Welcome to my Blog ^^

  • DOTA2

    Dota 2 is a free-to-play multiplayer online battle arena video game developed and published by Valve Corporation.

  • PARAGON, EPIC GAMES' NEW MOBA ON PLAYSTATION 4 AND PC, PUTS YOU IN THE ACTION WITH DIRECT THIRD-PERSON CONTROL AND DEEP STRATEGIC CHOICE. CHOOSE FROM AN EVER-EXPANDING ROSTER OF UNIQUE HEROES, EARN CARDS TO CUSTOMIZE YOUR ABILITIES, AND TEAM UP WITH YOUR FRIENDS ONLINE TO CLAIM VICTORY.

  • "GAME OF THE YEAR" - IGN

    FIGHT FOR THE FUTURE.

  • Papi4d2

    Bandar Togel terpercaya.

Thursday, December 30, 2021

Penampakan Mirip Monster Jepang Ditemukan di Rasi Bintang Sagitarius


Penampakan mirip monster raksasa dari film Jepang terlihat di sebuah gambar dari luar angkasa. Gambar penampakan ini diambil oleh Teleskop Luar Angkasa Spitzer NASA, yang beroperasi dari tahun 2003 hingga 2020.

Gambar yang didapat oleh Teleskop Luar Angkasa Spitzer ini sebenarnya menunjukkan penampakan pembibitan nebula bintang-bintang yang terletak di rasi bintang Sagitarius, di sepanjang bidang Bima Sakti. Wilayah terang di kiri bawah (yang sepertinya dipegang oleh makhluk besar?) adalah wilayah pembentuk bintang yang dikenal sebagai W33, dan berjarak sekitar 7.800 tahun cahaya dari Bumi.

Makhluk besar apakah yang dimaksud? Petunjuknya, cobalah ingat-ingat sosok monster raksasa yang berasal dari film Jepang tahun 1950-an.

Kalau masih sulit menebaknya, Anda mungkin perlu menyipitkan mata sedikit dan menggunakan imajinasi Anda sebelum identitas monster itu disebutkan di akhir tulisan ini.

Kembali terkait detail gambar ini. Gambar ini dulu diambil sebagai bagian dari Spitzer's GLIMPSE Survey, yang merupakan singkatan dari Galactic Legacy Infrared Mid-Plane Survey Extraordinaire. Meskipun teleskop Spitzer sekarang sudah pensiun alias sudah tak beroperasi lagi, gambar-gambar yang pernah dikumpulkannya dari luar angkasa masih dianalisis oleh banyak ilmuwan.

Salah satu yang melakukan analisis terhadap gambar-gambar itu adalah Robert Hurt, astronom dari California Institute of Technology (Caltech). Yang menarik, dengan menggunakan sedikit imajinasinya, dia berhasil menemukan sesuatu dalam salah satu gambar tersebut.

Seperti yang terlihat dalam gambar terakhir di atas, Hurt berpikir seolah ada monster Godzilla di gambar tersebut.

"Saya tidak mencari monster," kata Hurt, seperti dikutip dari Science Alert.

"Saya kebetulan melihat suatu wilayah langit yang telah saya jelajahi berkali-kali sebelumnya, tetapi saya tidak pernah memperbesarnya. Terkadang jika Anda hanya memotong suatu area secara berbeda, itu memunculkan sesuatu yang tidak Anda lihat sebelumnya. Itu adalah mata dan mulut 'Godzilla' yang meraung kepada saya."

Pareidolia adalah kecenderungan untuk melihat sesuatu yang bermakna dalam gambar yang tidak berarti, dan itu cukup sering terjadi, termasuk dalam gambar alam semesta. Hal itu pulalah yang tampaknya terjadi pada Hurt saat melihat gambar tersebut.

Kembali soal pembibitan nebula bintang-bintang yang ditunjukkan oleh gambar ini, warna biru, cyan, hijau, dan merah digunakan untuk mewakili panjang gelombang cahaya inframerah yang berbeda, dengan kombinasi kuning dan putih dari panjang gelombang tersebut. Biru dan cyan menunjukkan cahaya yang dipancarkan oleh bintang-bintang, hijau menunjukkan debu dan molekul organik yang disebut hidrokarbon, dan merah menunjukkan debu hangat yang dipanaskan oleh bintang-bintang atau supernova.

Pekerjaan Hurt dalam memeriksa data yang dikumpulkan oleh Spitzer memerlukan kesabaran, ketelitian, serta ketekunan. Untuk meningkatkan kesadaran akan pekerjaannya inilah Hurt terkadang mengasosisasikan gambar-gambar yang ia lihat dengan objek-objek populer seperti monster Godzilla untuk membangun kisah-kisah menarik yang telah dibawa oleh Spitzer.

"Ini adalah salah satu cara kami ingin orang terhubung dengan pekerjaan luar biasa yang dilakukan Spitzer," kata Hurt.

"Saya mencari area menarik yang benar-benar dapat menceritakan sebuah cerita. Terkadang ini adalah cerita tentang bagaimana bintang dan planet terbentuk, dan terkadang tentang monster raksasa yang mengamuk diTokyo."
Share:

Tuesday, December 28, 2021

Fenomena Langka, Seekor Bayi Penyu Berkepala Dua Ditemukan di Florida


Saat memeriksa sarang kosong yang ditinggalkan bayi penyu tempayan yang baru saja ditetaskan, pekerja lapangan di University of Central Florida melihat seseorang yang nampaknya sedang mengikuti sesuatu. Setelah diperiksa lebih dekat, ternyata seseorang tersebut mengikuti bayi penyu yang memiliki dua kepala.

Ribuan penyu bertelur di sepanjang jalan sejauh 29 mil yang dipantau oleh universitas tersebut. Di samping itu, masih banyak penyu yang masih bertelur di sepanjang Florida, salah satu agregasi penyu tempayan terbesar di dunia. Pada tahun 2016, lebih dari 122.000 penyu lahir dari sarang negara bagian.

"Tidak jarang menemukan penyu yang terlahir dengan kelainan perkembangan," kata Kate Mansfield, pengelola Marine Turtle Research Group di universitas. "Namun, jarang sekali menemukan fenomena kelainan. Sepanjang karir saya, ini merupakan pertama kalinya saya melihat penyu berkepala dua,” tuturnya.

Penyu tempayan dilindungi oleh U.S. Endangered Species Act, dan International Union for the Conservation of Nature mengklasifikasikan reptil besar yang rentan terhadap kepunahan.

Apakah Mampu Bertahan Hidup?

Ketika dilepaskan, penyu tersebut dengan enerjik merangkak pergi menuju lautan. "Mungkin penyu itu bisa bertahan, tetapi kemungkinannya cukup rendah," ujar Mansfield, yang menambahkan mutasi genetik yang diduga menyebabkan penyu tersebut memiliki dua kepala.

Menurut Sea Turtle Conservancy, kemungkinan penyu bertahan hidup untuk penetasan telur adalah rendah. Hanya 1:10.000 bayi penyu yang dapat hidup hingga dewasa.

Penyu tersebut ditemukan saat dilakukan pemeriksaan rutin pada sarang. Gambar-gambar ini diambil oleh UCF Marine Turtle Research Group saat melakukan penelitian yang diizinkan (Izin MTP-186). (Leah Rittenberg, UCF Marine Turtle Research Group)
Penyu menghadapi banyak bahaya di sepanjang rute migrasi mereka. Jaring pemancing, pembangunan di sepanjang garis pantai, dan perubahan iklim, semuanya berdampak pada kesempatan para penyu tempayan untuk bertahan hidup.

Ketika ditanya apakah dia pernah bertemu dengan penyu dewasa dengan kelainan yang parah, Mansfield mengatakan bahwa itu jarang sekali terjadi. Dari penyu liar yang diamati oleh peneliti, betina lebih sering ditemukan bertelur di pantai.

