman besi dan perunggu.

Berdasarkan laporan penemuan, para arkeolog menerjemahkan prasasti tersebut. Isinya menceritakan tentang penaklukan Frigia, kerajaan yang diperintah oleh Raja Midas dalam mitologi Yunani kuno yang  dikatakan memiliki sentuhan emas.

Pada tulisan prasasti yang ditemukan tersebut, menggambarkan kemenangan seorang raja yang mengalahkan Frigia, Hartapu. Mengenai Raja Hartapu masih menjadi tanda tanya bagi para arkeolog mengenai siapa, dan kerajaan apa yang dikuasainya. Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Luwian salah satu bahasa tertua di Indo-Eropa.

Berdasarkan prasasti raksasa tersebut, para arkeolog menduga lokasi inilah ibu kota kerajaan yang dipimpin Hartapu.

“Kami tidak tahu tentang kerajaan ini. Dalam sekejap, kami mendapatkan informasi baru yang mendalam tentang Zaman Besi Timur Tengah,” kata James Osborne, dari University of Chicago.

Berdasarkan publikasi para arkeolog di situs University of Chicago, bahwa kedepannya para arkeolog akan kembali kepada situs ini pada tahun 2020 ini. Penelitian tersebut untuk menganalisa peninggalan Türkmenkarahüyük yang diduga terdapat kerajaan yang hilang dalam sejarah.

"Kemungkinan di dalam gundukan ini ada istana, monumen, dan permukiman kuno," kata Osborne. 

"Prasasti ini adalah penemuan yang luar biasa. Sangat beruntung. Tapi ini baru hanya permulaan," tutupnya.

Share:

Friday, October 28, 2022

Kapal Berusia 400 Tahun Ditemukan di Laut Baltik dalam Keadaan Hampir Utuh


 Para penyelam dari Finlandia tanpa sengaja menemukan kapal berusia 400 tahun di Laut Baltik.

Dilansir dari Euronews, itu ditemukan 85 meter di bawah permukaan laut dalam keadaan baik. Hanya ada kerusakan kecil di dek, tiang dan haluannya—disebabkan oleh tabrakan dengan pukat ikan.

Secara keseluruhan, lambung kapal hampir utuh, hanya beberapa papan yang hilang.

Kapal ‘Fluit’ milik Belanda ini pernah mendominasi perdagangan Baltik antara akhir abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18. Namun, ia jarang ditemukan.

Kapal tersebut tidak memiliki senjata tetapi mampu membawa banyak beban. Fitur teknisnya sudah canggih untuk ukuran saat itu, memungkinkan kapal dioperasikan oleh jumlah awak yang lebih kecil daripada biasanya.

The Badewanne Diving Team, sekelompok relawan penyelam di Finlandia, ‘tersandung’ kapal Fluit ketika sedang mencari bangkai kapal peninggalan Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

“Penemuan kapal Fluit menawarkan kesempatan unik untuk menyelidiki perkembangan jenis kapal yang berlayar di seluruh dunia dan bagaimana itu menjadi dasar globalisasi modern,” ungkap Dr Niklas Eriksson, arkeolog maritim dari University of Stockholm, dikutip dari Euronews. 

Bangkai kayu hanya dapat bertahan di beberapa tempat di dunia. Salinitas rendah di Laut Baltik, dikombinasikan dengan kegelapan mutlak dan suhu yang sangat rendah sepanjang tahun, telah melindungi kapal 'Fluit' ini dari kehancuran akibat proses pembusukan kimiawi, biokimia dan biologis. Hal itu juga menjaga kapal dari organisme penghancur kayu seperti cacing kapal.
Share:

Thursday, October 27, 2022

Lokasi Tambang Berusia 12 Ribu Tahun Ditemukan di Gua Bawah Laut


 Gua bawah laut di Semenanjung Yukatan, Meksiko, dipenuhi oleh labirin peninggalan arkeologis yang luas. Mungkin belum pernah ditemukan di tempat lain di Bumi.

Terawetkan di gua-gua yang penuh air, cenote (lubang pembuangan alami di Meksiko) menyimpan harta karun mengenai rahasia suku Maya. Selain itu, penemuan artefak kuno ini juga mengungkap kisah prasejarah yang lebih kuno.

Dalam sebuah studi, para ilmuwan melaporkan bahwa mereka telah menemukan tambang terbesar di Amerika yang berasal dari 12 ribu tahun lalu.

“Gua bawah laut ini seperti kapsul waktu,” ujar Ed Reinhardt, penyelam berpengalaman sekaligus ahli mikropaleontologi dari McMaster University.

“Ada bukti jelas tentang penambangan oker yang dilakukan ribuan tahun lalu,” imbuhnya.

Pada penyelaman di tahun 2017, Reindhart dan rekan penelitinya mengeksplor gua di garis pantai Quintana Roo. Gua-gua di wilayah tersebut dikenal menyimpan kerangka prang-orang kuno yang menempati wilayah tersebut ribuan tahun lalu. Yakni ketika level permukaan laut masih rendah sehingga gua-gua itu masih kering dan mudah diakses.

Mengenai mengapa individu kuno memasuku labirin yang berbahaya masih belum jelas. Namun, penemuan terbaru ini mengungkapkan hal baru.

“Lanskap gua telah berubah secara nyata. Manusia purba mungkin mengambuil banyak oker dari sana dan harus menyalakan api untuk menerangi labirin tersebut,” papar Fred Devos, penyelam dan arkeolog dari Research Centre of the Quintana Roo Aquifer System (CINDAQ) di Meksiko.

Di dalam gua, tim menemukan beragam bukti kegiatan penambangan purba, termasuk alat penggalian, ekstraksi oker, penanda navigasi, dan perapian kuno.

Para peneliti mengungkap bukti penambangan di tiga sistem gue yang terendam dari 12 eibu hingga 10 ribu tahun lalu.

Situs bernama La Mina, Camilo Mina dan Monkey Dust mungkin menjadi contoh penambangan oker tertua yang ada di Amerika. Namun, menurut peneliti, gua yang baru ditemukan ini mungkin berusia lebih lama, mengingat ada bukti kerangka yang berusia 12.800 tahun.

Untuk beberapa alasan, penambang di situs ini berhenti mengekstrak oker sekitar 10 ribu tahun lalu. Untuk penyebabnya, peneliti belum mengetahuinya dengan jelas. Pasalnya, gua masih bisa diakses kala itu.

Yang pasti, diperlukan keberanian yang sangat besar untuk menggali ratusan meter ke labirin gua hanya dengan sebuah obor. Fakta bahwa mereka rela berjuang di dalam kegelapan seperti itu, memberi tahu kita betapa pentingnya pigmen oker dalam ritual dan adat Palaeoindian kuno. Mereka rela mempertaruhkan hidup demi mendapatkannya.

