Welcome to my Blog ^^

  • DOTA2

    Dota 2 is a free-to-play multiplayer online battle arena video game developed and published by Valve Corporation.

  • PARAGON, EPIC GAMES' NEW MOBA ON PLAYSTATION 4 AND PC, PUTS YOU IN THE ACTION WITH DIRECT THIRD-PERSON CONTROL AND DEEP STRATEGIC CHOICE. CHOOSE FROM AN EVER-EXPANDING ROSTER OF UNIQUE HEROES, EARN CARDS TO CUSTOMIZE YOUR ABILITIES, AND TEAM UP WITH YOUR FRIENDS ONLINE TO CLAIM VICTORY.

  • "GAME OF THE YEAR" - IGN

    FIGHT FOR THE FUTURE.

  • Papi4d2

    Bandar Togel terpercaya.

Tuesday, March 29, 2022

Orca Tipe D, Hewan Langka yang Diduga Spesies Paus Pembunuh Baru


Menggunakan mikrofon, laser, dan beberapa matematika yang cerdik, tim ilmuwan telah sukses mengukur kecepatan suara di Mars, yang merupakan penemuan ilmiah pertama dan penemuan keren lainnya berkat bantuan rover penjelajah Perseverance milik NASA.

Ada banyak hal yang disukai tentang misi Perseverance, tetapi salah satu aspek yang paling banyak disukai dari rover ini adalah ia mampu merekam audio. Awal tahun lalu, dan untuk pertama kalinya,kita benar-benar mendengar suara di Mars, baik yang alami maupun sintetis. Menggunakan mikrofon SuperCam, rover merekam hembusan angin Mars, klik dari laser pemindai batu, dan suara berderak yang dihasilkan oleh roda yang berputar.

Kecepatan suara tidak konstan. Ini bervariasi berdasarkan kepadatan dan suhu media yang dilaluinya. Bunyi merambat cepat jika mediumnya rapat.

Mikrofon Perseverance (atau biasa dipanggil Percy) akan mendeteksi suara-suara ini bukanlah suatu kepastian, mengingat atmosfer yang sangat tipis di planet ini. Suara membutuhkan media untuk menyebar, dan Mars, dengan tekanan atmosfer yang 0,095 pon per inci persegi (psi) di permukaan tanah, tidak menawarkan banyak hal untuk dapat dikerjakan. Sebagai perbandingan, tekanan atmosfer di permukaan laut Bumi adalah sekitar 14,7 psi. Bisa Anda bandingkan sendiri kan seberapa jauh perbedaannya?

Ternyata, suara-suara yang jelas dapat ditangkap oleh mikrofon Percy di kawah Jezero Mars. Suara yang terdengar jelas di Mars ini berhasil diukur kecepatannya oleh Baptiste Chide dari Los Alamos National Lab di Los Angeles bersama rekan-rekannya. Mereka mempresentasikan temuan ini di Lunar and Planetary Science Conference ke-53, yang diadakan pada 7-11 Maret kemarin di Texas.
im ilmuwan memanfaatkan eksperimen SuperCam dari Percy, yang menembakkan batu dengan laser untuk mempelajari geologi Mars dan duduk di kepala tiang rover sekitar 2,1 meter di atas permukaan Mars. Tim melakukan pengukuran dari 150 tembakan laser yang diambil di lima lokasi berbeda, sambil juga melacak kondisi cuaca setempat. Mereka menemukan bahwa kecepatan suara di Mars anehnya berbeda. Hasilnya bisa memiliki implikasi yang signifikan pada komunikasi antara Mars di masa depan.

Dengan mengukur waktu yang dibutuhkan suara klik seperti staccato untuk mencapai mikrofon SuperCam, mereka mampu menetapkan kecepatan suara di Mars, hingga presisi plus-minus 0,51%. Suara akan memakan waktu sedikit lebih lama untuk sampai ke telinga Anda di atmosfer Mars. Mars memiliki kecepatan suara yang lebih rendah. Ia bergerak sekitar 540 mph (~240 meter per detik), sedangkan, di Bumi, kecepatan suara adalah 760 mph (~340 meter per detik).

Atmosfer Mars sekitar 100 kali lebih padat daripada di Bumi. Atmosfer yang lebih padat memengaruhi bagaimana gelombang suara merambat dari sumber ke detektor, sehingga menghasilkan sinyal yang lebih lembut.

“Keistimewaan Mars”, sebagaimana para ilmuwan menyebutnya, berkaitan dengan “sifat unik molekul karbon dioksida pada tekanan rendah”, yang menjadikan atmosfer Mars satu-satunya di tata surya yang mengalami “perubahan kecepatan terdengar tepat di tengah bandwidth yang dapat didengar, ” seperti yang ditulis para ilmuwan. Alasan untuk ini adalah bahwa suara di atas 240 Hz tidak punya waktu untuk mengendurkan energinya, menurut para ilmuwan.
Para ilmuwan melanjutkan dengan mengatakan bahwa efek akustik ini "dapat menyebabkan pengalaman mendengarkan yang unik di Mars dengan kedatangan awal suara bernada tinggi dibandingkan dengan bass."

Saat berkomunikasi di Mars, seseorang perlu lebih dekat ke sumber suara untuk mendengarnya pada volume yang sama seperti yang Anda lakukan di Bumi.

Atmosfer Mars terdiri dari 96 persen karbon dioksida. Ini menyerap banyak suara bernada tinggi, jadi hanya suara bernada rendah yang akan menempuh jarak jauh. Para ilmuwan menjuluki fenomena ini sebagai atenuasi, yang berarti melemahnya sinyal pada frekuensi tertentu. Akan lebih terlihat semakin jauh Anda dari sumbernya.

“Tim peneliti berencana untuk terus memantau dan menganalisis suara dari Mars selama setahun untuk mempelajari lebih lanjut tentang fluktuasi berbagai peristiwa di planet ini, seperti selama bulan-bulan musim dingin atau ketika badai debu muncul,” ungkap Chide.

Sudah sejak lama paus pembunuh "Tipe D" dipelajari oleh para peneliti. Dan kini, mereka akhirnya menemukan bukti kehadiran paus tersebut.

Paus pembunuh atau orca tipe D ini terlihat di sekitar wilayah pantai Cile ketika tim peneliti melakukan pencarian di Tanjung Horn. 

Peneliti telah berhasil mengambil tiga sampel biopsi melalui kulit paus. Meski begitu, perlu waktu beberapa bulan lagi untuk mengetahui hasilnya apakah paus pembunuh ini adalah spesies baru.

Sebelumnya, orca misterius ini hanya dikenal melalui cerita-cerita anekdotal para nelayan dan beberapa foto.

Bob Pitman, peneliti dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengatakan: "Paus pembunuh tipe D bisa menjadi hewan terbesar yang tidak terindentifikasi di planet ini. Menjelaskan betapa sedikitnya pengetahuan kita tentang kehidupan di laut."


Pitman sendiri telah melakukan penelitian tentang Orca tipe D sejak tahun 2010. Pada 2013, dia mengonfirmasi paus tipe ini sebagai spesies orca yang baru dan kemungkinan besar sudah muncul sejak 390 ribu tahun lalu.

Yang membedakannya dengan tipe paus pembunuh lainnya (tipe A,B, dan C) adalah ukurannya yang lebih kecil, bercak berwarna putih di sekitar matanya lebih sedikit, bentuk kepalanya lebih bulat dan sirip di bagian punggungnya lebih runcing.



 

Share:

Sunday, March 27, 2022

Wajah 'Vampir' yang Disiksa Pada Abad ke-18 Akan Direkonstruksi


Para ilmuwan berencana merekonstruksi wajah wanita yang dibunuh pada abad ke-18 karena dituduh sebagai "vampir" dan dikubur sesuai dengan ritual vampir. Dengan membuat model 3D dari kerangka perempuan tersebut, sekelompok peneliti di Polandia berharap dapat menunjukkan bagaimana rupanya sebelum ia meninggal di akhir 1700-an. 