Terkadang, timnya menemukan seekor penyu dengan cangkang cacat. Namun, masalah yang paling sering dia lihat adalah luka-luka, bukan kelainan anatomis. "Biasanya, cedera tersebut disebabkan oleh hantaman kapal atau kaki yang digigit,” ucap Mansfield.

Penyu itu dilepaskan dan ia bergegas pergi dengan energik. Penyu ini mungkin akan bertahan, meskipun peneliti mengatakan bahwa hal iitu tidak mungkin terjadi. (Leah Rittenberg, UCF Marine Turtle Research Group)

Kasus yang Sama

Penyu Florida bukanlah yang pertama menjadi tenar di dunia maya. Pada tahun 2013, Texas River Cooter—spesies kura-kura air tawar—lahir di kebun binatang San Antonio dengan dua kepala. Dijuluki Thelma dan Louise, kura-kura berkepala dua tersebut hanya mampu bertahan hidup hingga satu tahun dengan penyebab kematian yang tidak diketahui.

Pada saat kelahirannya, pihak kebun binatang menjelaskan bahwa kura-kura tersebut menderita suatu kondisi yang disebut polycephaly, suatu kondisi yang menyebabkan zigot tidak benar-benar terpisah selama perkembangan.

Kondisi ini diperkirakan terjadi pada sejumlah spesies hewan. Hal ini sering terjadi pada ular dan kura-kura.
Share:

Sunday, December 26, 2021

Berkat Pencarian MH370, Wajah Dasar Laut Kini Terungkap


Pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang pada bulan Maret 2014 dari Beijing ke Kuala Lumpur memang telah dihentikan pada bulan Januari 2017 karena tidak berhasil menemukan bukti yang pasti dari kejadian tersebut. Namun, ternyata pencarian paling mahal dan paling lama dalam sejarah penerbangan tersebut tidak sia-sia.

Australia yang mengambil alih koordinasi pencarian MH370 baru saja merilis peta mendetail mengenai dasar laut perairan barat negara tersebut. Peta tersebut dibuat selama masa pencarian.

Charita Pattiaratchi, profesor kelautan di University of Western Australia, mengatakan, informasi yang didapat selama survei terhadap perairan terpencil di sebelah Barat Australia seluas 120.000 kilometer persegi ini akan memberi pengertian yang lebih dalam untuk nelayan, peneliti kelautan, dan peneliti geologi.

(Baca juga: Geoscience Australia, data tersebut tidak hanya berisi model tiga dimensi dari permukaan bawah laut, tetapi juga informasi survei batimetrik analisis pergeseran.

Kepada Reuters 19 Juli 2017, Pattiaratchi berkata bahwa data tersebut menunjukkan lokasi-lokasi gunung laut yang akan menarik perhatian para nelayan laut dalam. Pasalnya, gunung laut yang kaya akan plankton memang menjadi tempat berkumpulnya ikan-ikan mahal seperti tuna, toothfish, alfonsino, dan trevally.

Selain itu, data lokasi gunung laut juga bisa digunakan untuk memperkirakan dampak tsunami yang sebenarnya, mengingat bahwa gunung laut dapat mengurangi energi tsunami, dan memperdalam pengetahuan kita mengenai benua Gondwana.

Menanggapi data tersebut, Martin Exel, seorang nelayan laut dalam bersama Austral Fisheries, mengatakan, melihat bagaimana hasil ini bisa keluar dari tragedi MH370 sangatlah menakjubkan. Dari perspektif nelayan, data ini akan menjadi informasi yang sangat berarti.

Akan tetapi, Exel tidak yakin bahwa data ini akan membuat nelayan berbondong-bondong ke sana. Menurut dia, biaya dan tingkat kesulitan untuk memancing di perairan tersebut akan menjadi tantangan tersendiri.

Sementara itu, Stuart Minchin, ketua divisi sains geologi lingkungan di Geoscience Australia, berkata bahwa pada saat ini, area terpencil tersebut telah menjadi salah satu perairan laut dalam yang paling terdata di bumi.

“Diperkirakan bahwa hanya 10 hingga 15 persen laut di dunia yang telah disurvei dengan teknologi seperti dalam pencarian MH370,” ujarnya.


 

Share:

Friday, December 24, 2021

536 M Adalah Tahun Terburuk di Bumi dalam Catatan Sejarah Kuno


Jika mengingat tahun 1347 M, itu merupakan tahun yang buruk. Di tahun itulah, wabah Black Death secara serius melanda Eropa, menewaskan ratusan hingga ribuan jiwa, kala itu.

Namun, beberapa ahli dan sejarawan, mulai berpendapat serta mencatat tragedi yang terburuk sepanjang sejarah, terjadi pada tahun 536 M. 

Salah satu pakar arkeologi dari Universitas Harvard, peneliti kenamaan cum sejarawan abad pertengahan bernama Michael McCormick, mengatakan kepada Science Magazine di tahun 2018 lalu.

"536 adalah tahun ke-10 masa pemerintahan kaisar Bizantium Justinianus Agung, dan tidak banyak yang terjadi di dunia manusia selain dari pertempuran biasa yang membosankan," tulis Michelle Starr.

Ia menulis artikel kepada Science Alert yang menjelaskan tentang fenomena alam yang terjadi di tahun 536. Artikelnya berjudul The Worst Year to Be Alive in Human History Is Probably Not The One You Think, terbit pada 3 Mei 2021.

Ia menambahkan bahwa, "Tidak ada malapetaka (belum, bagaimanapun), tidak ada genosida yang luar biasa besar yang terjadi dan menggemparkan sejarah dunia di tahun-tahun itu," tambahnya. Tapi sesuatu yang aneh terjadi di langit.

Laporan para ahli menyebut tentang kabut misterius dan berdebu muncul di langit, menghalangi Matahari untuk memancarkan sinarnya ke bumi. Suhu musim panas anjlok antara 1,5 hingga 2,5 °C, menyebabkan gagal panen dan jutaan orang mati kelaparan.

"Hal itu menyebabkan suhu di bumi menjadi turun dan memicu kekacauan di seluruh dunia selama bertahun-tahun—kekeringan, gagal panen, salju musim panas di Cina, dan kelaparan yang meluas," lanjutnya.

"Dan terjadilah selama tahun ini bahwa sebuah pertanda yang paling menakutkan terjadi," tulis sejarawan Bizantium Procopius yang dikutip dalam tulisan Michelle Starr.

"Karena matahari memancarkan cahayanya tanpa kecerahan, seperti bulan, selama tahun ini, dan ia tampak sangat seperti matahari di gerhana, karena pancaran sinarnya tidak jelas atau seperti yang biasa ditumpahkan," imbuh Procopius dalam Starr.


Ada bukti yang menunjukkan bahwa bencana letusan gunung berapi adalah biang keladinya, tidak hanya di inti es dari Antarktika dan lingkaran pohon dari Greenland, tetapi juga efek dari peristiwa vulkanik kemudian.

"Efek gejala vulkanis yang juga menyebabkan pendinginan global jangka pendek, juga berakibat pada wabah kelaparan yang menghancurkan," kisahnya.

Pada tahun 2018, analisis inti es yang sangat rinci dari gletser Colle Gnifetti di perbatasan antara Swiss dan Italia, menghasilkan informasi baru tentang abad kesengsaraan di mana dunia sedang dalam kondisi terburuknya.

Inti es adalah sumber arkeologi yang fantastis, karena endapan es permanen terbentuk secara bertahap, melalui hujan salju tahunan. Ini berarti menjelaskan tentang deposit es untuk tahun tertentu dan melihat gejala-gejala apa yang terjadi di atmosfer.

"Pada tahun 536 M, abu vulkanik dan puing-puing—disebut tephra—bercampur dengan lapisan es, menunjukkan peristiwa vulkanik besar," sambung Starr.