 

Share:

Wednesday, October 26, 2022

Perubahan Iklim Mengubah Predator di Arktika Menjadi Kanibal

Saat suhu di wilayah garis lintang utara terus menghangat, itu mengubah fisiologis dan perilaku salah satu predator invertebrata Arktika yang paling melimpah, yakni laba-laba serigala.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan pada Journal of Animal Ecology, dengan banyaknya jumlah populasi laba-laba serigala, maka terganggunya siklus hidup mereka dapat memberikan dampak luas pada tundra. Saat Arktika memanas, laba-laba serigala semakin besar, bereproduksi lebih sering, dan memiliki ‘selera baru’ pada spesiesnya sendiri.

“Data lapangan dan eksperimen kami menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah laba-laba serigala, maka semakin tinggi kemungkinan mereka menjadi kanibal,” kata Amanda Koltz, peneliti utama studi ini dalam sebuah pernyataan.

“Ini mungkin cerminan dari meningkatnya persaingan di antara laba-laba untuk mendapatkan sumber daya,” imbuhnya.

Laba-laba serigala (Pardosa lapponica) merupakan ectothermic atau yang lebih dikenal sebagai hewan berdarah dingin. Spesies ini mengatur suhu tubuh eksternal sebagai respons dari lingkungan sekitarnya—membuat mereka lebih mungkin mengalami perubahan fisiologis saat menanggapi suhu yang memanas.

Sebagai contoh, beberapa laba-laba di Arktika jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini terjadi karena musim panas yang lebih panjang dan hangat. Saat suhu di Arktika menghangat, ukuran laba-laba bertambah dan reproduksi pun meningkat.

Para peneliti di Washington University mengumpulkan laba—laba serigala dari dua situs di Arktika Alaska, di mana setiap indvidu memiliki ukuran tubuh bervariasi secara alami. Koleksi spesimen ini kemudian dibandingkan dengan apa yang telah dikumpulkan sebelumnya melalui percobaan mesocosm—yakni menempatkan spesies pada lingkungan terturup yang telah meniru habitat asli mereka. Para ilmuwan berhasil memanipulasi dan mengontrol kondisi lingkungan untuk memahami bagaiman kepadatan populasi yang tinggi mengubah kebiasaan makan para serigala.

Ketika peneliti melacak aliran nutrisi melalui jaring makanan dengan analisis isotop stabil, hasilnya menunjukkan bahwa laba-laba betina cenderung memakan spesies makan sendiri.

“Laba-laba serigala eksperimental yang berada di kepadatan populasi tinggi, mengalami perubahan pola makan yang serupa dengan laba-laba serigala di lapangan di  mana ukuran tubuh betina lebih besar. Kompetisi dan kanibalisme di antara laba-laba serigala menjadi yang paling tinggi,” kata Koltz.

Laba-laba serigala di lintang selatan juga telah menunjukkan perilaku serupa, tapi belum diketahui bagaimana itu memengaruhi populasi alami mereka. Salah satu teori mengungkapkan bahwa perubahan perilaku ini dapat membantu mengatur populasi dan mengurangi kompetisi dalam jangka pendek (laba-laba serigala yang makan spesiesnya sendiri cenderung memiliki rentang hidup lebih pendek).

Apa yang terjadi di Arktika, tidak hanya bertahan di sana, menurut para peneliti. “Hasil dari studi ini menjadi pengingat bahwa perubahan ukuran tubuh invertebrata akibat perubahan iklim dapat memberikan konsekuensi ekologis, termasuk pergeseran pola makan, kompetisi, dan struktur populasi,” pungkas Koltz.
Share:

Tuesday, October 25, 2022

Penemuan-penemuan Arkeologis di Natuna yang Perlu Anda Ketahui


Konflik antara Indonesia dengan Tiongkok soal Natuna masih menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan. 
Namun, tahukah Anda bahwa banyak penemuan arkeologi di Natuna yang sangat menarik untuk diketahui dan dipelajari.

Mari simak penemuan arkeologi apa saja yang berhasil ditemukan di Natuna berdasarkan studi dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dari 2011 hingga 2016:

Beliung dan tembikar

Beliung banyak ditemukan di Situs Ceruk Batu Sindhu. Kebanyakan beliung tersebut terbuat dari batu lempung yang keras dan halus. Jenis-jenis beliung tersebut sama seperti yang bisa ditemukan di kawasan Asia Tenggara-Timur dan Pasifik.

Lalu untuk tembikar, mereka memiliki corak yang beragam. Ada yang memiliki tatap bercap atau berukit (paddle mark)--sebuah corak Melayu yang juga banyak ditemukan di daratan Asia Tenggara. Ada juga tembikar berhias geometris pola tumpal yang diisi dengan garis-garis, yang merupakan corak yang populer di Sahuyn (Vietnam) dan Kalanay (Filipina). 

Keramik impor

Ini merupakan temuan paling dominan yang dijumpai di situs-situs arkeologi Natuna sekaligus kunci dalam menyingkap peran Natuna tempo dulu dalam aktivitas perniagaan maritim dan global.

Analisa peneliti menunjukkan keramik yang beragam asal, mulai dari keramik zaman Lima Dinasti (abad ke-9) sampai dengan Dinasti Qing (abad ke-20) dari China, keramik buatan Vietnam dan Thailand antara abad ke-14 sampai 16, ada pula buatan Jepang dan Eropa antara abad ke-19 sampai 20.

Peneliti memprediksi bahwa keramik-keramik ini termasuk jenis barang komoditas dagang yang dibawa dalam kapal-kapal pelayaran jarak jauh.
 
Kuburan dan jasad manusia

Total ada delapan individu yang ditemukan. Satu terletak di Situs Sepempang dan tujuh di Situs Tanjung.

Posisi kuburnya membujur ke arah barat laut - tenggara dengan posisi kepala yang miring menghadap barat daya.

Dikatakan bahwa merekalah orang-orang Natuna kuno yang hidup satu zaman dengan keramik yang ditemukan. Terdapat pula keramik serta perhiasan lain yang terkubur bersama jasad tersebut.

Keranda kubur dan perahu

Penduduk Natuna menyebutnya Benkok atau Benggong. Bentuknya menyerupai sebuah perahu lesung.

Penemuannya terletak antara lain di Situs Sepempang, Batu Bayan, dan Cemaga. Keranda yang ditemukan ukurannya pun beragam, ada yang memiliki panjang 194 cm dengan lebar 40 cm, ada pula yang panjang 210 cm dengan lebar 50 cm.

Yang menarik dari penemuan ini adalah keranda juga ditemukan di berbagai daerah di Vietnam antara lain di Hai Phong, Hanoi, dan Ha Nam dengan karakteristik keranda yang sama. 
Hal ini menunjukkan bahwa ada entitas budaya yang sama yang sejak lama saling berinteraksi di perairan tersebut.

Itulah empat penemuan arkeologis di Natuna yang menarik untuk diketahui dan dipelajari.
Share:

Monday, October 24, 2022

Menggemaskan, Cumi Piglet yang Langka Tertangkap Kamera di Laut Dalam


Saat mengeksplorasi bawah laut, kru E/V Nautilus, kapal ekspedisi yang mencari penemuan baru, bertemu dengan hewan langka yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

“Ia seperti cumi-cumi bengkak dengan tentakel dan topi kecil yang melambai-lambai,” ujar salah satu anggota tim.