Kerangka wanita yang dituduh sebagai penyihir tersebut, ditemukan oleh para arkeolog pada 2014 di Kamien Pomorksi, Polandia. Saat itu, peneliti yakin itu adalah tubuh pria yang disebut-sebut sebagai vampir Kamien. Ada sepotong batu bata yang ditempatkan di mulut kerangka tersebut. 

Praktik pengubutan 'antivampir' abad pertengahan dan pascaabad pertengahan telah ditemukan di beberapa wilayah Eropa. Termasuk Polandia, Bulgaria, dan Italia. Cara penguburan tersebut diduga dilakukan sebagai upaya pencegahan agar 'sang vampir' tidak bangkit dari kubur.
Selain menempatkan batu bata di dalam mulut, teknik penguburan lainnya adalah dengan menempatkan arit di leher mayat vampir. Dengan begitu, arit akan langsung memotong leher mereka jika berusaha kabur. Ada juga praktik penguburan antivampir yang membebani tubuh mereka dengan batu. 

Ketika para ilmuwan dari Pomeranian Medical University melakukan analisis genetika dan forensik kerangka, ternyata itu bukan milik pria, melainkan seorang wanita yang setidaknya berusia 65 tahun ketika meninggal. Tingginya sekitar 5 kaki, memiliki rambut pirang dan mata biru. 

Science in Poland (PAP), sebuah situs yang dikelola Ministry of Science and Higher Education Polandia, melaporkan, luka-luka di tubuhnya sudah ada saat dia masih hidup dan kemungkinan meninggal karena itu. Pembunuhnya diyakini telah menempatkan batu bata di mulut wanita tersebut untuk "melindungi" dari sihir hitamnya–bahkan setelah ia mati. 
Kini, tim peneliti berencana menggunakan pemodelan 3D dari tulang kerangka untuk merekonstruksi wajahnya. "Ada banyak minat untuk menelitinya," ujar Andrzej Ossowski, kepala Forensic Genetics Unit di Pomeranian Medical University. Mereka berencana mengungkap wajah wanita ini dalam beberapa bulan mendatang. 

"Kami ingin menunjukkan bahwa dengan bantuan modern, kami dapat merekonstruksi kembali wajah kerangka dengan model 3D," papar Ossowski. 

"Saya pikir di masa depan, kita seharusnya tidak menampilkan kerangka manusia di museum. Kita sudah memiliki teknologi untuk menggantinya dengan model rekonstruksi," pungkasnya. 

Share:

Saturday, March 26, 2022

Para Arkeolog Temukan Tembok yang Terbuat dari Tulang Manusia


 Katedral Santo Bavo di Ghent, Belgia, memiliki area bawah tanah yang temboknya penuh dengan tulang belulang manusia. Para arkeolog menemukan sembilan tembok yang menggunakan tulang kering dan tulang paha dewasa.

Janiek De Gryse, pemimpin proyek penelitian,
menduga, penyimpanan tulang belulang tersebut dilakukan karena kawasan gereja yang umumnya diikuti oleh orang-orang beriman, percaya pada hari kebangkitan. Tulang-tulang tersebut dijaga untuk mempersiapkan itu.

Berdasarkan penelitian arkeologis melalui penanggalan karbon, tulang-tulang tersebut berasal dari abad ke-15. Namun, tembok tersebut baru dibangun pada abad ke-17 atau awal ke-18. 

Sementara itu, salah satu sumber mencatat bahwa kuburan gereja sebelumnya dibersihkan pada abad ke-16, kemudian dilanjutkan pada 1784 saat makam menyetop masuknya jenazah baru.

“Kami belum pernah melihat struktur, seperti dinding, yang sengaja dibangun dengan tulang manusia," kata de Gryse, dilansir dari keterangannya di
Live Science
.
Ia mengungkapkan, pembuatan tembok tulang belulang ini terburu-buru. Tulang-tulang kecil seperti tulang belakang, tulang rusuk, tulang kaki, tulang tangan tidak tersusun.

"Siapa pun yang membuat dinding pasti terburu-buru karena mereka tidak repot-repot mengumpulkan tulang kecil atau rapuh, seperti tulang belakang, tulang rusuk atau tulang dari tangan atau kaki. Anehnya, kami tidak menemukan tulang lengan," ungkapnya.

"Saat ini kami masih memeriksa ide mana yang menyebabkan ini. Apakah itu hanya hal praktis atau ada juga dimensi religius spiritual?" imbuh de Gryse

Untuk penelitian lebih lanjut, tulang belulang tersebut ditempatkan di Universitas Ghent.

Share:

Friday, March 25, 2022

Hujan Asteroid Musnahkan Peradaban Manusia Kuno 12.800 Tahun Yang Lalu


Sekitar 12.800 tahun lalu, ditemukan bukit di sebuah kawasan yang sekarang dikenal sebagai negara Suriah. Bukit tersebut merupakan salah satu permukiman awal manusia, tempat di mana orang-orang nomaden pertama kali mulai menetap dan mulai bercocok tanam.

Setelah dilakukan penelitian mendalam, diketahui bahwa permukiman tersebut ternyata juga menjadi bukti momen besar lain dalam sejarah Bumi, yakni peristiwa kosmik.

Para arkeolog dari University of California menemukan bukti peristiwa kosmik pada benda-benda yang ditemukan di situs purbakala Abu Hureyra kuno di Suriah utara. Situs ini sekarang berada di bawah danau Asaad setelah ditelan banjir pada 1974. 

Barang bukti tersebut berupa gumpalan kaca yang aneh, bahan bangunan dan tulang binatang. Untuk dapat menghasilkan gumpalan kaca seperti itu di Bumi, diperlukan suhu di atas 2.200° C. Dengan kata lain, permukiman tersebut kemungkinan dilanda asteroid yang sangat panas dan berenergi tinggi sebelumnya. 

Dilansir dari IFL Science, James Kennett, profesor geologi emeritus di University of California, sekaligus peneliti studi ini, mengatakan bahwa dengan suhu tersebut, kita bisa mencairkan sebuah mobil dalam waktu satu menit. 

Dalam studi yang dipublikasikan pada Nature Scientific Reports, hasil analisis dari gelas lebur tersebut diketahui merupakan mineral yang kaya akan kromium, besi, nikel, sulfida, titanium, bahkan besi leleh platinum dan iridium. 

Jika dilihat pada waktunya, kemungkinan itu berasal dari 12.800 tahun lalu. Ini sesuai dengan hipotesis Younger Dryas--teori kontroversial yang menyatakan bahwa Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, dan Asia Barat diserang oleh serpihan asteroid yang hancur sekitar 12.800 tahun yang lalu.

Beberapa ilmuwan menduga peristiwa ini mungkin terjadi dalam beberapa bentuk karena adanya benda-benda dengan suhu tinggi yang aneh, seperti kaca leleh dan nanodiamond. Waktunya juga sama dengan peristiwa kepunahan hewan massal dan penurunan suhu yang singkat yang pernah terjadi di Bumi.

Dilihat dari sifatnya yang tidak biasa, para peneliti percaya kaca lebur yang ditemukan di Abu Hureyra merupakan salah satu dampak asteroid yang terfragmentasi.











 

Share:

Thursday, March 24, 2022

Siapa Sejatinya Sailendra: Penguasa Jawa atau Penguasa Sriwijaya?


Dalam piagam batu Wat Sema Mue­ang sisi B tiba-tiba hadir nama Sailendra. Hal ini membentuk tanda tanya. Sailendra tak per­nah disebutkan dalam banyak prasasti Sriwijaya sejak Kedukanbukit. Bukankah mereka dinasti penguasa Jawa?

Sailendra dalam konteks Sriwijaya kembali tersurat dalam prasasti Nalanda—ditulis antara 810-850. Dikisahkan, Maharaja Balaputradewa adalah anak dari Samaragrawira (Samaratungga) dan Tara. Samaratungga adalah anak dari Rakai Panamkaran, permata Wangsa Sailendra. Tara adalah putri dari Dharmasetu, raja Sriwijaya.