Inti es Greenland dan Antarktika, menunjukkan bukti letusan kedua pada 540 M, yang akan memperpanjang penderitaan. Kemudian pada tahun 541, Wabah Justinian muncul, dan semuanya berubah dari yang tadinya buruk, menjadi lebih buruk lagi.

Wabah Yustinianus merupakan pandemik yang menyerang Kekaisaran Romawi Timur (Kekaisaran Bizantium), termasuk ibu kotanya Konstantinopel, pada tahun 541–542 M.

Menurut penelitian, penyebabnya adalah Yersinia pestis, organisme yang menyebabkan penyakit pes. Pengaruh sosial dan kultural dari wabah ini dapat disamakan dengan peristiwa dari wabah Black Death.



 

Share:

Thursday, December 23, 2021

Ilmuwan Pecahkan Misteri Jantung Leonardo Da Vinci Berusia 500 Tahun

 


Leonardo Da Vinci tidak benar-benar memiliki hobi. Namun dia memiliki obsesi dengan teka-teki yang masih coba dipecahkan oleh para ilmuwan. Banyak masalah yang dia terapkan sendiri dan tidak dipahami oleh orang-orang pada zamannya.

Terbaru, para ilmuwan menemukan tujuan dari struktur misterius di jantung manusia, yang pertama kali dijelaskan oleh Leonardo Da Vinci pada 500 tahun lalu. Seperti diketahui, nama Da Vinci tidak hanya dikenal sebagai pelukis asal Italia yang populer dengan lukisan fenomenalnya Monalisa, tetapi ia juga
pernah menggambarkan anatomi tubuh manusia secara detail, jauh sebelum mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI) ditemukan.

Setelah 500 tahun berlalu, ilmuwan mencoba memecahkan misteri fungsi jantung yang diungkapkan oleh Leonardo Da Vinci. Ilmuwan menemukan serat otot yang melapisi permukaan ventrikel (bilik jantung) atau yang disebut trabekula terbukti memengaruhi seberapa baik fungsi jantung.

jaringan yang menunjukkan pola fraktal khas awalnya dibuat sketsa oleh Leonardo Da Vinci pada abad ke-16. Dijelaskan, jantung manusia membentuk trabekula yang menciptakan pola geometris di permukaan dalam. Da Vinci mengira struktur itu menghangatkan darah yang masuk ke jantung.

Untuk benar-benar memahami apa yang dilakukan jaringan ini, tim peneliti internasional menggunakan kecerdasan buatan untuk memeriksa data dari 25.000 pemindaian MRI jantung. Mereka juga melihat data terkait yang berhubungan dengan morfologi dan genetika jantung.

Para ilmuwan mengamati bahwa permukaan kasar dari ventrikel membantu efisiensi aliran darah dalam detak jantung. Mereka juga menemukan bahwa ada enam wilayah dalam DNA manusia yang menentukan bagaimana tepatnya pola fraktal dalam serat otot terbentuk.


Tim yang mengerjakan proyek tersebut ialah Ewan Birney dari Institut Bioinformatika Laboratorium Biologi Molekuler Eropa.

"Temuan kami menjawab pertanyaan yang sangat lama dalam biologi dasar manusia," jelas Birney. 

"Saat analisis genetik skala besar dan kecerdasan buatan berkembang, kami me-reboot pemahaman kami tentang fisiologi ke skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” sambungnya.

Bentuk trabekula memengaruhi kinerja jantung. Analisis data dari 50.000 pasien menetapkan bahwa pola fraktal yang berbeda dapat memengaruhi risiko gagal jantung. Menariknya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang memiliki lebih banyak cabang trabekula tampaknya berisiko lebih rendah mengalami gagal jantung.

Declan O'Regan, Ilmuwan Klinis dan Konsultan Radiologi di MRC London Institute of Medical Sciences, mengatakan bahwa sementara pekerjaan mereka dibangun di atas pengamatan yang cukup lama, itu dapat menjadi penting bagi orang-orang saat ini.

"Leonardo da Vinci membuat sketsa otot rumit di dalam jantung 500 tahun lalu, dan baru sekarang kami mulai memahami betapa pentingnya otot bagi kesehatan manusia," kata O'Regan. 

"Pekerjaan ini menawarkan arah baru yang menarik untuk penelitian gagal jantung, yang memengaruhi kehidupan hampir satu juta orang di Inggris," tutupnya. 





Share:

Wednesday, December 22, 2021

'Tongkat' Ular Berusia 4.400 Tahun Ditemukan, Diduga Milik Dukun Kuno


Tim arkeolog gabungan dari University of Turku, Finnish Heritage Agency, dan University of Helsinki menemukan “tongkat” kayu dari Zaman Batu yang berbentuk seperti ular. Tongkat kayu ini diperkirakan berusia 4.400 tahun dan menggambarkan sebagian kehidupan masyarakat di Finlandia pada masa itu.

Penemuan ini dilakukan di situs prasejarah Järvensuo 1. Situs arkeologi ini merupakan area lahan basah kuno di tepi Danau Rautajarvi di barat daya Finlandia.

Järvensuo 1 ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1950-an oleh para penggali parit. Situs ini telah mengalami penggalian berkelanjutan yang pertama kali dimulai pada tahun 2019.

Penelitian-penelitian sebelumnya telah berhasil menemukan beberapa artefak kayu yang terawetkan dengan sempurna di situs arkeologi ini karena kondisi tanah di sana bersifat anaerob. Salah satu artefak yang pernah ditemukan di sana adalah sendok kayu dengan pegangan berbentuk kepala beruang.

Penemuan "tongkat" kayu terbaru di situs ini memiliki panjang setengah meter. Tongkat kayu ini berbentuk seperti tubuh ular merayap naturalistik dengan kepala ular. Tongkat kayu ini mungkin telah digunakan oleh dukun Zaman Batu untuk tujuan ritual.

Para arkeolog yang meneliti temuan ini mencatat bahwa penemuan ini tidak seperti artefak-artefak kayu lainnya dari Neolitik Eropa Utara. Kadang-kadang figur ular-ular digambarkan juga dalam piktograf seni cadas kontemporer dari Budaya Pit-Comb Ware (juga disebut Budaya Keramik Sisir) di Eropa Utara, di mana mereka dipegang oleh figur mirip manusia. Namun tongkat kayu yang dipahat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk ular belumlah pernah ditemukan di wilayah tersebut.

Dr Antti Lahelma dari University of Helsinki mengatakan tampaknya ada hubungan tertentu antara ular dan manusia yang tercermin dalam termuan terbaru ini. "Ini mengingatkan perdukunan utara dari periode sejarah, di mana ular memiliki peran khusus sebagai hewan penolong roh dukun," ujarnya seperti dikutip dari Heritage Daily.

Sejumlah artefak kayu lainnya juga ditemukan selama penggalian baru-baru ini. Beberapa dari temuan-temuan tersebut berupa peralatan kayu, sisa-sisa struktural, dan banyak peralatan memancing.

Dr Satu Koivisto dari dari University of Turku, peneliti utama dalam studi penggalian arkeologi di situs Järvensuo 1 yang juga merupakan penulis utama dalam studi atas temuan tongkat kayu ular yang telah terbit di jurnal Antiquity ini mengungkapkan betapa pentinganya temuan tersebut. “Temuan yang terawetkan dengan baik dari lahan basah membantu pemahaman kita tentang masyarakat kuno dan lanskap di mana mereka melakukan aktivitas duniawi dan sakral.”

Sayangnya, menurut para peneliti tersebut, situs arkeologi Järvensuo 1 kini sedang berada di bawah ancaman akibat proyek pekerjaan drainase dan perubahan lingkungan yang diperburuk oleh perubahan iklim. Kondisi-konisi yang mengancam ini menempatkan situs tersebut dan warisan arkeologi yang terkadang di dalamnya sedang dalam bahaya.

“Tanda-tanda kehancuran yang disebabkan oleh drainase yang luas sudah terlihat jelas di lokasi, dan harta-harta organik situs itu tidak lagi aman.” beber Dr Koivisto.