Sebuah kendaraan bawah air yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV) menangkap gambar hewan ini di kedalaman 1,385 meter (4.500 kaki), di dekat Palmyra Atoll, Samudra Pasifik Utara.

Para ilmuwan bawah laut kemudian mengonfirmasi bahwa itu adalah cumi piglet (Helicocranchia sp.), yang namanya diambil karena bentuknya yang bundar serta memiliki moncong seperti babi.

Diketahui bahwa cumi piglet mengatur daya apungnya melalui ruang internal yang dipenuhi amonia, yakni bahan kimia relatif umum di Bumi yang berbahaya bagi manusia jika terpapar dalam konsentrasi tinggi.

Dilihat dari kamera, makhluk ini terlihat besar. Padahal, ukurannya tidak lebih dari sebuah pir.

 “Cumi piglet seperti memiliki mata, hidung, dan rambut,” ujar salah satu peneliti yang terekam dalam video. Yang dimaksud “rambut” sebenarnya adalah tentakel cumi yang sekilas mirip dengan tanduk rusa.

Cumi piglet masuk ke dalam jenis cephalopoda, moluska bawah air yang cerdas­–sama dengan gurita, sotong, dan nautilus bilik.

Pola berpigmen pada tubuhnya, yang kerap disebut sebagai kromatofor, digunakan untuk kamuflase–meskipun tujuan pastinya untuk makhluk ini perlu dikonfirmasi.

Ketika cumi piglet masih muda, mereka hidup di permukaan laut. Namun, ketika beranjak dewasa, cumi piglet turun ke kedalaman laut yang dikenal sebagai zona senja atau zona mesopelagik. Wilayah lautan yang dingin ini memiliki kedalaman 200-1.000 meter dengan kondisi remang-remang.

Meski begitu, ketika ditemukan, cumi piglet tersebut sedang berenang ke zona bathypelagic yang lebih gelap dan dalam, yakni sekitar 1.000-4.000 meter. Wilayah ini kerap disebut zona tengah malam karena kurangnya sinar matahari yang menembus lapisan laut ini.

Share:

Sunday, October 23, 2022

Selisik Makam Kapten Tack, Perwira VOC Abad Ke-17


“Ini nisannya Pieter Janse van Hoorn,” ujar Lilie Suratminto kepada kami sembari menunjuk batu nisan berhias ukiran aneka lambang heraldik. Bertumpu pada prasasti di nisan tadi dia berujar, “Bersamanya dimakamkan istri dan kedua anaknya, juga Tack yang tewas di Kartasura.”

Lilie, lelaki ramah dengan kumis rapinya, merupakan pengajar bahasa dan budaya Belanda di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Dia pernah melakukan penelitian untuk disertasinya tentang komunitas Kristen di Batavia masa VOC yang dilihat dari batu nisannya.

Tampak lambang heraldik keluarga Pieter Janse van Hoorn yang terukir megah di nisannya. Berbagai ikon melambangkan nama keluarga, profesi, atau asal-usul pemilik lambang. Dari ukiran nisan para pejabat VOC inilah terungkap wibawa mereka. Prasasti pada nisan-nisan VOC dapat merekonstruksi kehidupan sosio-historis warga Batavia.

Pada suatu pagi nan cerah, Lilie bersama kami mengunjungi Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat. Museum terbuka ini bekas sehamparan tanah permakaman Kristen yang mulai digunakan sejak 1795 hingga 1976. Dahulu dikenal sebagai Kebonjahe Kober.


Batu nisan itu bercerita: "Tuan François Tack dari Den Haag lahir 28 Mei 1649 wafat di Kartasura 8 Februari 1686." Tiga baris kata-kata di nisan keluarga Pieter Janse van Hoorn yang mengungkapkan bahwa Sang Kapten nan malang itu dikebumikan di Batavia
Hari itu, di nisan keluarga Pieter Janse van Hoorn, kami menyelisik 28 baris prasasti berbahasa Belanda lama. Berikut ini kutipan tiga baris yang menarik karena berkait dengan Sang Kapten:

“D[en] H[eer] F[rançois] TACK UYT DEN HAAGH GEB[oren] 1649 28 M[...]Y [...] C[...]R[...]SOERA [...] FEB 1686.”

Beberapa patah kata dalam kutipan prasasti itu hilang karena ditimpa sebuah ukiran “HK No.26” yang dibuat pada saat proses pemindahan makam dari Hollandsche Kerk (HK) ke Kebonjahe pada awal abad ke-19. Lilie mencoba menerjemahkan dari rangkaian huruf yang tersisa, “Tuan François Tack dari Den Haag lahir 28 Mei 1649 wafat di Kartasura 8 Februari 1686.”

Saat ini terdapat dua pendapat tentang keberadaan makam Tack. Ada yang mengatakan bahwa Tack dimakamkan di Benteng Jepara, sementara pendapat lain meyakini bahwa raga Sang Kapten itu bersemayam di Batavia.


“Untuk membawa jenazah François Tack ke Batavia tentu terlalu jauh,” ungkap Lilie pada kesempatan lain. “VOC kemudian memutuskan untuk memakamkannya di loji—benteng—kompeni di Jepara.” Namun demikian, menurut Lilie, diduga pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704-1709) jenazah Tack dipindahkan dari Jepara untuk dimakamkan kembali ke Batavia. Buktinya, nama Tack terukir di sebuah nisan keluarga Pieter Janse van Hoorn di Batavia.

Tampaknya, penjelasan Lilie telah mengakurkan dua pendapat tentang lokasi sejati makam Tack: Sang Kapten pernah dimakamkan di Benteng Jepara, kemudian dipindahkan ke Batavia. Di Benteng Jepara tinggalan Portugis itu VOC telah membangun cabang kantor dagangnya untuk kawasan Mataram yang perawatannya dibebankan kepada Keraton Kartasura.

Mengapa Lilie menduga pemindahan makam itu terjadi tatkala Joan van Hoorn berkuasa sebagai gubernur jenderal?

Sang Gubernur Jenderal, menurut pendapat Lilie, ingin menunjukkan kepada masyarakat tentang kepahlawanan Tack, saudara ipar laki-lakinya. Dengan demikian, menurutnya, Tack sudah sepantasnya dimakamkan secara terhormat di dalam Kruiskerk atau \'Gereja Salib\' bersama keluarga orang tua Sang Gubernur Jenderal, Pieter Janse van Hoorn.

Peristiwa pemakaman ini ibarat politik pencitraan yang akan menaikkan pamor Sang Gubernur Jenderal, demikian menurut dugaan Lilie. Kelak, gereja itu pada awal abad ke-18 menjadi Hollandsche Kerk—bekas lahannya kini menjadi Museum Wayang.

“Pemakaman kembali dari Jepara ke Batavia itu biayanya sangat mahal,” ujarnya. Andai kata Tack bukan seorang adik ipar Sang Gubernur Jenderal, barangkali jasadnya tetap abadi di Benteng Jepara. Kalaupun dipindah ke Batavia —sebagai seorang yang hanya berpangkat kapten —mungkin makamnya berlokasi di halaman gereja, bukan di dalam lantai gereja.