Sejumlah prasasti India selatan abad ke-11 menyebutkan pula nama Cudamaniwarman  atau Cula­maniwarmadewa dan anaknya, Mara­wijayotunggawarman, sebagai keturunan Wangsa Sailendra. Tampak jelas, setidaknya sejak piagam Wat Sema Mueang sisi B (awal abad ke-9) hingga penyerbuan oleh Kerajaan Chola pada abad ke-11, raja-raja Sriwijaya berasal dari garis ketu­runan Wangsa Sailendra.

Hal itu, menurut ahli arkeo­logi Bambang Budi Utomo, “Diawali oleh pernikahan antara Samaratungga dan Tara.” Seperti halnya pra­sasti Nalanda, Wat Sema Mueang sisi B mengacu ke Rakai Panamkaran dari Sailendra. “Kedua prasasti itu ditulis atas perintah cucu Panamkaran, yakni Balaputradewa.”
Julukan Sesasavvarimadavimathana (pem­bunuh musuh-musuh sombong tidak bersisa) dalam piagam Wat Sema Mueang identik dengan Viravairivaraviravimardana yang disandang Dharanindra dalam prasasti Kelurak (782) di Jawa Tengah. Juga dengan Viravairimathana dalam prasasti Nalanda. Ketiga julukan itu, juga nama Dharanindra, mengacu ke Panamkaran.

Balaputradewa, berdasarkan logika ini, adalah raja Sriwijaya pertama dari Wangsa Sailendra. “Ia salah satu anak Samaratungga, selain Pramoda­wardhani. Yang terakhir ini perempuan. Ia menikah dengan Rakai Pikatan, pemeluk Hindu. Ketika Samaratungga mangkat, Pikatan naik takhta. Balaputradewa juga merasa berhak sehingga berperang melawan kakak iparnya, Pikatan,” jelas Bambang, menginterpretasikan berbagai isi prasasti. “Balaputradewa kalah perang lalu berpindah ke Sumatra. Karena ibunya keturunan raja Sriwijaya, Balaputradewa dapat naik takhta di Sriwijaya,” jelasnya.
Hanya satu wangsa

Para cendekiawan pernah mengira terdapat dua wangsa di Jawa: Sanjaya dan Sailendra. Hal ini mengacu kepada telaah para sarjana asing: FH van Naerssen, Bosch, George Coedes, WF Stutterheim, atau JG de Casparis. Alasannya perbedaan agama para raja. Wangsa Sanjaya beragama Hindu, sedangkan Sailendra penganut Buddhisme. Kesan itu juga disebabkan nama-nama raja dalam prasasti Manty­asih (Balitung). 

Istilah Wangsa Sanjaya ditampilkan oleh W. F. Stutterheim pada 1927. Ia membuat daftar raja Mataram, mulai dari Sanjaya hingga Balitung. Namun, ahli-ahli epigrafi terkemuka Indonesia yakni Poerbatjaraka dan Boechari sejak 1950-an telah mengoreksi, walau rupanya kurang diingat.

Poerbatjaraka mengatakan, semula raja-raja Sailendra menganut Hindu Siwa, lalu berpindah ke agama Buddha. Ia mengutip isi Carita Parahyangan, naskah kuno Sunda.

Alkisah, tersebutlah seseorang bernama Sanjaya. Ia  menyuruh anaknya, Panaraban atau Tamperan,  untuk berpindah ajaran, sebab ajaran yang dianutnya ditakuti semua orang. Oleh Poerbatjaraka, Sanjaya disamakan dengan Rakai Sanjaya dalam prasasti Canggal (732) di Candi Gunung Wukir di daerah Magelang. Sementara itu, Panaraban alias Tamperan disamakan dengan Rakai Panamkaran.

Boechari juga menulis Satu atau Dua Dinasti di Mataram Kuno? “Yang dimaksud ialah yang berkuasa sebagai maharaja,” demikian Boechari.  Mataram Kuno terdiri dari daerah-daerah otonom di bawah rakarayan (rakai) atau pangat.

“Masing-masing penguasa lokal itu,” tulis Boechari, “memiliki silsilahnya sendiri. Istilah Sanjayawamsa tidak pernah ditemui dalam prasasti maupun naskah sastra masa klasik. Daftar dalam prasasti Mantyasih dan susunan Stutterheim bukanlah suatu silsilah.” Sebaliknya, Sailendrawamsa jelas disebutkan dalam sejumlah prasasti di Jawa yaitu prasasti Kalasan, Kelurak, atau Abhayagiriwihara.

Pada beberapa puluh tahun terakhir terjadi perkembangan lagi mengenai Sailendra. Rakai Panamkaran kemudian diidentifikasi sebagai Raja Sankhara. Nama ini diberitakan dalam prasasti dari daerah Sragen (Jawa Tengah).

Kisahnya, ayah dari Raja Sankhara sakit panas delapan hari lalu meninggal. Takut akan ajaran guru ayahnya yang tidak benar, Raja Sankhara meninggalkan agama Siwa dan menjadi pemeluk agama Buddha Mahayana. Ia juga memindahkan pusat kerajaan  ke arah timur.

Oleh para ahli sejak era Boechari, ayah Raja Sankhara yang tak disebutkan dalam prasasti disamakan dengan Sanjaya. Sedangkan Raja Sankhara disamakan dengan Panamkaran. “Sayangnya,” keluh Bambang Budi Utomo, “prasasti Raja Sankhara entah di mana keberadaannya saat ini. Prasasti itu pernah disimpan di Museum Adam Malik. Saat museum itu ditutup, koleksinya dijual ke pedagang loak.”

Asal mula Sailendra

Pada awal 1963 di Desa Sojomerto, Kabupaten Batang, dekat Pekalongan, ditemukan prasasti yang, uniknya, berbahasa Melayu Kuno. Huruf-huruf Pallawa dalam piagam batu itu menyebutkan nama-nama keluarga dari seorang tokohnya, Dapunta Selendra.

“Sembah kepada Siwa Bhatara Parameswara dan semua dewa... Dari yang mulia Dapunta Selendra. Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra.” Demikian terjemahan isi prasasti Sojomerto.

Paleografinya bercorak abad ketujuh. “Lebih tua dari prasasti Kedukanbukit,” tulis Boechari. Ia juga menganalisis, Selendra adalah penyebutan Melayu untuk Sailendra (bahasa Sanskerta). Sedangkan kata “dapunta” adalah terminologi Melayu Kuno. Dapunta Selendra adalah awal dari Dinasti Sailendra, tegasnya
Kesimpulan ini memperkuat teori Poerba­tjaraka, bahwa Sailendra berasal dari Nusantara. Pada masa sebelumnya para ahli beranggapan Sailendra datang dari luar Indonesia.

George Coedes mengusulkan, Sailendra berasal dari Funan, kerajaan kuno di wilayah Kamboja sebelum Chenla. Menurutnya, Sailendra berarti “raja gunung”. Ketika Funan runtuh dan terjadi kerusuhan, keluarga kerajaan ini hijrah ke Jawa menggunakan nama Sailendra.


Sejarawan India RC Majumdar memiliki pendapat sendiri: Sailendra berasal dari India, tepatnya dari Kalingga, India Selatan. Keluarga Sailendra, menurut Majumdar, kemudian menetap di Palembang sebelum kedatangan Dapunta Hyang. Pada 682, keluarga ini menyingkir ke Jawa karena terdesak oleh Dapunta Hyang dengan bala tentaranya. Pada waktu itu, masih versi Majumdar, Sriwijaya berpusat di Semenanjung Malaka. 

“Raja-raja Sailendra adalah keturunan Dapun­ta Selendra. Jadi tak perlu menghubung­kan kata itu dengan ‘raja gunung’,” sanggah Boechari. Dalam hal ini, menurutnya, Dapunta Selendra berasal dari Akhandalapura. Berita-berita Cina menyebutkannya sebagai Gantuoli (Kantoli), kerajaan pendahulu Sriwijaya.