Share:

Tuesday, December 21, 2021

Rupa Pulau Jawa Bingungkan Penjelajah Samudra Abad Ke-16

Abraham Ortellius, kartografer dan geografer sohor asal Belgia, pernah menerbitkan selembar peta berjudul Indiæ Orientalis pada 1570. Peta itu menggambarkan wilayah Asia Tenggara berikut dengan keletakan pulau-pulaunya. Dia merupakan kartografer pertama yang berpendapat bahwa awalnya benua menjadi satu kemudian terpecah-pecah hingga menemui wujudnya seperti sekarang.

Lantaran minimnya informasi dari penjelajah, Ortellius menampilkan Pulau Jawa berbentuk bulat dengan sisi selatan yang cembung. Bahkan, dalam peta itu Jawa sekitar dua kali lebih luas ketimbang Borneo.

Sementara peta Asia Tenggara karya kartografer Willem Lodewijcksz, yang terbit pada 1598, menampilkan Jawa yang tidak utuh lantaran sisi selatannya terpotong oleh pembatas bingkai bawah. Tampaknya  Lodewijcksz dengan sengaja menyembunyikan kemesteriusan Jawa.

Pertanyaan seperti apakah sisi selatan Jawa tampaknya telah menyeruak di peta-peta kuno. Para kartografer tak kuasa lantaran ketidaktersediaan informasi. Mereka merupakan kartografer yang menyimak kisah-kisah para petualang yang merintis penjelajahan ke dunia timur.

Salah satu petualang asal Venesia yang sohor dan kerap menjadi referensi para kartografer adalah Marco Polo. Dia berkisah tentang perjalanannya ke Asia Tenggara pada abad ke-13.

Meskipun banyak pihak meragukan kisah perjalanannya, beberapa kartografer abad ke-16 dan ke-17 tetap menggunakan toponimi dari pemberian Polo. Celakanya, Marco Polo juga memberikan penggambaran yang absurd tentang Jawa. “Pulau terbesar di dunia,” demikian bentuk Jawa menurut Polo yang berdasar dari “testimoni pelaut-pelaut yang tahu banyak tentang hal itu.”

Para penjelajah Portugis yang menyambangi Nusantara sebelum kedatangan Belanda, punya persepsi sendiri tentang Jawa. Berdasar kisah penghuni pulau tersebut mereka mendapatkan informai bahwa di tengah pulau terdapat gugusan gunung yang melintang dari barat ke timur.

Keadaan geografi itu telah menghentikan komunikasi antara kawasan pantai utara dan selatan. Akibatnya, pelaut Portugis mengurungkan niat untuk segera menjelajahi sisi selatan pesisir Jawa.


Misteri rupa pesisir selatan Jawa terpecahkan pada 1580. Francis Drake, seorang pelaut dan politikus Inggris yang mengelilingi dunia pada 1577 sampai dengan 1580, berjejak di pesisir selatan Jawa. Usai menjelajahi kepulauan Maluku dan melewati celah Timor, Drake dan krunya menyusuri jalur selatan dan mendarat di suatu tempat di pesisir selatan Jawa—tampaknya Cilacap.

Kemudian peta berjudul Insulæ Indiæ Orientalis karya kartografer Jodocus Hondius terbit pada 1606. Dia menggambar pesisir selatan Jawa hanya dengan garis putus-putus, namun menyisakan garis tegas yang membentuk teluk untuk kawasan pelabuhannya. Hondius menorehkan catatan kecil di titik tersebut, “Huc Franciscus Dra. Appulit,” yang menandai tempat Drake membuang sauhnya.

Sejak terbitnya peta Hondius itu, misteri rupa pesisir selatan Jawa mulai terungkap. Peta-peta setelahnya memberikan gambaran utuh tentang sebuah pulau yang pernah populer di kalangan penjelajah samudra dengan nama Java Major.


 

Share:

Sunday, December 19, 2021

Salah Desain, Koin Berbentuk "Telur Goreng" Malah Terjual Mahal

Koin langka senilai 1 poundsterling yang terlihat seperti telur goreng karena kesalahan desain telah terjual seharga 257 pound di eBay. Potongan koin yang tidak biasa memiliki inti yang tidak sejajar. Dilansir Mirror, bagian tengah koin berwarna perak dari koin mengalir ke cincin luar.

Semua koin 1 pound baru dibuat dengan dua cincin logam. Bagian luarnya terbuat dari kuningan-nikel, sedangkan bagian dalamnya adalah paduan kuningan berlapis nikel. Lingkaran dalam seharusnya pas dengan sempurna di tengah koin, tetapi yang ini berbentuk elips. Koin ini disebut "koin kesalahan", namun jangan salah, ini sangat berharga bagi kolektor.

Koin ini mungkin hanya ada satu dari segelintir, atau bisa jadi satu-satunya. Jadi koin teramat sulit ditemukan. Penjual koin kesalahan khusus ini mengatakan bahwa dia tidak mengetahui adanya koin lain seperti ini yang beredar saat ini. “Hanya satu cara yang diketahui, yakni mencari kesalahan secara teratur selama 20 tahun setiap hari," ujarnya. "Kesalahan telur relatif umum tetapi, ini adalah satu-satunya elips yang pernah saya lihat," tambahnya.

Koin dijual seharga 257,52 pound, ditambah 10 pound pengiriman ekspres, setelah menarik 31 tawaran selama lelang tujuh hari.


 

Share:

Terpecahkan, Misteri Mumi Menjerit dari Mesir Kuno Ini Bikin Merinding


Misteri 'The Screaming Mummy' alias mumi menjerit peninggalan Mesir Kuno akhirnya terungkap. Berbeda dengan penemuan mumi biasanya, mumi satu ini memang menarik banyak perhatian orang. Pasalnya, mimik wajahnya tampak sekarat dalam penderitaan sebelum mati.

Dikutip dari artikel yang ditayangkan The Sun pada 11 Februari 2018 silam, para arkeolog terkejut mendapati wajah mumi seakan berteriak kesakitan. Namun kini semua pertanyaan tersebut terjawab.

Pangeran Pentawere adalah sosok dibalik mumi tersebut, yang merupakan seorang pria diduga berhasil untuk membunuh ayahnya sendiri, Firaun Ramses III.

Setelah misinya berhasil, kemungkinan Pangeran Pentawere mengakhiri hidupnya sendiri setelah diadili. Fosil mumi tersebut kini dipamerkan di Museum Mesir di Kairo.

Mumi Pentawere, yang dikenal sebagai mumi menjerit, tidak dimumikan dengan benar. Tidak ada cairan pembalseman yang digunakan, dan tubuhnya dibiarkan menjadi mumi secara alami. Dengan mulut ternganga dan otot-otot wajahnya tegang untuk membuatnya tampak seolah-olah mumi itu berteriak.

Menurut laporan Live Science, tidak dijelaskan apakah wajahnya yang seperti menjerit karena proses alami atau dipaksakan. Bahkan, jasadnya dimakamkan dengan balutan kulit domba yang di mana dalam kebudayaan Mesir Kuno diyakini sebagai material kotor secara ritual.

Papirus kuno bernama Papirus Yudisial Turin, mengungkap kisah pembunuhan Ramesses III oleh putranya sendiri yang kini menjadi mumi itu. Berdasarkan studi pada tahun 2012, sang raja yang berkuasa dari 1184-1155 SM, diketahui tewas akibat luka sayatan di lehernya, kemungkinan dalam upaya pembunuhan yang diatur oleh Pentawere.



Para ilmuwan juga melakukan analisis genetik, yang membuktikan bahwa mumi yang menjerit itu adalah putra Ramses III. Berdasarkan perawatan penguburan mumi yang tidak biasa, para peneliti mengkonfirmasi bahwa itu kemungkinan besar ialah mumi Pentawere.