Sekilas misi terakhir Kapten Tack. Pada akhir 1685, Tack dikirim dari Batavia ke Keraton Kartasura, Jawa Tengah, karena memanasnya perlawanan pemberontak Bali terhadap VOC. Sang dedengkot pemberontakan itu adalah Untung Surapati. Malangnya, pada 8 Februari 1686, dia dan pasukannya terjebak dalam kemelut pertempuran di sekitar Keraton Kartasura. Laskar Surapati pun berhasil membinasakan mereka. Tack tewas secara mengenaskan dengan 20 luka di sekujur tubuh.


Lalu siapakah sosok terhormat mertua Tack yang bernama Pieter Janse van Hoorn?

Awalnya, Pieter merupakan seorang pedagang mesiu di Batavia namun bangkrut. Kemudian, kembali lagi ke Batavia dan menjabat sebagai penasihat pajak, dewan kota Batavia, dan sederet jabatan bergengsi lainnya. Konon, dia bisa kembali ke Batavia lantaran sang istri, Sara Bessels, yang dikenal dekat dengan para pejabat VOC papan atas.

Nisan keluarga yang kami saksikan tersebut terbuat dari batu gunung atau blauwsteen, yang umumnya dipesan dari pantai selatan India. Prasasti pada nisan menunjukkan bahwa Tack dimakamkan bersama empat jenazah keluarga mertuanya.

Pieter Janse, sang ayah mertua, wafat pada Januari 1682, sedangkan Sara, sang ibu mertua, wafat pada Juli 1686. Di tempat yang sama dimakamkan pula Pieter van Hoorn de Jonge, anak lelaki sulung, dan Catharina van Hoorn de Jonge, putri bungsu mereka. Masing-masing wafat pada November 1680 dan Mei 1683.

Batu nisan juga merupakan ‘arsip penduduk’ masa lampau, demikian menurut Lilie, karena dari prasasti pada batu nisan itu kita dapat merekonstruksi struktur sosial dan budaya suatu masyarakat.


Share:

Saturday, October 22, 2022

Fosil Rusa Prasejarah Ditemukan dalam Keadaan Hampir Lengkap


 Fosil rusa prasejarah yang ditemukan tepat di sebelah utara Buenos Aires, terpelihara dengan baik dan dalam keadaan hampir lengkap, papar peneliti dari La Matanza University.

Fosil yang usianya belum diketahui ini memiliki 70% bagian rusa. Meliputi tulang belakang, kaki dan tangan, serta giginya.

Penemuan ini datang dari situs yang sama di mana 24 fosil mamalia dan reptil ditemukan selama 17 tahun terakhir.

"Sungguh menakjubkan melihat bagaimana tulang belakang dan lehernya berada pada posisi yang sama seperti saat hidup," kata Jose Luis Aguilar, Direktur Paleontological Museum of San Pendro, di utara provinsi Buenos Aires.

Selain satu set gigi dan tulang belakang yang hampir lengkap, fosil yang ditemukan juga terdiri dari 20 potongan tulang rusuk, tulang panggul, kaki belakang, dan bagian tulang paha.

Berat fosil spesies rusa yang berasal dari genus Moerenelaphus ini, kira-kira mencapai 200 kilogram.

"Hewan kecil ini hadir untuk memberi perincian kepada kita bahwa lingkungan prasejarah tempat mereka tinggal, sangat berbeda dengan sekarang," jelas Aguilar.

Penelitian selanjutnya akan dilakukan untuk menentukan usia fosil. Saat ini, diperkirakan rusa Morenelaphus berasal dari zaman Pleistosen yang berlangsung dari 2,5 juta tahun lalu hingga 12 ribu tahun lalu.

Share:

Friday, October 21, 2022

Selidik Genom Kuno Mengungkap Makhluk Apa Sebenarnya Neanderthal


Ahli paleoantropologi telah mempelajari inti DNA, kromosom Y, dan mitokondria kuno untuk mengungkap makhluk apa sebenarnya yang disebut Neanderthal. Mereka menyelidiki sisa-sisa 13 individu yang ditemukan dari dua situs, yaitu gua Chagyrskaya dan Okladnikov di Pegunungan Altai di Siberia selatan.

Laporan lengkap penelitian ini telah mereka terbitkan di jurnal akses terbuka Nature dengan judul "Genetic insights into the social organization of Neanderthals" pada 19 Oktober 2022.

Dijelaskan, Neanderthal adalah primata yang menduduki Eurasia barat dari sekitar 430.000 tahun yang lalu hingga kepunahan mereka sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Data skala genom telah dilaporkan untuk sisa-sisa kerangka 18 individu dari 14 situs arkeologi yang mencakup sejarah Neanderthal di sebagian besar jangkauan geografis mereka yang diketahui, yang membentang sejauh timur Pegunungan Altai di Siberia selatan.

Data ini telah menghasilkan gambaran luas tentang populasi Neanderthal, yang menunjukkan keberadaan beberapa populasi Neanderthal yang berbeda dari waktu ke waktu dan ruang.

Namun, sedikit yang diketahui tentang hubungan genetik dan organisasi sosial di dalam dan di antara komunitas Neanderthal di bagian mana pun di Eurasia selama interval waktu ini.

"Yang kami maksud dengan organisasi sosial adalah ukuran, komposisi jenis kelamin, dan kohesi spatiotemporal suatu komunitas," kata penulis pertama Laurits Skov dari Max Planck Institute untuk Antropologi Evolusi dan rekan-rekannya.

"Kami mendefinisikan komunitas sebagai kumpulan individu yang mungkin tinggal bersama di lokasi yang sama, dan menggunakan istilah populasi untuk kumpulan komunitas yang terhubung secara luas di wilayah geografis yang lebih luas."

Dalam studi mereka, para peneliti menganalisis data genetik 11 Neanderthal dari Gua Chagyrskaya dan dua dari Gua Okladnikov, dua situs Paleolitik Tengah yang terletak berdekatan satu sama lain di Siberia selatan.

Data berasal dari 7 jantan dan 6 betina, dimana 8 orang dewasa dan 5 anak-anak dan remaja muda.

"Neanderthal secara singkat menempati situs-situs ini sekitar 54.000 tahun yang lalu, dan beberapa sisa-sisa Neanderthal yang berpotensi sezaman telah ditemukan dari deposit mereka," kata para penulis.

"Neanderthal ini berburu ibex, kuda, bison, dan hewan lain yang bermigrasi melalui lembah sungai yang diabaikan oleh gua."

Para arkeolog mengumpulkan bahan mentah untuk peralatan batu mereka yang jaraknya puluhan kilometer, dan kemunculan bahan mentah yang sama di gua Chagyrskaya dan Okladnikov juga mendukung data genetik bahwa kelompok-kelompok yang menghuni lokasi ini terkait erat.

Dalam DNA mitokondria Neanderthal ini, para ilmuwan menemukan beberapa yang disebut heteroplasmi yang dibagi antar individu.

"Heteroplasmies adalah jenis khusus dari varian genetik yang hanya bertahan untuk sejumlah kecil generasi," jelas mereka.