Bambang Budi Utomo mendukung. “George Coedes dulu banyak menghabiskan waktu di Thailand dan Kamboja. Wajar dia beranggapan Sailendra dari Funan. Namun, tidak ada prasasti atau peninggalan arkeologis Sailendra di sana. RC Majumdar orang India. Saya kira ada faktor-faktor yang demikian,” kata Bambang. “Yang jelas, berdasarkan bukti prasasti Sojomerto, tampaknya Sailendra berasal dari Sumatra.” 

Share:

Tuesday, March 22, 2022

Legenda Bajak-bajak Laut Sriwijaya yang Meraja di Selat Malaka


Lima orang bersenjata memanjat suatu kapal tanker yang mengambang di atas gelombang. Kelima orang itu mengikat semua awak kapal, kemudian memaksa agar muatan kapal dipindahkan ke tangki yang telah mereka siapkan. Peristiwa perompakan itu terjadi di Selat Malaka beberapa tahun silam, menurut laporan International Maritime Bureau.

Saat ini, setiap hari diperkirakan sekitar 200 kapal berlayar melewati Selat Malaka. Sementara itu, bajak laut menjadi kisah yang terus membayangi jalur pelayaran paling sibuk di dunia itu. Sejatinya, fenomena ini telah berlangsung sejak masa Kerajaan Sriwijaya.
Antara abad ketujuh hingga ke-11 atau hampir empat abad lamanya, Sriwijaya “mengendalikan” Selat Malaka. Mereka menjadi perantara dalam lalu lintas komoditas dari barat dan timur.


Disebut-sebut, salah satu kunci sukses Sriwijaya adalah dengan menggandeng para orang-orang laut dan kelompok-kelompok bajak laut. Oleh Sriwijaya, mereka dijadikan semacam garda depan dalam memantau pelayaran. Beberapa manuskrip kuno yang menyiratkan hal ini.

Seorang komisaris perdagangan Cina bernama Chau Ju-kua menulis Chufanchi (Zhu Fan Zhi—catatan tentang bangsa-bangsa asing/barbar) pada 1225. Terdapat sekelumit indikasi dalam karya Chau yang diterjemahkan oleh Friedrich Hirth dan WW Rockhill pada 1911.  

Apabila sebuah kapal dagang lewat tanpa singgah, kapal-kapal mereka mengejar untuk menyerang dan semuanya berani mati saat melakukannya. Inilah alasan mengapa negeri ini merupakan sebuah pusat perdagangan yang besar,” tulis Chau.

Sementara itu, dalam buku Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia, Kenneth Hall mengutip informasi dari catatan kuno Arab yang ikut menggambarkan bagaimana cara Sriwijaya mengelola Selat Malaka. Pada pertengahan abad ke-10, tulisnya, Sriwijaya tercatat memungut pajak 20.000 dinar sebelum sebuah kapal dagang Yahudi dapat melanjutkan pelayarannya ke Cina.

Masih dari buku karya Kenneth, disebutkan cuplikan kisah dari  ahli geografi dari Arab, Ibnu Rusta. Pada sekitar abad ke-10 Ibnu Rusta melukiskan suatu pulau di Riau (diperkirakan Kepulauan Lingga). “Pemimpinnya mengepalai pasukan Sriwijaya,” demikian catat Ibnu seperti dikutip Kenneth, “Terkenal akan kamper dan kemampuannya untuk melindungi atau mengganggu kapal-kapal yang melintas.”

Ahmad Berkah dalam Dampak Kekuasaan Maritim Sriwijaya Terhadap Masuknya Pedagang Muslim Di Palembang Abad VII-IX Masehi, mengungkapkan bahwa Sriwijaya menguasai maritim karena didukung kekuatan tentara dan manajemen pemimpin. Kerajaan ini dengan mudah menguasai jalur-jalur pelayaran yang strategis, utamanya seperti Selat Malaka, Selat Bangka, Selat Sunda, Selat Karimata.

Kekuatan Sriwijaya mampu mengendalikan bajak laut. Kondisi jalur pelayaran yang awalnya menakutkan bagi para pedagang Muslim, ungkap Berkah, berubah menjadi aman dan nyaman untuk dilayari. Berkah juga menambahkan bahwa hubungan kerja sama Sriwijaya dengan mancanegara menghasilkan pengakuan kedaulatan dan menambah kuatnya kekuasan di jalur perdagangan.

“Apabila sebuah kapal dagang lewat tanpa singgah, kapal-kapal mereka mengejar untuk menyerang dan semuanya berani mati saat melakukannya. Inilah alasan mengapa negeri ini merupakan sebuah pusat perdagangan yang besar,” tulis Chau.

Sementara itu, dalam buku Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia, Kenneth Hall mengutip informasi dari catatan kuno Arab yang ikut menggambarkan bagaimana cara Sriwijaya mengelola Selat Malaka. Pada pertengahan abad ke-10, tulisnya, Sriwijaya tercatat memungut pajak 20.000 dinar sebelum sebuah kapal dagang Yahudi dapat melanjutkan pelayarannya ke Cina.

Masih dari buku karya Kenneth, disebutkan cuplikan kisah dari  ahli geografi dari Arab, Ibnu Rusta. Pada sekitar abad ke-10 Ibnu Rusta melukiskan suatu pulau di Riau (diperkirakan Kepulauan Lingga). “Pemimpinnya mengepalai pasukan Sriwijaya,” demikian catat Ibnu seperti dikutip Kenneth, “Terkenal akan kamper dan kemampuannya untuk melindungi atau mengganggu kapal-kapal yang melintas.”

Ahmad Berkah dalam Dampak Kekuasaan Maritim Sriwijaya Terhadap Masuknya Pedagang Muslim Di Palembang Abad VII-IX Masehi, mengungkapkan bahwa Sriwijaya menguasai maritim karena didukung kekuatan tentara dan manajemen pemimpin. Kerajaan ini dengan mudah menguasai jalur-jalur pelayaran yang strategis, utamanya seperti Selat Malaka, Selat Bangka, Selat Sunda, Selat Karimata.

Kekuatan Sriwijaya mampu mengendalikan bajak laut. Kondisi jalur pelayaran yang awalnya menakutkan bagi para pedagang Muslim, ungkap Berkah, berubah menjadi aman dan nyaman untuk dilayari. Berkah juga menambahkan bahwa hubungan kerja sama Sriwijaya dengan mancanegara menghasilkan pengakuan kedaulatan dan menambah kuatnya kekuasan di jalur perdagangan.

“Sriwijaya dengan kekuatan maritimnya serta bekerja sama dengan Orang-orang laut untuk mengamankan jalur pelayaran menuju pusat Sriwijaya dari para perompak bajak laut,” tulisnya. “Serta meningkatkan kepercayaan kepada para pedagang Muslim baik dalam perdagangan maupun jaminan keamanan diperjalanan pulang pergi dari pusat Sriwijaya dan akses bagi pedagang muslim dalam proses Islamisasi melalui jalur perdagangan di wilayah kerajaan Sriwijaya.”

Sejak keruntuhan Sriwijaya, sekitar abad ke-11 atau ke-12, bajak laut di Selat Malaka bertindak sendiri-sendiri dan tampaknya semakin mengganas. Selat Malaka menjadi rawan bagi pelayaran. Hal inilah yang “dibersihkan” oleh armada Cheng Ho (Zheng He) pada abad ke-15. Namun, pada waktu-waktu kemudian, para perompak terus beraksi. Hingga sekarang.






 

Share:

Saturday, March 19, 2022

Biara Anglo-Saxon di Inggris, Bukti Kekuasaan Ratu Cynethryth


Para arkeolog telah menemukan biara dari Zaman Anglo-Saxon di Berkshire, Inggris. Hasil penggalian di musim panas ini memberikan wawasan unik tentang salah satu wanita terkuat pada awal abad pertengahan.

Biara yang berasal dari abad delapan itu dilansir dari rilis di laman University of Reading, tepatnya berlokasi di desa Cookham, tepi sungai Thames. Keberadaan biara ini sempat menjadi misteri, walau sempat disebut dalam sejarah kontemporer. Catatan tertulis juga menunjukkan biara ini berada di bawah kekuasaan dari Ratu Cynethryth, janda Raja Offa dari Mercia.