Papirus Yudisial Turin mengungkap bahwa mereka yang membantu Pentawere dalam pembunuhan itu turut dihukum. Dalam proses peradilan, turut diadili perwira militer, pejabat sipil, dan para gundik sang firaun.

Justru, Pentawere diduga turut dibantu oleh ibunya yang bernama Tiye dan merupakan salah satu istri sang firaun. Proses peradilan sendiri disaksikan oleh pewaris sah Ramesses III, Ramesses IV.

Lebih lanjut, papirus yudisial mengatakan bahwa Pangeran Pentawere diadili karena dia telah berkolusi dengan Tiye, ibunya, ketika dia merencanakan masalah dengan para wanita gundik sang firaun.

Share:

Apakah Ada Penduduk Bumi yang Tidak Bermigrasi Setelah Berevolusi?



Manusia cenderung tertarik dengan cerita tentang asal mula mereka. Kisah awal mula manusia diceritakan secara turun-temurun di seluruh budaya, agama, etnis dan kebangsaan.

Ini semua sangat penting. Kisah-kisah ini memberikan wawasan tentang asal, bagaimana mereka beradaptasi di suatu tempat dan dengan kelompok lain. Salah satu kisah ini, tentu saja, adalah kisah tentang gen manusia.

Para ilmuwan menemukan DNA manusia purba, mengambil sampel DNA manusia modern dan menganalis, ditemukan banyak hal tentang bagaimana manusia purba bergerak. Manusia di seluruh dunia terus bergerak dan mengisi hampir setiap petak tanah.

Setelah ribuan tahun terus bergerak untuk bermigrasi, timbul pertanyaan: apakah ada penduduk bumi yang bukan imigran? Dengan kata lain, mereka berada di tempat yang sama setelah berevolusi.

"Dari sudut pandang ilmiah, mungkin satu-satunya orang yang dapat dianggap bukan imigran adalah beberapa kelompok berbahasa Khoe-San di Afrika selatan," kata Austin Reynolds. Ia merupakan asisten profesor antropologi di Universitas Baylor di Texas yang mempelajari tentang genetika populasi manusia.

Khoe-San mengacu pada komunitas Afrika di wilayah Botswana, Namibia, Angola, dan Afrika Selatan. Mereka menggunakan bahasa yang serupa dengan konsonan klik yang berbeda.

Reynolds mengatakan ada dua faktor utama yang menunjukkan bahwa kelompok Khoe-San mungkin keturunan non-migrasi dari manusia asli. Mereka tinggal di tempat di mana kemungkinan manusia pertama kali muncul. Kelompok ini memiliki keragaman genetik yang tinggi.

Cara untuk memahami soal keragaman genetik yang tinggi ini adalah dengan menggunakan semangkuk cokelat M&M. Gen diwakili oleh cokelat yang berwarna-warni. Segenggam cokelat diambil dari mangkuk adalah orang yang memisahkan diri dari populasi manusia asli. Kelompok ini mungkin hanya memiliki beberapa warna cokelat di dalamnya. Sedangkan mangkuk asli memiliki semua warna. Inilah yang terjadi pada Khoe-San.

Namun terlepas dari kedekatan kelompok ini dengan "tempat lahir manusia" dan keragaman genetik, masih belum jelas apakah mereka dapat diidentifikasikan sebagai pribumi genetik.

Pertama, para peneliti tidak tahu pasti bahwa Afrika bagian selatan adalah tempat lahir umat manusia. Beberapa ilmuwan berpikir bahwa manusia pertama kali berevolusi di Afrika Timur, kata Reynolds. Belum ada cukup bukti arkeologis di kedua wilayah tersebut untuk memastikan di mana Homo sapiens pertama kali muncul.

Bahkan ada kemungkinan manusia berevolusi di Afrika barat, kata Mark Stoneking, ahli genetika molekuler di Institut Max Planck, Jerman. Lingkungan yang berbeda menghasilkan kondisi sisa-sisa fosil yang berbeda. Ini dapat memengaruhi daya tahan fosil tersebut. Jadi, jika fosil tidak ditemukan, bukan berarti manusia tidak berada di sana. Bisa jadi fosil hancur atau belum ditemukan.

Stoneking tidak setuju tentang anggapan Khoe-San sebagai pribumi. Menurutnya, setidaknya secara ilmiah, tidak ada pribumi yang tersisa hingga saat ini.

"Orang-orang selalu bergerak," kata Stoneking. Penelitian genetiknya baru-baru ini tentang populasi di seluruh Asia telah menunjukkan bahwa ada sentuhan dari hampir semua orang pada orang lain.

Semua populasi manusia telah melakukan kontak dengan orang lain, termasuk Khoe-San, katanya. Ini ditunjukkan dengan bukti dalam gen, budaya, dan bahasa mereka.

Manusia purba bergerak secara luas di sekitar Afrika selama lebih dari 100.000 tahun sebelum meninggalkan Afrika. Mereka mungkin pindah dari Afrika Timur ke Timur Tengah, kata Stoneking. Sepertinya tidak lama kemudian, manusia menuju ke tenggara di sepanjang pantai India.

Selama pergerakan akan ada pertukaran besar DNA. Dua komponen ini, gerakan dan pertukaran, adalah apa yang dia lihat sebagai karakteristik yang menentukan spesies manusia.

"Yang suka dilakukan manusia adalah bermigrasi dan berhubungan seks," kata Stoneking. Dan sepertinya kesukaan ini sudah ada sejak dahulu kala.

Share:

Friday, December 17, 2021

Elang Jawa, Fakta Sains sampai Mitos Penjelmaan dari Garuda


  Tahukah Anda bahwa gambar logo kepala Garuda Pancasila itu terinspirasi dari sosok elang jawa? Ya, elang jawa adalah satwa yang diyakini sebagai penjelmaan nyata dari Garuda.

Garuda sendiri adalah sosok mitologi yang mempunyai wujud manusia berkepala burung dan bersayap. Kepala dan jambul elang jawa ini sangat mirip dengan kepala Garuda. Oleh karena itu elang jawa kerap disebut juga sebagai burung Garuda.

Elang jawa adalah satwa endemik asli Indonesia. Habitat asli burung ini hanya berada di Pulau Jawa di dataran dengan ketinggian 0 sampai dengan 3.000 meter di atas permukaan air laut. Umumnya, mereka hidup di pegununungan, perbukitan, dan dataran tinggi.

Elang jawa adalah spesies yang terancam punah. Hewan ini hanya bisa menetaskan 2-3 telur per tahunnya. Telur-telur itu diburu oleh pemburu ilegal dan hewan pemangsa.

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 telah menyatakan bahwa setiap perburuan, penangkapan, dan jual beli elang jawa adalah perbuatan ilegal. Namun para pemburu dan kolektor satwa ilegal nyatanya masih mengincar hewan ini.

Tahukah Anda bahwa gambar logo kepala Garuda Pancasila itu terinspirasi dari sosok elang jawa? Ya, elang jawa adalah satwa yang diyakini sebagai penjelmaan nyata dari Garuda.

Garuda sendiri adalah sosok mitologi yang mempunyai wujud manusia berkepala burung dan bersayap. Kepala dan jambul elang jawa ini sangat mirip dengan kepala Garuda. Oleh karena itu elang jawa kerap disebut juga sebagai burung Garuda.

Elang jawa adalah satwa endemik asli Indonesia. Habitat asli burung ini hanya berada di Pulau Jawa di dataran dengan ketinggian 0 sampai dengan 3.000 meter di atas permukaan air laut. Umumnya, mereka hidup di pegununungan, perbukitan, dan dataran tinggi.

Elang jawa adalah spesies yang terancam punah. Hewan ini hanya bisa menetaskan 2-3 telur per tahunnya. Telur-telur itu diburu oleh pemburu ilegal dan hewan pemangsa.