Di antara Neanderthal ini adalah terdapat jantan dan betina mudanya serta sepasang kerabat tingkat dua, jantan muda dan betina dewasa. Kombinasi heteroplasmi dan individu terkait dengan kuat menunjukkan bahwa Neanderthal di Gua Chagyrskaya pasti hidup pada waktu yang hampir bersamaan.

"Fakta bahwa mereka hidup pada waktu yang sama sangat menarik," kata Skov.

"Ini berarti mereka kemungkinan besar berasal dari komunitas sosial yang sama. Jadi, untuk pertama kalinya, kita dapat menggunakan genetika untuk mempelajari organisasi sosial komunitas Neanderthal."


Temuan mencolok lainnya adalah keragaman genetik yang sangat rendah dalam komunitas Neanderthal ini, konsisten dengan ukuran kelompok 10 hingga 20 individu.

Ini jauh lebih rendah daripada yang tercatat untuk komunitas manusia purba atau manusia modern, dan lebih mirip dengan ukuran kelompok spesies yang terancam punah di ambang kepunahan.

"Namun, Neanderthal tidak hidup dalam komunitas yang benar-benar terisolasi," kata para penulis.

"Dengan membandingkan keragaman genetik pada kromosom Y, yang diwariskan dari jantan ke anak, dengan keragaman DNA mitokondria, yang diwarisi dari induk, kita dapat menjawab pertanyaan: Apakah jantan atau betina yang berpindah antarkomunitas?"

"Kami menemukan bahwa keragaman genetik mitokondria jauh lebih tinggi daripada keragaman kromosom Y, yang menunjukkan bahwa komunitas Neanderthal ini terutama terkait dengan migrasi betina.”

"Meskipun dekat dengan Gua Denisova, migrasi ini tampaknya tidak melibatkan Denisova, kami tidak menemukan bukti aliran gen Denisova di Chagyrskaya Neanderthal dalam 20.000 tahun terakhir sebelum individu-individu ini hidup."

Temuan itu, menurut Benjamin Peter, penulis senior dari Max Planck Institute untuk Antropologi Evolusi, membuat Neanderthal mirip dengan manusia.

"Studi kami memberikan gambaran konkret tentang seperti apa komunitas Neanderthal," katanya
Share:

Tuesday, October 18, 2022

Peneliti Temukan Fosil Paru-paru Burung Purba Dari 120 Juta Tahun Lalu


Jika biasanya para paleontolog menemukan fosil berupa kerangka, baru-baru ini mereka mengungkap fosil paru-paru dari burung purba yang hidup pada awal periode Cretaceous sekitar 120 juta tahun lalu.

Penemuan tersebut menjadi berharga karena dapat membantu manusia untuk memahami  bagaimana burung-burung tersebut berevolusi dari waktu ke waktu hingga menjadi hewan yang dikenal pada saat ini.

Burung tersebut adalah Archaeorhynchus spathula. Ia merupakan anggota purba dari garis keturunan Ornithuromorpha yang memiliki hubungan ras dengan burung modern.

Pada saat ditemukan di Jiufotang, Tiongkok, fosil itu sudah menarik perhatian karena bulunya yang terawetkan. Ketika mengeksplorasi lebih dekat, diketahui bahwa ada struktur dada burung dengan dua bagian yang bewarna putih yang tidak biasa.

Peneliti menilai, bagian tersebut tidak mungkin isi dari perut burung, karena biasanya itu terlihat lebih hitam dan berkarbon. Bagian misterius ini juga bukan hati. Sebab pada hati, seharusnya muncul warna kemerahan karena kandungan zat besi yang cukup tinggi. Jadi, paru-paru adalah organ yang paling memungkinkan dari penemuan itu. 

Menurut peneliti, fosil paru-paru ini mirip dengan burung yang masih hidup sekarang. Artinya, organ paru yang memungkinkan burung untuk mencapai kapasitas perolehan oksigen untuk terbang sudah ada sejak 120 juta tahun yang lalu.

Jika mamalia melakukan respirasi secara dua arah dengan menghirup udara yang masuk lalu mengeluarkannya, pada pernapasan burung, paru-paru tidak mengembang dan berkontraksi seperti yang manusia lakukan. Sebaliknya, mereka menggunakan kantung udara untuk mendorong udara segar melalui paru-paru.

Dalam artian, udara yang bergerak melalui paru-paru burung memberikan kandungan oksigen yang lebih tinggi terkait kemampuan mereka untuk terbang.

Fosil paru-paru yang baru ditemukan ini, mampu mengungkap beberapa potongan teka-teki sejarah burung. Salah satunya mengenai bagaimana garis burung Ornithuromorpha bisa bertahan hidup selama peristiwa kepunahan Cretaceous. Padahal, banyak burung lain yang tidak bisa selamat. Meski begitu, perlu analisis lanjutan untuk memastikan temuan tersebut. 

Tim peneliti mempresentasikan studi mereka ini pada pertemuan tahunan Society of Vertebrate Palaeontology di Albuquerque dan mempublikasikannya dalam jurnal PNAS pada Senin (22/10/2018).

Share:

Monday, October 17, 2022

Zenobia, Ratu Pemberontak di Suriah yang Menantang Kekaisaran Romawi


 Pada abad ke-3 AD, Palmyra, kota kuno di Suriah, menjadi persinggahan para pedagang yang berpergian melintasi padang pasir. Ini membuat Palmyra cukup kaya dan mendapat julukan “The Pearl of the Desert”.

Palmyra terkenal akan bangunan-bangunan klasiknya seperti Arch of Triumph dan gedung teater. Sebelum 273 AD, kota tersebut terikat dengan otonomi Kekaisaran Romawi dan menjadi salah satu koloni mereka. Di Palmyra ini lah, Ratu Zenobia tinggal.

Sepanjang sejarah, ada perdebatan di antara para ahli terkait kehidupan Zenobia. The Augustan Histories yang tulis akhir era Romawi, menyatakan bahwa Zenobia berkaitan dengan Dinasti Ptolemaik Mesir, seperti Cleopatra. Sementara di Timur, sejawarawan Persia yakin bahwa Zenobia masih keturunan Arab.

Namun kini, para ahli sepakat bahwa Zenobia bukan berasal dari keduanya melainkan dari keluarga asli Palmyra di mana dia mendapat pendidikan yang baik. Menurut Edward Gibbon dalam karya klasiknya, The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, Zenobia fasih dalam berbahasa Yunani, Suriah, dan Mesir.

Zenobia menikah dengan Odaenathus, pria keturunan Arab yang menjadi penguasa Palmyra sejak tahun 263.

Odaenathus melindungi Palmyra dari orang-orang Persia yang baru saja mengalahkan Kaisar Romawi, Valerian. Ia dengan berani menerobos garis perbatasan Persia dan memaksa mereka mundur ke wilayahnya sendiri.

Odaenathus berpura-pura setia kepada Kekaisaran Romawi dan mengklaim bahwa dia bekerja keras untuk mereka. Namun kemudian, diketahui bahwa Odaenathus memiliki motif untuk menjadi “Raja dari Timur” dan melepaskan Palmyra dari kekuasaan Romawi.