Dari penggalian di halaman Holy Trinity Church, tim telah menemukan sisa-sisa bangunan kayu, sisa-sisa makanan, bejana tembikar yang digunakan untuk memasak hingga barang-barang pribadi seperti pakaian, peniti, gelang perunggu yang mungkin dikenakan oleh perempuan dari komunitas tersebut.

Dikutip dari Independent, para arkeolog juga menemukan pecahan batu quern – perkakas dari batu untuk menggiling – guna membuat tepung, terbuat dari lava vulkanik, diimpor dari tempat yang kini disebut dengan Jerman. Penemuan ini membuat Dr Gabor Thomas dari University of Reading selaku pemimpin penggalian mengungkapkan akan menggali lebih dalam tentang biara ini.


“Biara Cookham yang hilang sempat membuat bingung para sejarawan dengan sejumlah teori mengenai lokasinya. Kami bertujuan untuk memecahkan misteri ini,” ujar Dr Gabor Thomas dalam rilis yang dipublikasikan University of Reading.

“Bukti yang telah kami temukan mengkonfirmasi bahwa biara Anglo-Saxon terletak di tengah-tengah pulau kerikil, di samping sungai Thames yang sekrang ditempati oleh gereja paroki saat ini,” lanjutnya.

Dr Gabor Thomas menjelaskan walaupun asosiasi kerajaan didokumentasikan, hampir tidak ada yang diketahui dari kehidupan di dalam biara ini atau hal-hal lain di sekitar sungai karena kurangnya bukti arkeologis. Maka dari itu, dengan barang-barang yang ditemukan akan memungkinkan para arkeolog untuk mengetahui lebih rinci bagaimana kehidupan biarawan dan biarawati di sana, mulai dari makan, bekerja dan berpakaian.

Lebih lanjut bentangan Sungai Thames di mana Cookham berada membentuk batas yang diperebutkan oleh kerajaan Mercia dan Wessex. Sehingga biara di tempat tersebut  memiliki kepentingan strategis dan politik tertentu.
Tata letak biara juga diatur dalam serangkaian zona fungsional yang dibatasi oleh parit. Salah satu zona tampaknya telah digunakan untuk perumahan dan satu lagi untuk kegiatan industri yang diduga untuk pengerjaan logam terlihat dari adanya perapian.

Berbicara tentang Ratu Cynethryth, dia merupakan salah satu wanita paling penting sepanjang sejarah Zaman Anglo-Saxon. Dia merupakan satu-satunya perempuan yang kepalanya terukir di koin pada masa itu.

Dr Gabor Thomas juga menggambarkan Ratu Cynethryth sebagai sosok yang menarik dan memiliki pengaruh. Biara di Berkshire, Inggris ini sangat mungkin menjadi tempat peristirahatan sang ratu.


Cynethryth sendiri masuk dalam ordo religius dan menjadi kepala biara kerajaan setelah kematian Raja Offa di tahun 796 M. Sebelum kematiannya, sang raja memerintah Mercia, salah satu kerajaan Anglo-Saxon yang utama di Inggris. Ratu Cynethryth sendiri meninggal dunia setelah tahun 798 M.

Zaman Anglo-Saxon di Britania diperkirakan berlangsung pada abad keenam, anatar tahun 410 – 1066 M. Periode ini dikenal dengan istilah Dark Ages karena kelangkaan sumber tertulis untuk tahun-tahun awal invasi Saxon.

Sekilas tentang Raja Offa, banyak sejarawan yang menganggapnya sebagai raja Anglo-Saxon yang paling berkuasa sebelum Alfred the Great. Sosoknya dikenal karena pada masa pemerintahannya dibuat sebuah pembatas antara Inggris dan Wales bernama Offa’s Dyke dan masih bisa dilihat sampai sekarang.

Share:

Friday, March 18, 2022

Ilmuwan Identifikasi Fosil Kumbang Berkaki Katak Berusia 49 Juta Tahun


Frank Krell dari Denver Museum of Nature and Science bekerjasama dengan Francesco Vitali, dari Luxembourg National Museum of Natural History telah mengidentifikasikan spesies kumbang daun berkaki katak. Spesies kumbang tersebut diidentifikasi dari fosil kumbang yang hidup hampir 49 juta tahun yang lalu.
Fosil kumbang tersebut telah dipamerkan di pameran Denver Museum of Nature & Science's "Prehistoric Journey" sejak dibuka pada tahun 1995. Fosil tersebut berasal dari Formasi Sungai Hijau di Garfield County, Colorado.

Pola indah pada cangkang sayapnya kemudian menarik perhatian Krell yang merupakan Kurator Senior Entomologi di Denver Museum of Nature and Science. "Ini adalah salah satu fosil kumbang paling menakjubkan yang pernah ditemukan," kata Krell dalam rilis Denver Museum of Nature & Science.
Kumbang memang kokoh saat masih hidup, tetapi kumbang secara keseluruhan tidak mudah membatu dan menjadi fosil. Mereka sering berantakan dan hancur ketika mengapung di air, tenggelam, dan mencapai sedimen.

"(Pada fosil ini) polanya dipertahankan dalam kejelasan dan kontras yang tak tertandingi, menjadikannya salah satu fosil kumbang yang paling terawetkan," katanya.

Catatan fosil biasanya hanya menampilkan satu sayap. "Endapan berbutir halus dan beberapa endapan dengan kondisi yang baik memberikan kita fosil yang terawetkan dengan sangat baik. Endapan itu disebut Lager Stetten. Formasi Sungai Hijau Eosen di barat laut Colorado adalah salah satunya," ia menjelaskan.
Namun, menurutnya sulit untuk mengidentifikasi spesimen fosil kumbang tersebut. Dalam pameran museum, fosil kumbang itu telah ditampilkan sebagai kumbang tanduk panjang.

Akan tetapi, karena fitur pada fosil tersebut tidak cocok dengan kumbang tanduk panjang lainnya, Krell kemudian mencari Francesco Vitali. Ia merupakan Kurator Koleksi Zoologi Invertebrata dari National Museum of Natural History of Luxembourg, dan merupakan pakar kumbang tanduk panjang.

“Saya sangat senang memiliki kesempatan untuk mengerjakan fosil yang luar biasa dan unik,” kata Vitali.
Bersama-sama keduanya melihat semua detail yang terawetkan pada fosil tersebut. Dan akhirnya, detail kaki belakangnya yang melengkung membuktikan identitas aslinya sebagai kumbang daun berkaki katak. Detail lengkap identifikasi fosil kumbang tersebut telah dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Papers in Palaeontology pada 6 Agustus 2021.

Arti Sebuah Nama

Nama ilmiah terdiri dari dua komponen, genus dan nama spesies. Seperti misalnya Homo sapiens. Pada kasus fosil kumbang ini, menurut peneliti membutuhkan nama genus baru.

Kemudian, karena fitur yang terdapat pada fosil tersebut tidak cocok dengan genus kumbang daun berkaki katak yang ada saat ini. Karena keindahannya, Krell dan Vicente memilih nama Pulchritudo, yang merupakan bahasa Latin untuk kecantikan.

Ahli zoologi dan botani sering mendedikasikan spesies baru untuk rekan-rekan yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu pengetahuan, atau kepada orang-orang yang istimewa bagi mereka.

Fosil kumbang itu kemudian diberi nama Pulchritudo attenboroughi atau Attenborough’s Beauty. Nama tersebut diambil dari nama penyiar dan naturalis Inggris, Sir David Attenborough yang menurut Krell, telah mengilhami dia, keluarganya, dan jutaan orang lain melalui film dokumenternya tentang alam.

“Tidak ada yang memberikan keagungan dan keindahan alam lebih mengesankan daripada Sir David. Fosil ini, unik dalam pelestarian dan keindahannya, adalah spesimen yang tepat untuk menghormati orang yang begitu hebat,” jelas Krell.

Share:

Thursday, March 17, 2022

Terungkap, Bagian Mars Utara Pernah Mengalami Ribuan 'Letusan Super'


Mars, planet merah yang paling banyak menaruh perhatian dan harapan para ilmuwan di masa depan ini ternyata sempat mengalami sebuah peristiwa dahsyat selama hidupnya. Belum lama ini, NASA telah mengonfirmasi bukti adanya ribuan letusan gunung berapi purba yang masif pernah terjadi di Mars.