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 telah menyatakan bahwa setiap perburuan, penangkapan, dan jual beli elang jawa adalah perbuatan ilegal. Namun para pemburu dan kolektor satwa ilegal nyatanya masih mengincar hewan ini.


 

Share:

Wednesday, December 15, 2021

emuan Anting Emas Diduga Hadiah Kaisar Bizantium Kepada Suku Viking



Anting emas berusia ribuan tahun telah ditemukan di Denmark. Para ahli mengklaim anting ini telah diberikan oleh Kaisar Bizantium kepada kepala suku Viking 1.000 tahun yang lalu.

Perhiasan dari emas ini berasal dari abad ke-11 dan benar-benar unik karena belum pernah terlihat sebelumnya di negara-negara Nordik. Dilansir dari Daily Mail, anting ditemukan di sebuah lapangan dekat Bøvling, Jutland Barat, Denmark menggunakan alat pendeteksi logam.

Penemu akting ini adalah seorang pria bernama Frants Fugl Vestergaard berusia 54 tahun. Beliau memang kerap berburu danefæ – emas atau perak di bumi tanpa pemilik. Saat detektornya mengeluarkan bunyi samar, dia mengambil segumpal tanah, menghancurkannya dengan tangan dan mendapati adanya perhiasan di sana.

“Anda selalu mendambakan untuk menemukan sesuatu yang indah, penemuan top, dan kemudian Anda tiba-tiba memilikinya di tangan Anda. Ini benar-benar tidak terbayangkan,” ujar Frants Fugl Vestergaard kepada Museum Nasional.

Diperkirakan anting pada awalnya dibuat di Bizantium atau Mesir dan merupakan bukti potensial bahwa Viking memiliki koneksi di sekitar Mediterania. Kekaisaran Byzantium, tahun 395 hingga 1204 dan 1261 hingga 1453, juga dikenal sebagai Kekaisaran Romawi Timur, sebuah peradaban kuat yang berbasis di Konstantinopel.

Kini anting tersebut sedang dipamerkan di pameran Viking di Museum Nasional Denmark, ‘Togtet’ yang diterjemahkan sebagai ‘The Cruise’ semua tentang perjalanan Viking ke Timur Tengah. Para ahli sejauh ini tidak dapat menemukan anting serupa yang mungkin pasangan dari anting tersebut.

“Ini benar-benar unik bagi kami, kami hanya tahu 10 sampai 12 spesimen lain di seluruh dunia dan belum pernah ditemukan di Skandinavia sebelumnya,” kata Peter Pentz, inspektur di Museum Nasional Denmark kepada Daily Mail.

“Kami berharap menemukan perhiasan yang bergitu bagus dan tidak ternilai harganya seperti ini bersama dengan harta emas yang besar atau di makam kerajaan, bukan di sembarang ladang di Bøvling,” lanjutnya.

Perhiasan telinga ini berbentuk bulan sabit yang ditutupi dengan enamel yang dibuat dengan teknik khusus melibatkan pemecahan dan pembubutan kaca. Sebelum melelehkannya dengan logam sehingga menjadi tidak tembus cahaya. Motif enamel pada anting berupa dua burung di sekitar pohon atau tanaman yang melambangkan pohon kehidupan.


Jenis perhiasan ini dikenal terutama dari Muslim Mesir dan Suriah, serta dari Bizantium dan Rusia. Dalam hal gaya dan pengerjaan, anting ini mirip dengan Salib Dagmark, peninggalan Bizantium abad ke-11 atau ke-12.

Anting dan Salib Dagmark diperkirakan berasal dari Zaman Viking atau Abad Pertengahan paling awal. Kemungkinan besar tidak diperdagangkan tetapi disumbangkan oleh raja dan kaisar. Itu menjelaskan mengapa Salib Dagmark ditemukan di kuburan ratu, di Gereja St. Bendt, Ringsted, Denmark pada tahun 1683.

Sebaliknya, harta karun baru ini ditemukan di sebuah ladang, tanpa adanya situs Viking yang dikenal di dekatnya. Jadi, mengapa anting tersebut bisa ada di sana masih menjadi misteri.

Adapun satu penjelasan bagaimana hal itu bisa terjadi, mungkin karena banyak orang Viking pergi berperang untuk kaisar Bizantium yang memiliki pengawal dari Skandinavia. Kisah-kisah Islandia menunjukkan bahwa tentara bayaran pulang dari Timur membawa sutra dan senjata. Dikatakan bahwa kaisar kadang-kadang menyumbangkan hadiah bagus untuk pengawalnya.

Jadi, anting tersebut bisa saja diberikan secara pribadi oleh kaisar kepada seorang Viking yang dipercaya sebagai pengawal dan kemudian hilang dalam keadaan yang tidak diketahui di Denmark.


 

Share:

Misteri Pencarian Ras Manusia Berekor dan Suku Kanibal di Kalimantan


Seorang naturalis dan penjelajah Eropa meniti pedalaman Kalimantan, melalui National Geographic Indonesia menuturkan kisahnya…

(Oleh: Mahandis Y. Thamrin / NatGeo Indonesia)

“Pada Minggu, 20 Juli 1879, saya memulai perjalanan dari Samarinda dengan dua perahu ke Tangaroeng [Tenggarong],” ungkap seorang lelaki muda di buku catatannya, “jaraknya sekitar 30 mil perjalanan lewat sungai.”

Lelaki itu adalah Carl Alfred Bock, naturalis dan pelancong kelahiran Kopenhagen, Denmark. Meskipun lahir di Denmark, Bock mengikuti kewarganegaraan orang tuanya, Norwegia. Dia pernah melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan selama enam bulan. Ketika itu usianya masih 30 tahun.

Carl Alfred Bock, Lelaki Norwegia Penjelajah Kalimantan 1879

Carl Alfred Bock-penjelajah-kalimantan-1879

Carl Alfred Bock, naturalis dan pelancong Norwegia kelahiran Kopenhagen, Denmark. Dia pernah melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879. Sebelum berjejak di Kalimantan, dia telah menjelajah di pedalaman Sumatra pada 1878. Lukisan karya Hans Christian Olsen. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Misinya di Kalimantan merupakan titah dari Gubernur Jenderal Johan van Lansberge untuk melaporkan keberadaan suku-suku Dayak dan menghimpun spesimen sejarah alam untuk beberapa museum di Belanda.

Hasil penjelajahannya di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan, Bock menulis buku berjudul “The Head Hunters of Borneo” yang terbit pada 1881, lengkap dengan 37 litografi dan ilustrasi.

Dalam bukunya yang sensasional itu dia berkisah tentang peradaban Dayak dan kanibalisme antar-suku.

“Bock memberi kita informasi yang padat tentang suku Dayak dari Kalimantan Selatan,” ungkap Alfred Russel Wallace, seorang naturalis dan penjelajah asal Inggris, beberapa bulan setelah buku itu terbit.

“Kesan umum dari deskripsinya yang didukung potret kehidupan menunjukkan adanya kesamaan nan indah antara semua suku di pulau besar ini, baik dalam karakteristik fisik dan mental, meskipun ada banyak spesialisasi dalam kebiasaan,” demikian ungkap Wallace.

Bock dalam catatannya telah berjumpa Dayak Long Wai, Dayak Long Wahou, Dayak Modang, Dayak Punan, “Orang Bukkit” dari Amontai, dan Dayak Tring.

The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881, lengkap dengan 37 litografi dan ilustrasi.

Dia juga menuturkan upayanya dalam menyingkap kisah lama dari warga setempat tentang manusia berekor.

Seorang abdi kepercayaan dari Sultan Kutai A.M. Sulaiman bersaksi pernah menjumpai sosok itu dan menjulukinya dengan “Orang boentoet”.

“Saya berhasil menyelesaikan perjalanan ini, saya menjelajahi rute dari Tangaroeng ke Bandjermasin, sejauh 700 mil, melewati serangkaian bahaya dan kesukaran di suku Dayak,” ungkap Carl Bock.