Gallienus, anak Valerian, telah menggantikan ayahnya sebagai Kaisar Romawi pada saat itu. Namun, karena posisi Romawi sangat lemah, Gallienus tidak memiliki pilihan lain selain menerima kekuasaan baru yang dibuat Odaenathus di wilayah Timur.


Sayangnya, ketika Odaenathus sudah semakin dekat dengan keinginannya mendirikan Kekaisaran Palmyrene, dia menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh kerabatnya sendiri.

Anak Odaenathus masih terlalu muda untuk memimpin tahta, oleh karena itu, Zenobia menyatakan dirinya sebagai penguasa wilayah Timur yang baru saja direbut dari Persia.

Ia menghukum mati semua yang bertanggung jawab atas kematian suaminya. Zenobia juga mengambil keuntungan dari kekalahan Roma dan berusaha membuat Palmyra sejajar dengan kekaisaran tersebut – permintaan status ini akhirnya disepakati oleh Kaisar Romawi selanjutnya, Claudius Gothicus.

Sedikit demi sedikit, dipandu oleh kebijaksanaan para penasihatnya, Zenobia semakin memisahkan Palmyra dari Roma. Ia kemudian menguasai seluruh wilayah Suriah dan sebagian Anatolia (Turki pada saat itu).


Zenobia memimpin barisan pasukannya menuju Mesir dan menguasai Alexandria. Kemudian, pada tahun 270, ia memiliki kontrol penuh atas Mesir beserta semua kekayaannya. Kekuasaan Zenobia seperti tidak bisa terkalahkan.  

Namun, pemimpin Kekaisaran Romawi selanjutnya berbeda dengan pendahulunya. Lucius Domitus Aurelianus merupakan pria militer yang disiplin dan dipuji-dipuji di Roma karena keganasannya saat bertempur. Selama empat tahun kepemimpinannya, Lucius berhasil memenangkan perang dengan Goth dan mengembalikan kekuasaan Romawi di Gaul, Britannia, dan Hispania.

Awalnya, pembangkangan terbuka yang dilakukan Zenobia tidak dianggap masalah besar oleh Lucius. Namun, fakta bahwa seorang penguasa wanita berhasil melakukan, hal tersebut membuat Kaisar Romawi ini marah.

Lucius kemudian menyerang Palmyra dan mengambil kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya direbut oleh Zenobia.

Ketika orang-orang Roma mengepung kotanya, Zenobia mengirim surat terbuka dan menantang Kekaisaran Romawi. Ia yakin bahwa panah dan kavalerinya mampu melawan pasukan Lucius. Namun ternyata, Kekaisaran Romawi menggandakan pasukannya dan Palmyra pun dipaksa menyerah.

Hingga kini, kematian Zenobia masih menjadi misteri. Para sejarawan berpendapat bahwa sang ratu bunuh diri karena tidak ingin ditangkap dan dibunuh oleh orang-orang Romawi. Namun, ada juga yang mengatakan kalau Zenobia dipenggal di Roma. Sementara itu, hipotesis lainnya percaya Zenobia akhirnya menikah dengan senator dari Romawi.

Share:

Saturday, October 15, 2022

Langka, Kerangka Wanita Romawi Kuno Ditemukan dengan Produk Kecantikan

Ke mana pun wanita Romawi kuno pergi, tampaknya ia selalu bersolek.

Para arkeolog menemukan sarkofagus dari abad ke-3 yang berisi kerangka wanita asal Romawi kuno. Namun, tidak hanya sisa-sisa tubuhnya saja, mereka juga menemukan perhiasan serta alat kecantikkan seperti cermin, yang dikubur bersama kerangka tersebut.

Menurut pernyataan yang dirilis oleh Landesmuseum di Bonn, Jerman, kuburan batu itu ditemukan di rute kuno antara Cologne dan Trier.

Perlu waktu seminggu penuh untuk menggali sarkofagus yang sangat besar dan berat ini. Di dalamnya, arkeolog melihat kerangka wanita yang berusia sekitar 25 hingga 30 tahun ketika meninggal.

Ia dikubur bersama dengan kekayaan dan produk kecantikkan: seuntai mutiara, botol parfum, cermin, palet kosmetik, dan wadah kecil dengan tulisan Latin yang berarti ‘semoga berhasil’.

Masih belum jelas apa yang membuat wanita tersebut meninggal di usia muda. Ada kemungkinan, kegemarannya terhadap kosmetik mengarahkannya pada bahan beracun yang merenggut nyawanya.


Wanita-wanita Romawi kuno memang diketahui memiliki daya tarik terhadap kecantikan dan alat rias. Mirip seperti pria yang menyukai peperangan.

“Kosmetik dan perhiasan adalah dekorasi wanita. Mereka senang dan membanggakan hal tersebut, nenek moyangnya menganggap sebagai ‘harta wanita’,” tulis ahli sejarah dalam buku Encyclopedia of Women in the Ancient World.

Para perempuan akan mencerahkan kulitnya, lalu menggosokkan pigmen ke bibir dan pipi mereka. Terkadang juga mengoleskan antimonium di kelopak mata layaknya eyeshadow. Parfum dari minyak zaitun dan air mawar menjadi hal umum pada masa itu.

Meskipun makam Romawi dengan kosmetik cukup langka, namun produk kecantikan juga pernah ditemukan di kuburan Mesir Kuno. Pria dan wanita biasanya akan menghias mata mereka dengan celak dan membuat tubuhnya wangi dengan parfum.

Beberapa bahan kuno pun masih digunakan hingga saat ini: Beeswax, contohnya, menjadi bahan baku salep bibir modern, sementara celak secara rutin dipakai pada produksi eyeliner masa kini.
Share:

Friday, October 14, 2022

Blood Moon dan Ramalan Mengenai Kiamat yang Tidak Dapat Dipisahkan


Pada tanggal 28 Juli mendatang, sebuah fenomena astronomi menarik akan kembali terjadi. Bulan akan mengalami gerhana total dengan warna merah yang menyelimuti satelit Bumi ini.

Warna merah yang tampak pada Bulan sebenarnya juga berasal dari cahaya Matahari. Walau mengalami gerhana total, Bulan tidak akan terlihat gelap gulita

Ketika cahaya Matahari masuk ke Bumi dan melewati atmosfer, cahaya dengan frekuensi tinggi (hijau, biru, dan ungu) akan dengan mudah dibiaskan oleh molekul atmosfer—hal inilah yang menciptakan warna biru pada langit saat siang hari.

Sementara cahaya dengan frekuensi rendah, seperti cahaya kuning, oranye, dan merah akan dengan mudah menembus atmosfer Bumi. Cahaya ini akan "jatuh" lurus memasuki Bumi. Arah jatuh cahaya dan peran sedikit pembiasan akan mengubah arah cahaya frekuensi rendah ini ke arah umbra Bumi—
bayangan inti yang berada di bagian tengah sangat gelap pada saat terjadi gerhana.

Bulan yang sedang berada di area umbra ini kemudian akan nampak kemerahan akibat cahaya frekuensi rendah Matahari yang dipantulkan tersebut.