Beberapa gunung berapi sangatlah kuat sehingga mereka bisa melepaskan sejumlah besar debu dan gas beracun ke udara. Debu-debu ini dapat menghalangi sinar matahari dan mengubah iklim planet selama beberapa dekade. Mungkin inilah salah satu alasan yang telah membuat kondisi planet Mars menjadi seperti saat ini.

Para ilmuwan yang belum lama mempelajari topografi dan komposisi mineral area yang disebut sebagai Arabia Terra di Mars utara ini telah menemukan adanya bukti letusan super kuat semacam itu.

Dilansir oleh Tech Explorist, Patrick Whelley, ahli geologi di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland, yang memimpin analisis Arabia Terra, mengatakan, “Setiap letusan ini akan memiliki dampak iklim yang signifikan — mungkin gas yang dilepaskan membuat atmosfer lebih tebal atau menghalangi Matahari dan membuat atmosfer menjadi lebih dingin. Pemodel iklim Mars akan memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencoba memahami dampak gunung berapi ini.”

Hasil studi Patrick Whelley ini telah diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters pada 26 juli 2021 berjudul Stratigraphic Evidence for Early Martian Explosive Volcanism in Arabia Terra.

Dalam laporannya dijelaskan bahwa gunung berapi yang meletus itu diiringi dengan muntahan uap air, sulfur dioksida, dan karbon dioksida ke udara. Ledakan ini telah merobek permukaan Mars selama periode 500 juta tahun sekitar 4 miliar tahun yang lalu. Sehingga mampu mengubah iklim planet Mars. Tujuh kaldera di Arabia Terra menjadi bukti dan menunjukkan bahwa area tersebut kemungkinan pernah menjadi tuan rumah dari gunung berapi yang berkekuatan letusan super.


Berdasarkan data-data yang berhasil dikumpulkan oleh Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) NASA, para ilmuwan mencoba untuk menemukan abu di tempat lain di Mars. Dan ternyata benar, hasil analisa mineral di permukaan Arabia Terra memang berasal dari gunung berapi.

“Jadi kami mengambilnya pada saat itu dan berkata, 'Oke, ini adalah mineral yang terkait dengan abu vulkanik yang diubah, yang telah didokumentasikan, jadi sekarang kita akan melihat bagaimana mineral didistribusikan untuk melihat apakah mereka mengikuti pola yang kita harapkan dari letusan super.” kata Alexandra Matiella Novak, seorang ahli vulkanologi di Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins di Laurel, Maryland.

Dengan menggunakan gambar-gambar hasil jepretan kamera MRO, para ilmuwan menyusun kembali peta topografi tiga dimensi dari Arabia Terra. Lalu meletakkan data mineral di atas peta topografi ngarai dan kawah yang akan dianalisis tersebut. Hasilnya, para ilmuwan mendapatkan endapan kaya mineral yang terawetkan dengan sangat baik.

Share:

Monday, March 14, 2022

Penemuan Selokan Tempat Puluhan Orang Yahudi Bersembunyi dari Nazi

Selama Perang Dunia II, banyak orang Yahudi yang melarikan diri dari Nazi dengan bersembunyi di selokan Kota Lviv, Ukraina. Kejadian itu telah menjadi cerita yang diketahui banyak orang Ukraina maupun publik internasional.

Namun lokasi persembunyian bawah tanah itu tetap tidak diketahui sampai baru-baru ini. Sekelompok arkeolog yang terinspirasi oleh film Polandia 2011 tentang kisah persembunyian itu berhasil menemukan saluran pembuangan air bawah tanah tersebut. Dahulu setidaknya ada 20 orang Yahudi yang tinggal --dan banyak lainnya meninggal-- di tempat itu dalam kondisi yang mengerikan.

Saluran bawah air itu berada di Cathedral Square. Para peneliti menemukan selokan yang terutup itu tidak hanya menampung banyak orang, tetapi juga sejumlah barang-barang peninggalan waktu, termasuk botol bir dari masa pendudukan Nazi dan mainan yang kemungkinan disediakan oleh salah satu penduduk setempat untuk membantu orang-orang Yahudi bersembunyi di sana.

Penemuan tempat persembunyian itu pada bulan lalu terjadi saat para peneliti dari Lviv University melakukan pembersihan yang melelahkan terhadap sistem saluran pembuangan air tersebut. Mereka sebelumnya telah mengumpulkan kesaksian dari keluarga Krystyna Chiger dan orang-orang yang selamat lainnya, menurut laporan Zaxid, situs berita Ukraina.

Krystina Chiger adalah satu saksi hidup yang tahu upaya persembunyian orang-orang Yahudi di selokan air tersebut. Pada tahun 1947, ketika dia masih berusia 11 tahun, di memberikan kesaksisannya.

"Di musim panas, ketika hujan merembes, ada banyak air di mana-mana," kenang Chiger. "Kemudian kami harus bersandar sangat rendah di batu tepat di sebelah dinding agar air tidak mengalir ke kami."

Para peneliti memeriksa ruangan di selokan di Lviv,  tempat puluhan orang Yahudi bersembunyi dari Nazi.
Explorer/Zaxid
Para peneliti memeriksa ruangan di selokan di Lviv, tempat puluhan orang Yahudi bersembunyi dari Nazi.

Dalam upaya pecarian saluran pembuangan air ini, tim peneliti ingin mempelajari bagaimana tepatnya setidaknya 20 orang berhasil hidup selama berbulan-bulan di lingkungan yang dipenuhi penyakit dan lembap itu. Selain itu, mereka juga ingin mendokumentasikan keseluruhan cerita yang menjadi terkenal di dunia karena menunjukkan tekad inspiratif para penyintas untuk hidup.






 

Share:

Saturday, March 12, 2022

Pedang Bizantium Langka Berusia 1000 Tahun Ditemukan di Turki

Dua buah pedang langka dan unik ditemukan oleh para arkeolog di Turki. Keduanya ditemukan di tempat terpisah di kota yang merupakan bekas Kekaisaran Bizantium. Salah satunya, digali di gereja, diperkirakan digunakan sebagai persembahan.

Kenop bundar seperti cincin menghiasi ujung gagang setiap pedang. Model pedang seperti ini jarang ditemukan di Bizantium. Menurut penelitian, fitur menarik pada kedua pedang ini membedakan pedang kenop bundar lainnya dari peradaban terdekat.

Hingga saat ini, sulit untuk menentukan etnis atau kelompok apa yang menggunakannya sekitar 1000 tahun yang lalu.

Para arkeolog menemukan pedang di Amorium. Ini merupakan sebuah kota Bizantium yang menjadi persimpangan penting antara Konstantinopel dan kota-kota besar lainnya. Amorium juga sempat menjadi lokasi militer dan benteng yang berfungsi sebagai garis pertahanan pertama melawan invasi Arab.

Para peneliti melakukan penggalian sistematis di Amorium sejak tahun 1988. Pedang pertama ditemukan terpisah-pisah dan berkarat di atrium sebuah gereja pada tahun 1993.  Yang kedua ditemukan pada tahun 2001 di bagian bawah kota. Keduanya berasal dari abad ke-10 dan ke-11, selama periode Bizantium tengah (843 hingga 1204).

Penemuan pedang di sebuah gereja mungkin "dianggap aneh". Namun menurut Errikos Maniotis, seorang peneliti independent, meletakkan senjata di tempat-tempat suci menjadi kebiasaan pada saat itu.

Ada kemungkinan bahwa pedang tersebut diletakkan di gereja bukan untuk tujuan kekerasan. "Dari sumber bersejarah diketahui bahwa senjata telah disimpan sebagai persembahan nazar di gereja-gereja," tutur Maniotis. Benda khusus sengaja ditinggalkan untuk dewa, pemimpin agama, atau lembaga.