Keingintahuan Carl Alfred Bock soal ‘rantai kerabat yang hilang’ itu nyaris membuat perseteruan dua kesultanan. Benarkah manusia berekor itu ada?

Pencarian Ras Manusia Berekor di Kalimantan

Sembari menikmati durian dalam jamuan makan malam di atas rakit, Carl Bock berbincang dengan Sultan Aji Muhammad Sulaiman dan kerabatnya tentang keberadaan ras manusia berekor. Konon, mereka menghuni permukiman Kesultanan Pasir dan tepian Sungai Teweh.

Percakapan itu membuat Bock berpikir tentang keberadaan “tautan kerabat yang hilang” yang disuarakan pendukung teori Darwin.

Tjiropon, seorang abdi kepercayaan Sultan, meyakinkan Bock di depan Sultan dan para Pangeran. Sang abdi itu beberapa tahun silam pernah menjumpai sosok manusia berekor di Pasir, dan menjulukinya dengan “Orang-boentoet”.

Carl Alfred Bock-penjelajah-kalimantan-01

Menyeberang Sungai Benangan di pedalaman Kalimantan. Litografi oleh C.F. Kelley berdasar lukisan karya Carl Bock. Bock menjelajahi Kalimantan timur dan selatan, dari Kutai ke Banjarmasin. Tentang pengalamannya, dia menulis sebuah buku “The Head Hunters of Borneo” yang terbit pada 1881. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Sang abdi bahkan mampu melukiskan sosok manusia berekor dengan kata-kata. Kepala suku mereka, ujarnya, berpenampilan sangat luar biasa, berambut putih, dan bermata putih. Mereka memiliki ekor sekitar lima hingga sepuluh sentimeter.

Uniknya, mereka harus membuat lubang di lantai rumah untuk tempat ekor, sehingga mereka dapat duduk nyaman. Sultan Kutai pun turut takjub dengan kisah abdinya. Dia pun memberangkatkan Tjiropon bersama sebuah surat yang memohon Sultan Pasir untuk mengirimkan sepasang manusia berekor.

Carl Alfred Bock-penjelajah-kalimantan-02

Ibu dan gadis dari Dayak Punan. Litografi oleh C.F. Kelley berdasar karya lukis Carl Bock. Bock menjelajahi Kalimantan timur dan selatan, dari Kutai ke Banjarmasin. Tentang pengalamannya, dia menulis sebuah buku “The Head Hunters of Borneo” yang terbit pada 1881. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Sejatinya Bock sedikit ragu soal mitos manusia berekor di pedalaman Kalimantan.

Namun demikian, dia setuju untuk tetap berupaya mencari “tautan kerabat yang hilang” itu.

Bahkan, dia pernah menjanjikan kepada Tjiropon uang sejumlah 500 gulden apabila berhasil membawa sepasang manusia langka itu.

Beberapa hari berlalu tanpa kabar. Bock melanjutkan perjalanan dari Tenggarong ke Banjarmasin. Ketika Bock berada di kota itu, Tjiropon menjumpainya.

Wajah sang abdi itu kecewa sambil berkata bahwa dia telah menyampaikan surat itu kepada Sultan Pasir, namun tidak mampu membawa ras manusia berekor pesanan Bock.

Tjiropon pun memberikan penjelasan yang berbelit-belit. Akhirnya, Residen Banjarmasin pun bersedia membantu Bock.

Dia mengirim surat kepada Sultan Pasir yang isinya menanyakan sekali lagi soal keberadaan manusia berekor di wilayahnya. Hampir sebulan berlalu, surat balasan dari Sultan Pasir sampai juga ke tangan Residen Banjarmasin. Tampaknya ada salah paham: “Orang-boentoet Sultan di Pasir” adalah sebutan para pengawal pribadi Sultan Pasir.

Pantaslah Sultan Pasir marah besar hingga mengancam perlawanan terhadap Sultan Kutai dan mengusir Tjiropon. Akibatnya, menurut Bock, mereka mendirikan kubu pertahanan dan bersiap berperang melawan Kesultanan Kutai. “Jika Sultan Kutai menginginkan Orang-boentoet saya,” ujar Sultan Pasir, “Biarkan dia ambil sendiri.”

orang boentoet buntut tail man

sosok manusia berekor di Pasir, dan menjulukinya dengan “Orang-boentoet”. (gambar ilustrasi).

Meskipun demikian, Tjiropon tetap bersikukuh dengan pendiriannya bahwa manusia berekor itu nyata adanya. “Demi Allah saya pernah melihat Orang-bontoet beberapa waktu silam, dan berbicara kepada mereka , tetapi saya tidak bisa melihat mereka saat ini!” ungkapnya seperti yang dicatat Bock.

Carl Alfred Bock merupakan naturalis dan pelancong berkebangsaan Norwegia. Bock melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879. Ketika itu usianya masih 30 tahun.

Misinya di Kalimantan merupakan titah dari Gubernur Jenderal Johan van Lansberge. Dia melaporkan kepada Gubernur tentang peradaban suku-suku Dayak. Tak hanya itu, dia juga menghimpun spesimen sejarah alam untuk beberapa museum di Belanda.

Kedaton Kesultanan Kutai di Tenggarong, tepian Mahakam, pada masa Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Bangunan ini telah binasa, di sekitar lokasinya telah berdiri kedaton baru yang dibangun dengan gaya art-deco pada 1930-an. Litografi berdasar karya lukis Carl Bock pada 1879 dan 1880. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Kedaton Kesultanan Kutai di Tenggarong, tepian Mahakam, pada masa Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Bangunan ini telah binasa, di sekitar lokasinya telah berdiri kedaton baru yang dibangun dengan gaya art-deco pada 1930-an. Litografi berdasar karya lukis Carl Bock pada 1879 dan 1880. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Dari penjelajahannya di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan, Bock menulis buku berjudul Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881.

Kisah lucu dan sungguh-sungguh terjadi dari pedalaman Kalimantan ini ternyata menarik perhatian Alfred Russel Wallace. Sang penjelajah sohor asal Inggris itu mengungkapkan, “Satu-satunya episode lucu dalam buku ini adalah upaya sungguh-sungguh untuk menemukan kisah ‘manusia berekor’ yang kerap dibicarakan di Kalimantan.”

Apakah ras manusia berekor itu benar-benar ada di hutan Kalimantan? Entahlah. Bock tak pernah tertarik lagi menyelisik sosok misterius itu. Dia pun menyebut peristiwa pencarian ras manusia berekor di Kalimantan sebagai “kekeliruan yang menggelikan”.

Carl Alfred Bock-penjelajah-kalimantan-04

Sultan Aji Muhammad Sulaiman dan para pengiringnya di depan kedaton, Tenggarong. Sang Sultan bertakhta di Kesultanan Kutai pada periode 1850-1899. Pada 1879, Carl Bock, seorang naturalis dan penjelajah asal Norwegia, pernah berbincang dengannya tentang “Orang-boentoet”—manusia berekor yang diduga mendiami Kalimantan. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Carl Bock Berjumpa dengan Suku Dayak Pemakan Manusia!

“Perjalanan dari Kotta Bangoen ke permukiman Tring memakan waktu empat hari,” ungkap Carl Alfred Bock. Dia berharap di Moeara Pahou dapat menjumpai suku Dayak Tring, cabang keluarga suku Bahou. Lantaran sampai tiga hari tak berjumpa seorang pun, dia berencana memasuki kampung mereka.

“Namun, Sultan dan pengikutnya berkata bahwa perjalanan menuju ke sana sangat tidak aman,” ungkap Bock. “Suku itu kanibal, dibenci, juga ditakuti oleh tetangga suku mereka.” Sultan Aji Muhammad Sulaiman khawatir, suku Dayak akan menduga bahwa rombongannya bersiap menyerang mereka.