Dikaitkan dengan kiamat dan 70 tahun Israel

Fenomena astronomi ini memang terkesan mistis dengan visualnya, Bulan berwarna merah seperti darah. Bahkan nama yang diberikan juga mendukung kesan menakutkan, blood moon.

Bagi sebagian orang, fenomena ini tidak lebih dari "sekadar" fenomena antariksa pada umumnya. Namun sebagian orang lainnya menganggap bahwa blood moon adalah sebuah pertanda akan datangnya kiamat.

Baca juga: Perjuangan Orang Kokos Mendapat Pengakuan Sebagai Suku Asli Australia

Paul Begley, seorang pemuka agama asal Indiana, Amerika Serikat, mengatakan bahwa peristiwa ini adalah sebuah tanda akhir zaman. "Fenomena blood moon terpanjang abad ini, terjadi tepat tahun ke-70 Israel menjadi sebuah bangsa", ucap Paul Begley seperti dikutip dari express.co.uk.


Teolog ini juga mengaitkan tahun ketika Yerusalem dinyatakan sebagai kota Tuhan yang kekal dengan letusan gunung berapi di Hawaii.

Paul Begley mencocokkan ramalan tersebut dengan petikan Kitab Suci Yoel 2:30-31, Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan yang hebat dan dahsyat itu.

Tidak hanya Paul Begley, John Hage yang juga seorang pemuka agama juga sempat mengutarakan hal yang sama. John mengatakan bahwa tanda-tanda mengenai "hari Tuhan yang dahsyat" adalah matahari menjadi gelap dan bulan menjadi merah darah.

Saat itu gerhana Bulan memang berdekatan dengan hari raya Paskah, 5 April 2015. Gerhana Bulan saat itu merupakan bagian dari rangkaian empat gerhana bulan total 15 April 2014, 8 Oktober 2014, 4 April 2015, dan 28 September 2015—disebut sebagai lunar tetrad.

Penulis buku "Four Blood Moons" ini berpendapat bahwa gerhana Bulan yang terjadi pada akhir pekan Paskah adalah sebuah tanda akan datangnya peristiwa besar. "Mungkin bukan kiamat, namun pastinya akan mengubah dunia", ucap John saat itu.

"Saya yakin, kita akan melihat peristiwa yang dramatis terjadi di Timur Tengah, yang melibatkan Israel. Peristiwa itu akan mengubah sejarah di Timur Tengah dan memiliki dampak pada dunia", tambahnya, seperti dikutip dari Daily Mail.

etrad yang terjadi pada tahun 1493 dikaitkan dengan pengusiran orang-orang Yahudi di Spanyol. Tetrad pada tahun 1949 dikaitkan dengan didirikannya negara Israel. Sementara Tetrad pada tahun 1967 dikaitkan dengan Perang Enam Hari antara Arab Saudi dan Israel.

Seperti dikutip dari Liputan6, Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin berharap agar masyarakat tidak mudah memercayai hal yang mengaitkan gerhana dengan berbagai hal mistis. "Itu semuanya mitos", ucap Thomas. (Bhisma Adinaya/National Geographic Indonesia)

Share:

Thursday, October 13, 2022

Atlas Kuno Milik Para Penjelajah Dunia Kini Dilelang di Inggris


Dahulu kala, mereka digunakan oleh para penjelajah seperti Christopher Colombus untuk menavigasi laut dan menemukan benua. Namun, kini, peta kuno paling berpengaruh di dunia akan dilelang di London, Inggris, pada 15 Mei mendatang. 

Di antara 400 koleksi, terdapat 1472 ‘T-O’, atlas cetak pertama di dunia yang menunjukkan bagaimana Bumi diatur berdasarkan konsep agama Kristen.

Atlas tersebut memperlihatkan benua Asia, Afrika, dan Eropa, dalam tiga bagian. Benua Eropa dan Afrika memenuhi empat sisi atlas. Sementara, Asia memenuhi setengah bagian atasnya.

Sebuah lingkaran mengelilingi tiga benua yang menandakan lautan dan menunjukkan bahwa Bumi itu bulat.

Atlas tersebut menunjukkan bagaimana Laut Tengah memisahkan benua Eropa dan Afrika. Juga bagaimana Laut Merah dan sungai Don memisahkan kedua benua itu dari Asia.

Selain menampilkan bentuk Bumi dengan detail, di dalam atlas itu,  terdapat gambar putra-putra Nabi Nuh di sekitar benua.

Atlas yang terdapat dalam buku karangan Saint Isidore of Seville tersebut, diharapkan bisa terjual dengan harga sekitar 40 ribu poundsterling hingga 60 ribu poundsterling, pada acara pelelangan Sotheby di London

Peta penting lainnya adalah koleksi atlas pertama yang menggunakan garis bujur dan lintang.

Dibuat oleh kartografer, astronom, dan filsuf terkenal, Claudius Ptolemaus, atlas itu menjadi salah satu contoh paling awal yang pernah dibuat.

Nilai lelang atlas dari abad ke-2 ini diperkirakan mencapai 80 ribu poundsterling – termahal di antara koleksi lainnya.


Francesco Berlinghieri, seniman Italia, membantu membuat peta tersebut dan menambahkan tampilan artistik: 12 kepala angin yang mengelilingi peta.

Atlas tersebut diyakini pernah digunakan oleh Christoper Columbus saat ia tak sengaja menemukan ‘Dunia Baru’.

Cecilie Gasseholm, dari pelelangan Sotheby, mengatakan: “Ptolomeus menggunakan perhitungannya sendiri tentang ukuran Bumi saat membuat peta tersebut.”

“Saat Christopher Columbus berlayar dari Spanyol pada 1492, ia menggunakan perhitungan tersebut sebagai petunjuk pelayaran. Namun, ternyata itu kurang akurat sehingga mengakibatkan kolonisasi Spanyol di Amerika,” tambahnya.

Selain kedua atlas tersebut, ada beberapa peta kuno lainnya. Beberapa di antaranya, tampil dengan visual mencolok dan penuh kemewahan. Ia juga dihiasi dengan sketsa dan ilustrasi berwarna.


Yang lainnya, memiliki bentuk yang lebih besar – kemungkinan akan menjadi dekorasi dinding kantor para pebisnis.

Peta-peta dari abad ke-16 hingga 19, menunjukkan perkembangan pemahaman manusia tentang dunia.

Share:

Wednesday, October 12, 2022

Peneliti Prediksi 7 Benua Akan Menyatu Kembali dalam 250 Juta Tahun


Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata benua? Pikiran Anda mungkin akan langsung tertuju pada 7 benua yang sudah pernah dipelajari di sekolah. Namun, tahukah Anda bahwa jutaan tahun lalu Bumi tidak terbagi menjadi benua-benua yang ada seperti sekarang? Pada masa itu hanya ada satu benua super besar bernama Pangea.

Kini, sebuah penelitian baru di Geophysical Research Letters yang diterbitkan Rabu, (11/4/2018) mengungkap adanya kemungkinan benua super besar ini terbentuk lagi di masa depan. Dengan menggunakan pemodelan statistik, para ilmuwan mengungkap bahwa dalam 250 juta tahun, masing-masing benua kita sekali lagi akan bergeser menjadi benua super tunggal yang dikelilingi oleh lautan.