Kaisar Bizantium Konstantinus VII Porphyrogennetos menulis bahwa perisai Santo Theodore Teron digantung di bawah kubah gereja. Ini dilakukan sebagai penghormatan.

“Senjata yang ditempatkan di gereja biasanya dikaitkan dengan relikui suci yang berhubungan dengan para santo prajurit," tambah Maniotis. Dalam agama, relikui biasanya terdiri atas jasad atau bagian tubuh serta benda-benda pribadi dari seseorang yang dianggap suci atau dihormati. Relikui ini diawetkan atau disimpan untuk tujuan penghormatan.


Pedang kedua, ditemukan di kota yang lebih rendah, memiliki gagang sepanjang 14 sentimeter dan bilah bermata dua. Panjang bilahnya setidaknya 61 sentimeter. Penemuan ini dipaparkan oleh Maniotis dan rekan peneliti studi Zeliha Demirel-Gökalp dalam studi. Demirel-Gökalp adalah direktur penggalian di Amorium dan seorang profesor di Departemen Sejarah Seni.

Dimensi pedang menunjukkan bahwa seorang prajurit Bizantium mungkin telah menggunakannya sebagai pedang opsional sekunder selama pertempuran.

Meskipun jarang terjadi di Kekaisaran Bizantium, pedang berkenop cincin dikenal dari budaya lain. Kenop berbentuk cincin yang paling awal diketahui berasal Dinasti Han Tiongkok (206 SM hingga 220 M). Praktik penggunaannya pun menyebar ke bangsa Skit dan Hun nomaden.

Pada budaya lain, pedang ini ditemukan di Sarmatian, yang tinggal di Asia Tengah, dan Romawi. Bisa jadi tentara Romawi mengadopsi praktik ini dari tentara bayaran Sarmatian.

Tidak seperti pedang lain yang pernah ditemukan, pedang yang ditemukan di gereja memiliki struktur seperti pelindung silang (cross-guards). Ini tampak seperti sepotong logam yang tegak lurus dengan bilah di ujung pegangannya. Fitur ini, serta yang lainnya, belum pernah terlihat pada pedang kenop cincin sebelumnya. Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa pedang ini unik dan langka.  

Pedang itu sangat tidak biasa, para peneliti mengusulkan untuk memberi nama baru yaitu pedang kenop cincin Bizantium hibrida. Lokasi tempat penemuan kedua pedang berdekatan satu sama lain di Amorium. Sehingga mungkin ada gudang senjata khusus di kota yang memproduksi jenis pedang cincin ini. Atau bisa jadi semua ini hanya kebetulan semata.








 

Share:

Thursday, March 10, 2022

Socotra

 Jika anda diculik dengan mata tertutup lalu dilepaskan di pulau Socotra, niscaya anda akan mengira bahwa anda telah diculik Alien dan dibuang di planet yg jauh dari bumi .. atau anda akan berpikir bahwa anda telah dibuang ke sebuah zaman pada masa lalu ...







Socotra adalah pulau di negara Yaman yg memiliki lanskap paling aneh didunia. Ini disebabkan karena terisolasinya pulau tersebut selama jutaan tahun dari mainlandnya yaitu Afrika. Hampir mirip Galapagos, pulau ini memiliki 700 spesies flora dan fauna langka dan aneh, dan sepertiganya adalah endemic atau hanya ditemukan dipulau ini.



 Sayangnya daerah perairan pulau Socotra ini sekarang adalah daerah berbahaya bagi pelayaran karena adanya ancaman bajak laut Somalia ....


Share:

Tuesday, March 8, 2022

Alien dari Kedalaman: Cacing Zombie yg Meleburkan Tulang Paus


Ini adalah cacing bawah laut yang mengerikan yang memakan kerangka ikan paus dengan melepaskan asam pelebur tulang. Osedax adalah genus dari siboglinid polychaetes laut dalam, biasa disebut cacing tulang atau cacing zombie. Osedax dalam bahasa Latin berarti "pemakan tulang", nama ini menggambarkan bagaimana cacing ini menembus ke dalam tulang-tulang bangkai ikan paus untuk mencari lemak tulang, di mana mereka bergantung darinya
Cacing Osedax kecil hidup di dalam bangkai paus, tapi ahli biologi bingung tentang bagaimana mereka bisa meleburkan tulang paus, karena cacing ini tidak memiliki mulut.


Ilmuwan dari Universitas San Diego menemukan bahwa cacing memiliki enzim yang mengeluarkan asam pelebur tulang - yang terkonsentrasi pada bagian yang menggali ke dalam 'makanan' mereka.

Cacing Osedax kecil hidup di dalam bangkai paus - dan 'makan' tulang mereka. 'Leburan' tulang melepaskan lemak dan minyak, yang dicerna oleh bakteri yang hidup di dalam cacing dan kemudian mereka akan menghasilkan nutrisi yang dapat diserap oleh cacing ini.
Hanya betina yang dilengkapi dengan 'senjata biologis' yang mengerikan ini - cacing jantannya jauh lebih kecil, dan masing-masing betina dikelilingi oleh 'harem' nya (cacing jantan) yang berada di dalam pembuluh gelatin.

'Cacing Jenggot' atau Siboglinidae adalah salah satu dari sedikit binatang yang diketahui benar-benar tidak memiliki mulut, usus dan anus, dan bergantung sepenuhnya pada bakteri esymbiotic untuk nutrisi mereka.


Ditemukan di timur dan barat Pasifik dan utara Atlantik, Osedax memiliki keunikan, karena mereka dapat menembus dan mencerna tulang menggunakan bakteri yang ditempatkan di sebuah sistem 'akar' yang bercabang dan kompleks.

Genus Osedax pertama kali ditemukan di California Monterey Bay pada tahun 2002. Hal ini dijelaskan dalam jurnal Science pada tahun 2004.

Share:

Sunday, March 6, 2022

Desert Lotus Hotel - Hotel di Padang Pasir


Sebuah hotel baru yang megah telah berdiri di tengah lautan pasir yang luas di Xiangshawan Desert, Inner Mongolia, 800 kilometer sebelah barat Beijing. Dinamakan "Desert Lotus Hotel", strukturnya terdiri dari tenda segitiga dengan atasan putih yang berulang, diputar 45 derajat dan terhubung bersama-sama dalam formasi melingkar seperti teratai. Bebas dari genteng dan batu bata untuk konstruksi, resor ini dibangun dengan bahan-bahan ramah lingkungan rendah karbon untuk memanfaatkan tenaga surya, air dan energi angin di padang gurun, mengurangi pencemaran lingkungan dan memperkuat
 perlindungan ekologi. Bearing walls nya memberikan struktur sebagian besar bantalan dari integritas strukturalnya, sedangkan barisan yang mempesonakan dari panel segitiga yang berulang memberikan keteduhan dan perlindungan dari elemen ekstrem padang pasir.


Karena pembatasan oleh kondisi geografis khususnya, PLaT Architects menciptakan sebuah sistem struktur baru yang cocok dalam fluida pasir dengan hanya menggunakan panel baja tanpa bantuan beton atau air. Panel-panel dan struktur kerangka pendukung adalah pra-fabrikasi, dan membuat dasar bangunan menjadi wadah besar untuk pasir. Dengan demikian, struktur panel baja bisa berfungsi sebagai perahu mengambang di padang pasir yang membawa bangunan. Pasir masuk dan keluar dari struktur mengerahkan kekuatan yang sama satu sama lain, dan dengan demikian membuatnya stabil.

Hotel ini adalah bagian dari sebuah resor baru yang dibangun di tengah lautan luas bukit-bukit pasir, yang semakin populer dikalangan turis Cina. Resor menyajikan pertunjukan bertema Mongolia, naik unta, selancar gurun, dan masih banyak lagi.

Share:

Friday, March 4, 2022

Video Suar Surya yang Anggun


NASA telah meluncurkan rekaman yang luar biasa dari apa yang digambarkan sebagai suar surya atau solar flare yang anggun yang meletus dari permukaan matahari.
Suar surya tingkat menengah meletus pada Rabu, 2 April, pada 14:05 GMT (10:05 EDT) direkam oleh Solar Dynamics Observatory.