“Saya harus melihat mereka karena mendengar kisah bahwa mereka keji dan kanibal. Pemerintah kolonial berharap saya dapat memberikan laporan tentang kebiadaban itu,” pinta Bock. “Dan, saya pasti disalahkan kalau tidak menyaksikan mereka.”

Carl Alfred Bock-penjelajah-kalimantan-05

Sibau Mobang, lelaki berusia sekitar 50-an tahun, kepala suku Dayak Tring yang mempunyai tradisi kanibalisme. Litografi dibuat dari karya lukis Carl Bock antara 1879 dan 1880. “Matanya mengekspresikan tatapan mata binatang buas,” demikian tulis Bock dalam bukunya, “The Head Hunters of Borneo” yang terbit pada 1881. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Akhirnya Sultan meluluskan permintaan Bock dengan mengirimkan sebuah perahu dengan seseorang yang akan meminta suku Dayak Tring untuk menampakkan diri.

Namun, seminggu berlalu tidak ada kabar. Anehnya lagi, perahu itu tak kunjung kembali.

“Apakah mereka telah terbunuh dam dimakan?” demikian keresahan Bock.

Sultan turut gusar. Kemudian dia mengirimkan perahu besar yang dipimpin seorang Kapitan Bugis.

Mujurnya, tiga hari kemudian perahu kembali bersama sekitar 40-an warga Dayak Tring, termasuk empat perempuan.

“Seorang pendeta perempuan mempersilakan saya untuk mengambil gambar sosoknya,” ungkap Bock.

“Hal yang paling menakjubkan adalah lubang telinganya panjang berbandul cincin logam. Selanjutnya, ketiadaan alis,” tambah Bock.

Perempuan itu mengizinkan Bock untuk mengamati secara detail bagian tubuhnya. “Kembangan tato di bagian paha juga menjadi hal yang menarik. Rambut mereka yang pendek menjadi pembeda dengan para perempuan suku-suku lainnya; dan warna kulit mereka yang lebih cerah ketimbang suku-suka Dayak lainnya, kecuali orang-orang Punan,” ungkapnya.

Sambil mengulurkan kedua tangannya, pendeta perempuan tadi berkata kepada Bock bahwa telapak tangan merupakan bagian terbaik untuk dimakan. Dia juga menunjuk lutut dan dahi, sambil berkata dengan bahasa Melayu “bai, bai” (baik) demikian menurut Bock. “Menunjukkan bahwa otak dan daging lutut merupakan hidangan lezat bagi sukunya.”

Carl Alfred Bock-penjelajah-kalimantan-06

Pendeta perempuan dari Dayak Tring yang menunjukkan rajah di sekujur pahanya. Telinganya memanjang karena berbandul logam. Litografi ini berdasar karya lukis Carl Bock antara 1879-1880. Perempuan ini berkata kepada Bock bahwa selain telapak tangan, otak dan daging lutut merupakan hidangan terlezat bagi sukunya. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Kemudian seorang kepala suku Dayak kanibal menyambangi tempat menginap Bock. Namanya, Sibau Mobang. Dia datang bersama pendampingnya—seorang perempuan dan dua lelaki.

“Saat dia memasuki rumah panggung saya,” demikian tulis Bock. “Dia berdiri beberapa saat, tanpa bergerak atau pun berkata, memandangi saya dengan tatapan dalam sementara saya sedang berpura-pura tidak mengamatinya. Lalu, dia duduk dengan pelan sekitar dua meter dari kaki saya.”

Carl Alfred Bock-penjelajah-kalimantan-07

Litograf berdasar karya Carl Bock 1879-1880 dalam “The Head Hunters of Borneo”. Gambar 1: “Woon”, Dayak Punan yang berkulit gelap asal Kenyah, sisi utara dari Long Wahou. Gambar 2 dan 3: Trofi tengkorak yang diberikan oleh Sibau Mobang yang kanibal kepada Carl Bock. Gambar 3: Topeng yang digunakan dalam tarian perang dalam tradisi Dayak. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Tampaknya Sibau berusia sekitar 50-an tahun, demikian menurut Bock, ompong dan kempot, kulitnya coklat kekuningan, dan agaknya sakit-sakitan.

Sejumput rambut kaku menghias kumis dan dagunya. Kupingnya menjuntai dan ditindik dengan lubang besar. Semua penampilan lelaki itu kian menambah kesan angker tentang dirinya.

“Matanya mengekspresikan tatapan mata binatang buas,” ungkap Bock yang mencoba melukiskan sosok lelaki itu, “dan di sekitar matanya tampak garis-garis gelap, seperti bayang-bayang kejahatan.”

Namun, “lengan kanannya, yang berhias gelang logam, kondisinya lumpuh,” ungkap Bock.

“Untuk alasan itulah dia menempatkan senjata mandaunya di sisi kanan, dan selama beberapa tahun telah banyak korban dijatuhkan oleh bedebah yang haus darah ini dengan tebasan tangan kirinya.”

Sibau berkata kepada Bock bahwa sukunya tidak makan orang setiap hari.

Mereka makan daging dari berbagai satwa, nasi, dan buah-buahan liar. Namun, ujar sang kepala suku, sudah setahun ini mereka tidak makan nasi karena kegagalan panen.

Bock yang saat itu tengah melukis Sibau, kemudian buru-buru menyajikan seketel nasi yang baru saja masak kepada mereka. Lalu, dengan taburan garam, mereka menyantap nasi pulen itu.

Carl Alfred Bock-penjelajah-kalimantan-08

Sosok lelaki Dayak Tring dalam tarian ritual, membawa mandau (pedang) dan kliau (perisai). Perisai itu terbuat dari kayu dengan ukiran dan berhias rambut-rambut manusia yang menjadi korbannya. Litografi berdasar karya lukis Carl Bock antara 1879 dan 1880 dalam “The Head Hunters of Borneo”. Perisai inilah yang dihadiahkan sebagai kenang-kenangan oleh Sibau Mobang, seorang kanibal dari Dayak Tring, kepada Bock. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

Sebagai kenang-kenangan, Bock memberikan bingkisan berupa uang dua dolar tiap orang yang telah dilukisnya.

Selain itu rombongan Dayak kanibal mendapat sepikul beras, untaian tasbih manik-manik, kain blacu yang panjangnya sekitar 22 meter untuk dibagi bersama.

Sementara, Kepala Suku Sibau memberikan kenang-kenangan yang membuat merinding bagi penerimanya.

Bock mendapatkan dua tengkorak—lelaki dan perempuan tanpa rahang bawah—trofi dari pesiar berburu kepala. Semuanya dibungkus daun pisang.

Carl Alfred Bock merupakan naturalis dan pelancong berkebangsaan Norwegia.

Bock melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879. Ketika itu usianya masih 30 tahun.

Kisah penjelajahannya dibukukan dalam The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881.

Buku itu berhias 37 litografi dan ilustrasi, umumnya tentang orang dan budaya Dayak. Sibau juga memberikan kepada Bock sebuah perisai kayu yang dicat dengan pola warna semarak.

“Perisai itu dipercaya sebagai harta istimewa,” ungkap Bock, “yaitu, berhiaskan helai-helai rambut yang diambil dari korban manusia.”

(oleh: Mahandis Y. Thamrin / via:  National Geographic Indonesia 1 2 3)

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/58/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_een_Dajak_krijger_op_Borneo_met_twee_van_hoofddeksels_voorziene_schedels_in_zijn_handen_en_een_kleed_over_zijn_schouder_TMnr_60043379.jpg/558px-thumbnail.jpg

A Dayak headhunter, Borneo. (COLLECTIE TROPENMUSEUM, via: wikimedia.org)




 

Share:
Click to learn more...
close
close
Vivian.Pimtha. Powered by Blogger.

Find Us On Facebook

Random Posts

Social Share

Flickr

Sponsor

Agen Togel Online Image may contain: outdoor

Recent Comments

Contributors

Popular Posts

Popular Posts

Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya

Unordered List

Pages

Theme Support