Seperti yang kita tahu, posisi benua Bumi bergantung pada pergerakan, tenggelamnya, serta bergesernya lempeng tektonik. Selain itu, ukuran dan bentuk cekungan lautan juga mempengaruhi posisi benua.

Melalui studi baru itu, para peneliti menunjukkan bahwa pergerakan lempeng tektonik juga menentukan siklus pasang surut super (super tidal) yang mengendalikan kekuatan gelombang laut. Siklus panjang ini pada gilirannya, menciptakan perubahan dalam energi pasang surut (energi tidal) yang menurut para peneliti terkait dengan pembentukan benua super setiap 400 hingga 600 juta tahun.

"Simulasi kami menunjukkan bahwa saat ini gelombang itu sangat besar," kata Mattias Green, Oceanografer Universitas Bangor, Inggris dikutip dari Inverse, Rabu (11/04/2018).

"Jika gelombang melemah hingga 200 juta tahun yang lalu, lalu menjadi sangat energik selama dua juta tahun terakhir, kira-kira apa yang akan terjadi jika kita proyeksikan jutaan tahun di masa depan? Itu benar-benar adalah pertanyaan yang memotivasi kami," tambahnya.

Tertarik dengan hal tersebut, Green dan timnya menciptakan model yang menyimulasikan gerakan lempeng tektonik dan perubahan resonansi cekungan laut. Hal ini mereka lakukan untuk menjawab pertanyaan itu.

Dari analisis mereka kemudian menyimpulkan bahwa lautan akan melalui beberapa siklus pasang surut sebelum benua super berikutnya benar-benar terbentuk. Dan saat ini kita sedang berada pada tahap awal dari energi pasang surut maksimum dan gelombang laut diperkirakan akan bertahan selama 20 juta tahun lagi.

Akhirnya, lempeng Amerika Utara dan Eurasia akan menjauh, Samudara Atlantik akan berubah perlahan dan melebar. Jika pemodelan ini benar, maka dalam 50 juta tahun Asia akan terpecah, menyebabkan terbentuknya samudra baru. Ditambah lagi, dalam 100 juta tahun, Australia akan bergerak ke utara menuju ke bagian bawah Asia.

Ketika benua-benua bergabung menjadi satu, energi pasang surut akan menurun dan akhirnya lautan luas yang tenang akan mengelilingi benua super. Meski benua super baru akan terjadi dalam waktu jutaan tahun lagi. Informasi ini akan digunakan oleh para ilmuwan untuk mempelajari hubungan antara pasang surut dan kehidupan laut yang berkelanjutan.



 

Share:

Berapa Lama Lagi Manusia Bisa Bertahan di Planet Bumi?


Suatu hari nanti, manusia mungkin akan bisa menanggulangi dampak pertambahan penduduk, seperti kelaparan, perang dan wabah penyakit; tapi satu hal yang pasti, bumi akhirnya akan musnah terbakar dengan segala isinya.

Hari Kiamat? Mungkin. Tapi masih lama, kira-kira 6,5 milyar tahun lagi.

Sebuah laporan tentang masa depan matahari kita menunjukkan, walaupun bumi mungkin tidak akan hancur sama sekali setelah matahari meledak, sisa yang tinggal hanya akan berupa sebuah batu karang besar yang kering dan beku tanpa kehidupan apapun.

Kata para ahli, dengan memperhitungkan komposisi matahari yang sekarang, serta tingkat evolusinya, diperkirakan matahari akan mati atau habis terbakar dalam serentetan ledakan gas helium yang akan menghancurkan kira-kira 40 persen bobotnya.

Menurut perhitungan para ahli itu, bumi masih punya waktu kira-kira 6,5 milyar tahun lagi sebelum kehidupan di planet ini tidak bisa lagi dipertahankan. Sebab pada waktu itu, matahari akan mulai membengkak, sampai akhirnya menjadi benda angkasa yang besarnya 200 kali dari sekarang, dan memancarkan panas yang sangat tinggi.

Suhu yang tinggi itu akan menguapkan semua air di laut, sungai dan danau, dan membunuh segala bentuk kehidupan di bumi. Sistem tata surya kita yang sekarang, kata para ahli, dengan satu matahari dan delapan planet yang beredar di sekelilingnya, termasuk bumi, tercipta kira-kira 4,5 milyar tahun yang lalu.

Hasil penelitian terhadap matahari atau bintang yang terdapat dalam sistem tatasurya lain menunjukkan, matahari yang kita lihat tiap hari itu, umurnya sudah hampir mencapai separuh masa hidupnya, yang diperkirakan 12 milyar tahun.

Para pakar menggolongkan matahari ke dalam bintang kelas G, diukur dari tingkat cahaya, serta warna radiasinya yang tampak dari bumi. Suhu di permukaannya sekarang diperkirakan sekitar 10.300 derajat Fahrenheit atau 5.700 derajat Celsius.

Saat ini matahari masih berada dalam fase utama yang stabil, dimana ia terus membakar persediaan gas hidrogen yang terkandung di dalamnya. Sebagai bintang dari kelas G, matahari diperkirakan akan terus berada dalam tahap itu selama 6,5 milyar tahun lagi.

Sebuah laporan yang dimuat dalam majalah Astrophysical Journal mengatakan, setelah matahari mencapai umur 11 milyar tahun, benda angkasa itu akan memasuki fase perkembangan berikutnya, dan menjadi apa yang digambarkan sebagai bintang raksasa yang berwarna merah.

Bintang raksasa itu terbentuk karena gas helium yang terdapat di bagian intinya meledak, sehingga matahari menggelembung 200 kali lebih besar dari ukurannya yang sekarang, dan cahayanya-pun 2.000 kali lebih terang.

Kemudian, untuk masa 150 juta tahun berikutnya, suhu matahari akan turun lagi, karena helium yang terdapat di bagian intinya sudah habis. Tapi kemudian gas helium yang terdapat di lapisan-lapisan lebih luar akan meledak secara beruntun, serta melemparkan bagian-bagian yang hancur itu ke angkasa, sehingga bobot atau massa matahari akan terus berkurang.

Satu juta tahun kemudian, matahari terus menyusut ukurannya, sampai cahayanya redup dan akhirnya hilang sama sekali.

Sebelum itu, manusia mungkin sudah sempat pindah ke planet lain, seperti dibayangkan oleh mendiang pakar astrofisika terkenal, Profesor Stephen Hawking, dan Elon Musk, pebisnis besar yang sedang menyiapkan penerbangan manusia ke planet Mars. Manusia masa depan itu, mungkin bisa menyaksikan sistem tatasurya yang sedang mati itu; sebagai sebuah bintang gelap atau bintang hitam yang di kelilingi planet-planet yang hangus terbakar.



 

Share:
Click to learn more...
close
close

Blog Archive

Vivian.Pimtha. Powered by Blogger.

Find Us On Facebook

Random Posts

Social Share

Flickr

Sponsor

Agen Togel Online Image may contain: outdoor

Recent Comments

Contributors

Popular Posts

Popular Posts

Blog Archive

Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya

Unordered List

Pages

Theme Support