Solar flare adalah semburan kuat radiasi dari matahari. Radiasi berbahaya dari flare tidak dapat melewati atmosfer bumi untuk mempengaruhi manusia secara fisik di bumi.

Namun, ketika mereka cukup kuat, mereka dapat mengganggu atmosfer di lapisan dimana GPS dan sinyal komunikasi berada.

Suar ini diklasifikasikan sebagai suar M6.5, dan tidak menyebabkan gangguan yang signifikan di Bumi. Suar kelas M sepuluh kali lebih lemah daripada flare yang paling intens, yang diberi label kelas X, yang dapat menyebabkan coronal mass ejection atau CME.


Angka yang ditulis setelah huruf M memberikan informasi lebih lanjut tentang kekuatannya. Suar M2 adalah dua kali lebih intens daripada M1 dan M3 adalah tiga kali lebih intens daripada M1.

Pada tanggal 29 Maret, matahari melepaskan surya suar kelas X yang menyebabkan gangguan radio singkat sementara dan menghasilkan serangkaian coronal mass ejections (CME).

CME adalah letusan plasma yang kuat di dekat permukaan matahari didorong oleh kekusutan dalam medan magnet matahari.

Awal bulan ini, para ilmuwan selangkah lebih dekat untuk memahami fenomena di balik jilatan api matahari ini dengan menyaksikan, untuk pertama kalinya, mekanisme di balik itu.


Footage yang disatukan oleh sebuah tim internasional yang dipimpin oleh peneliti dari University of Cambridge menunjukkan garis-garis medan magnet terjerat perulangan dari permukaan matahari .

Garis-garis magnetik tergelincir sekitar satu sama lain dan menyebabkan letusan 35 kali ukuran Bumi dan merilis ledakan energi magnetik ke ruang angkasa. Penemuan pembentukan energi raksasa ini telah membawa para ilmuwan selangkah lebih dekat untuk bisa memprediksi kapan dan di mana suar besar akan terjadi.

Peradaban manusia yang saat ini dikelola dengan teknologi masih rentan terhadap cuaca ruang angkasa. Memang, sebuah coronal mass ejections dapat merusak satelit dan karena itu akan membuat kerugian yang sangat besar. Mereka juga dapat mengancam penerbangan dengan mengganggu medan magnet bumi. Suar yang sangat besar bahkan dapat menciptakan arus dalam jaringan listrik dan melumpuhkan pasokan energi.

Share:

Thursday, March 3, 2022

NGC 1277 dan Lubang Hitam Supermasif Kolosalnya


NGC 1277 adalah galaksi lentikular terletak di konstelasi Perseus. Galaksi ini terletak pada jarak sekitar 250 juta tahun cahaya dari Bumi. Galaksi ini terkenal karena memiliki lubang hitam supermasif yang sangat besar di pusatnya, salah satu lubang hitam terbesar yang pernah ditemukan.

Lubang hitam supermasif tersebut ditemukan pada tanggal 28 November 2012, oleh tim yang dipimpin oleh astronom Belanda Remco van den Bosch (Max Planck Institute of Astronomy) di Observatorium McDonald di Austin, Texas.

Tim astronom menemukan lubang hitam raksasa ini selama survei untuk mencari "lubang hitam terbesar yang bisa ditemukan"

Para astronom menganalisa cahaya yang datang dari 700 galaksi, menggunakan teleskop besar pengumpul cahaya: Teleskop Hobby-Eberly di University of Texas di Austin Mcdonald Observatory.

Dari survei, mereka menemukan enam galaksi dengan bintang-bintang dan obyek-obyek lainnya bergerak dengan kecepatan rata-rata sangat tinggi - lebih dari 350 kilometer per detik. Galaksi-galaksi tersebut berukuran kecil, kurang dari 9.784 tahun cahaya diameternya.

Dengan kecepatan dan ukuran seperti itu berarti ada lubang hitam masif berbaring di dalam galaksi-galaksi tersebut, tim kemudian menggunakan arsip data Hubble Space Telescope dari NGC 1277 dan menemukan lubang hitam supermasif besar.


Lubang hitam di pusat NGC 1277 memiliki massa sekitar 17 miliar kali massa Matahari, yang berarti sekitar 14 persen dari total massa galaksi tersebut. Kebanyakan lubang hitam supermasif massanya 0,1 persen dari total massa galaksi mereka.

Apa yang sangat penting tentang lubang hitam ini adalah bahwa lubang hitam ini ditemukan di pusat galaksi lenticular, sementara sebagian besar lubang hitam supermasif lainnya ditemukan di galaksi elips besar. Terlepas dari ukuran galaksi, pada saat penemuan, lubang hitam supermasif di NGC 1277 adalah lubang hitam terbesar kedua yang dikenal.

Horison peristiwa lubang hitam ini memiliki diameter 11 kali lebih besar dari orbit Neptunus mengelilingi matahari.


NGC 1277 adalah galaksi yang relatif kecil, massa dan ukurannya hanya 10 persen massa dan ukuran Bima Sakti, namun lubang hitam di pusatnya adalah sekitar 4.000 kali lebih besar dari lubang hitam yang bersemayam di inti galaksi kita. Sebagai perbandingan, massa tonjolan pusat Bima Sakti adalah sekitar 20 miliar kali massa matahari, dan Sagitarius A*, lubang hitam di pusat Bima Sakti, yang terletak di arah konstelasi Sagitarius, memiliki massa diperkirakan sekitar 4 juta matahari. Ini berarti hanya 0,02 persen dari massa tonjolan pusat Bima Sakti.

Rasio massa lubang hitam yang ditemukan di NGC 1277 dengan galaksi inangnya adalah yang terbesar yang diketahui, sekitar 100 kali lebih besar daripada di galaksi yang khas. Penemuan ini bisa mengarah ke pengenalan kelas baru sistem galaksi - lubang hitam, dan memberikan wawasan tentang bagaimana galaksi terbentuk dan bagaimana lubang hitam berevolusi di dalamnya.

Ukuran lubang hitam umumnya diyakini terkait dengan ukuran wilayah tengah galaksi, karena lubang hitam diperkirakan berkembang bersama-sama dengan galaksi inang mereka, tetapi penemuan lubang hitam ini membuat keyakinan tersebut dipertanyakan. Selain itu, para ilmuwan menemukan lima galaksi yang relatif kecil lainnya yang mungkin memiliki lubang hitam yang sangat besar di wilayah tengah mereka.
Sebuah teori yang diusulkan pada Februari 2013 menunjukkan bahwa lubang hitam di inti NGC 1277 mungkin telah dilontarkan keluar dari galaksi raksasa NGC 1275 (Perseus A), yang terletak di sebelahnya, pasca penggabungan dua galaksi elips besar yang mengakibatkan pembentukan NGC 1275, dan pengusiran lubang hitam adalah hasil dari recoil radiasi gravitasi karena penggabungan dua lubang hitam besar yang mengikuti penggabungan galaksi. Lubang hitam yang dilontarkan kemudian tertangkap oleh galaksi yang lebih kecil, NGC 1277.

Lubang hitam yang terdekat dalam ukuran terletak di galaksi NGC 4486B, sebuah galaksi satelit dari Messier 87 (Virgo A) di konstelasi Virgo. Ia memiliki 11 persen dari massa tonjolan pusat galaksi inangnya.

NGC 1277 hanya memiliki bintang-bintang tua di dalamnya. Bintang-bintang termuda di galaksi itu berusia 8 miliar tahun, hampir dua kali usia Matahari kita.

Share:
Click to learn more...
close
close
Vivian.Pimtha. Powered by Blogger.

Find Us On Facebook

Random Posts

Social Share

Flickr

Sponsor

Agen Togel Online Image may contain: outdoor

Recent Comments

Contributors

Popular Posts

Popular Posts

Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya Agent togel Singapore online terpercaya , bandar togel, agen togel, judi online, buku mimpi, togel singapore, togel sidney, togel sydney, togel sabang, togel hongkong, togel johor, agen togel singapore, agen togel online, agen togel terpercaya

Unordered List

Pages

Theme Support